Senin, Mei 25, 2026
spot_img
Beranda blog Halaman 12

Pengamat Sosial Hizkia Darmayana: Fitur Eksklusif Instagram, Relasi Dikomersialisasi dan Fans jadi Komoditi

Jakarta, Energi Juang News- Pengamat Sosial Hizkia Darmayana menilai fenomena fitur eksklusif para selebritis di media sosial Instagram merupakan gejala baru dari transformasi media sosial menjadi ruang ekonomi digital berbasis kedekatan emosional.

Menurutnya, fitur-fitur eksklusif seperti konten khusus pelanggan, “Close Friends” berbayar, hingga layanan langganan premium menunjukkan bahwa relasi antara publik dan selebritis kini semakin dikomersialisasi.

Tenaga Ahli Anggota DPR RI itu menyatakan, fenomena tersebut dapat dipahami sebagai bentuk perkembangan ekonomi kreator (creator economy) yang memberi peluang bagi figur publik untuk memperoleh penghasilan langsung dari pengikut mereka tanpa bergantung sepenuhnya pada iklan dan sponsor. Instagram sendiri diketahui tengah mengembangkan layanan premium dan fitur langganan eksklusif bagi kreator serta pengguna.

“Fenomena ini menunjukkan media sosial telah berkembang dari sekadar ruang interaksi menjadi ruang ekonomi atensi. Selebritis tidak lagi hanya mendapat uang dari brand atau korporasi, kini mereka juga mencari uang dari fans atau penggemarnya,” ujar Hizkia ketika diwawancarai oleh jaringan televisi swasta nasional, baru-baru ini.

Ia mengatakan, dalam perspektif teori ekonomi politik media yang dikembangkan Vincent Mosco, media digital saat ini bekerja dengan logika komodifikasi. Bukan hanya konten yang menjadi komoditas, tetapi juga hubungan sosial, perhatian publik, dan rasa kedekatan emosional antara penggemar dengan tokoh publik.

“Maknanya, fans pun menjadi komoditi melalui fitur eksklusif Instagram ini,” ujarnya.

Hizkia pun mengingatkan terdapat sisi kritis dari fenomena tersebut. Ia menilai eksklusivitas digital berpotensi memperlebar kesenjangan sosial di ruang virtual, di mana akses terhadap interaksi personal dengan figur publik menjadi sesuatu yang harus dibeli.

“Ketika akses terhadap perhatian selebritis hanya diberikan kepada mereka yang mampu membayar, media sosial perlahan bergerak dari ruang publik digital menuju ruang privat berbayar. Ini bisa melahirkan stratifikasi sosial baru di dunia maya,” katanya.

Hizkia mengaitkan fenomena tersebut dengan teori simulakra dari Jean Baudrillard yang menyebut masyarakat modern semakin hidup dalam realitas semu. Menurutnya, fitur eksklusif kerap menciptakan ilusi kedekatan antara selebritis dan penggemar, padahal relasi tersebut tetap bersifat transaksional dan dikendalikan algoritma platform.

Karena itu, Hizkia menilai masyarakat perlu tetap bersikap kritis terhadap berbagai fitur eksklusif di media sosial. Menurutnya, tidak semua bentuk kedekatan digital merupakan hubungan sosial yang autentik.

“Media sosial memang memberi ruang kreativitas dan peluang ekonomi, tetapi publik juga harus sadar bahwa algoritma bekerja untuk mengubah perhatian manusia menjadi keuntungan ekonomi,” tutup Hizkia.

 

Redaksi Energi Juang News

AI, Deepfake, dan Penistaan Martabat Manusia

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menghadirkan banyak manfaat bagi kehidupan manusia. AI membantu efisiensi pekerjaan, mempercepat riset, memperluas akses pendidikan, hingga memudahkan komunikasi sosial.

Namun, di balik manfaat tersebut, teknologi juga menghadirkan ancaman serius ketika digunakan tanpa etika dan empati. Salah satu ancaman paling nyata adalah penggunaan AI sebagai instrumen penistaan manusia.

Kasus yang melibatkan mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Tanjungpura berinisial RY menjadi contoh konkret bagaimana teknologi dapat berubah menjadi alat kekerasan psikologis. Dengan memanfaatkan teknologi AI/deepfake, pelaku diduga mengedit foto teman-temannya sesama mahasiswa menjadi gambar vulgar.

