Energi Juang News,Jakarta- Hubungan antara Indonesia dan Singapura selalu berulang dalam siklus musiman yang unik, memicu adu klaim jenaka yang melibatkan dua elemen alam utama asap kebakaran hutan (karhutla) dan pasokan gas bumi.
Setiap kali musim kemarau tiba dan indeks standar polutan (PSI) di Singapura melonjak hingga membuat gedung Marina Bay Sands terlihat seperti hilang ditelan kabin mistis, protes resmi segera dilayangkan.
Menanggapi protes Pemerintah Indonesia dijawab dengan gaya santai dan sesekali mengingatkan tetangganya. “Anda menikmati udara segar dari hutan kami selama sebelas bulan, mengapa baru batuk-batuk kecil di bulan kedua belas langsung komplain?”
Singapura menuntut aksi cepat pemadaman, sementara Indonesia meminta Singapura untuk ikut berdoa meminta hujan, sebuah solusi teologis yang tidak ada di buku panduan tata kota modern Singapura.
Balasan Menohok Lewat Katup Pipa Gas
Namun, jangan kira Indonesia hanya bisa pasrah dituduh lambat. Begitu Singapura mulai terlalu vokal memprotes masalah asap, Jakarta punya kartu as yang siap diputar di meja makan kedaulatan katup pipa gas bumi.
Ketika Singapura dengan tegas meminta Indonesia bertanggung jawab atas kualitas udara mereka, giliran pemerintah Indonesia yang berdiri tegak di depan mikrofon sambil memegang tuas kendali energi.
Indonesia mengingatkan dengan penuh ketegasan bahwa Singapura bisa menyala karena adanya aliran gas bumi yang dipompa langsung dari perut bumi Nusantara.
Pada akhirnya adu klaim ini menjadi drama komedi geopolitik yang setara, kenapa tidak saling memahami dan saling menjaga?
Singapura tidak bisa terlalu keras mendikte Indonesia soal penanganan karhutla karena mereka tahu, jika Indonesia “ngambek” dan menutup keran gas untuk dialihkan ke kebutuhan domestik, Singapura harus bersiap menyalakan lilin.
Sebaliknya, Indonesia juga tidak bisa membiarkan asap terus mengepul, sebab bagaimanapun juga, Singapura adalah investor terbesar yang memutarkan roda ekonomi di Batam dan sekitarnya.
Redaksi Energi Juang News