Tindakan tersebut bukan sekadar pelanggaran moral atau kenakalan digital biasa, melainkan bentuk perendahan martabat manusia yang memanfaatkan kecanggihan teknologi.

Fenomena deepfake menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan kematangan karakter manusia. Deepfake pada dasarnya merupakan teknologi berbasis AI yang memungkinkan manipulasi audio maupun visual sehingga tampak autentik.

Dalam perspektif teori technological determinism dari Marshall McLuhan, teknologi memang membentuk cara manusia berinteraksi dan memandang realitas. Namun, teori tersebut juga mengandung peringatan bahwa teknologi dapat mengubah relasi sosial secara destruktif apabila tidak diimbangi kesadaran etis.

Dalam konteks ini, penggunaan AI untuk membuat konten vulgar berbasis wajah orang lain merupakan bentuk objektifikasi manusia. Filsuf Immanuel Kant sejak lama menegaskan bahwa manusia harus diperlakukan sebagai tujuan, bukan sekadar alat.

Ketika wajah seseorang dipakai tanpa persetujuan untuk kepentingan fantasi, hiburan, atau pelecehan, maka yang terjadi adalah penghilangan kemanusiaan individu tersebut. Korban tidak lagi dipandang sebagai subjek bermartabat, melainkan objek manipulasi digital.

Lebih jauh, tindakan seperti itu juga dapat dikategorikan sebagai kekerasan berbasis gender secara digital (gender-based online violence). Dalam kajian sosiologi digital, kekerasan tidak lagi selalu hadir dalam bentuk fisik. Penyebaran gambar manipulatif, penghinaan visual, hingga eksploitasi tubuh melalui rekayasa AI dapat memunculkan trauma psikologis mendalam, rasa malu sosial, kecemasan, bahkan kerusakan reputasi korban dalam jangka panjang.

Karena itu, kasus di lingkungan Untan tersebut harus menjadi momentum nasional untuk memperkuat pendidikan etika digital dan etika AI. Negara tidak boleh hanya terpukau pada narasi transformasi digital, tetapi juga harus serius membangun kesadaran moral masyarakat dalam menggunakan teknologi.

Sebab, teknologi pada dasarnya bersifat netral; manusialah yang menentukan apakah ia menjadi alat kemajuan atau alat penindasan.

Pendidikan etika AI perlu dimulai sejak dini, termasuk di sekolah dan perguruan tinggi. Mahasiswa yang memiliki akses tinggi terhadap teknologi justru harus menjadi kelompok paling sadar terhadap batas-batas moral penggunaan AI. Literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan kemampuan menggunakan aplikasi, tetapi juga harus menanamkan nilai empati, tanggung jawab, privasi, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Pemikiran filsuf teknologi Jacques Ellul relevan dalam konteks ini. Ellul mengingatkan bahwa masyarakat modern sering kali terjebak pada pemujaan terhadap efisiensi teknologi, sambil melupakan dimensi kemanusiaan. Akibatnya, teknologi berkembang jauh lebih cepat dibanding kesiapan moral penggunanya. Kondisi inilah yang terlihat dalam penyalahgunaan deepfake: kemampuan teknologinya tinggi, tetapi kedewasaan etikanya rendah.

Negara juga perlu memperkuat regulasi terkait penyalahgunaan AI dan manipulasi digital. Hukum harus mampu memberikan perlindungan terhadap korban sekaligus efek jera bagi pelaku. Sebab, tanpa regulasi yang tegas, teknologi deepfake berpotensi menjadi alat baru untuk pelecehan seksual, pemerasan, fitnah politik, hingga pembunuhan karakter.

Namun demikian, pendekatan hukum saja tidak cukup. Penanganan persoalan ini harus disertai pembangunan budaya digital yang sehat. Kampus, keluarga, media sosial, dan komunitas masyarakat harus aktif menanamkan kesadaran bahwa di balik setiap foto dan identitas digital terdapat manusia nyata dengan harga diri dan hak untuk dihormati.

Kemajuan AI memang tidak bisa dihentikan. Dunia akan terus bergerak menuju era teknologi yang semakin kompleks dan canggih. Tetapi satu hal yang tidak boleh hilang adalah kemanusiaan itu sendiri.

Teknologi tanpa etika akan melahirkan penistaan. AI tanpa empati dapat berubah menjadi alat kekerasan yang menghancurkan martabat manusia secara sistematis.

Karena itu, kasus deepfake di lingkungan mahasiswa Untan harus dibaca sebagai alarm sosial. Bangsa ini tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas secara digital, tetapi juga generasi yang memiliki karakter, empati, dan tanggung jawab moral.

Sebab pada akhirnya, ukuran kemajuan peradaban bukan terletak pada seberapa canggih teknologinya, melainkan seberapa manusiawi cara teknologi itu digunakan.

Oleh Hizkia Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)

Redaksi Energi Juang News

Misteri Goa Jepang Klungkung yang Kini Jadi Ruang Mati

Gua Jepang
Gua Jepang

Energi Juang News,Bali- Pada awal 2026, hujan turun tanpa jeda di sepanjang jalan raya penghubung Klungkung menuju Gianyar. Di balik kabut tipis yang menggantung, kawasan wisata bersejarah di Desa Banjarangkan itu tampak seperti tempat yang dilupakan waktu. Gazebo lapuk dipenuhi lumut, taman bermain anak berkarat, dan lampu penerangan yang mati membuat suasana terasa mencekam bahkan sejak matahari belum tenggelam. Warga sekitar mulai enggan melintas saat malam tiba karena banyak kejadian aneh yang sulit dijelaskan dengan logika.

Made Ananta, salah satu warga yang tinggal tidak jauh dari lokasi, masih mengingat bagaimana kawasan itu dulu sempat ramai pengunjung. Namun semuanya berubah perlahan sejak wisatawan mulai meninggalkan tempat tersebut. “Sekarang kalau malam sepi sekali. Kadang cuma terdengar suara sungai dan angin dari tebing,” ujar Ananta sambil menatap mulut gua yang gelap. Matanya tampak ragu ketika diminta menceritakan kejadian-kejadian aneh di sana.

Konon, belasan lorong yang ada di dalam kawasan itu dibangun tentara Jepang sebagai tempat persembunyian sekaligus titik penyergapan tentara Sekutu pada masa perang. Dari seluruh lorong, hanya dua gua yang tidak saling terhubung. Menurut cerita orang-orang tua di desa, banyak tentara tewas mengenaskan di sekitar Sungai Tukad Bubuh. Darah disebut pernah mengalir hingga ke tepian sungai saat pertempuran berlangsung tanpa ampun.

“Dulu ada pengendara motor jatuh tepat di tikungan itu,” kata seorang pedagang warung bernama Wayan. Ia menunjuk jalan berkelok yang berada beberapa meter dari lokasi gua. “Katanya dia lihat perempuan nyebrang tiba-tiba. Pas direm, tidak ada siapa-siapa.” Wayan mengaku kejadian seperti itu bukan sekali dua kali terjadi. Banyak pengendara mengalami kecelakaan setelah melihat sosok misterius muncul mendadak di tengah jalan gelap.

Malam itu, seorang pemuda bernama Bima nekat masuk ke dalam gua bersama dua temannya demi membuat konten horor. Mereka membawa senter kecil dan kamera ponsel. Begitu beberapa langkah masuk ke lorong sempit, hawa dingin langsung menusuk kulit. Dinding gua basah dan berbau tanah lembap. Tidak ada suara selain tetesan air yang jatuh perlahan dari langit-langit batu.

Bima menghentikan langkah. Di kejauhan terdengar bunyi sepatu berat seperti tentara sedang berjalan perlahan di lorong gelap. Suara itu semakin dekat, namun tidak terlihat siapa pun. Senter mereka tiba-tiba berkedip. Nafas ketiganya memburu cepat ketika terdengar suara lirih menyerupai rintihan kesakitan dari balik dinding batu. Seperti suara suara jeritan korban penyiksaan yang sangat pedih. Suara tulang yang dipatahkan beriringan dengan jeritan memaksa mereka meninggalkan tempat itu.

Mereka berlari menuju pintu keluar sambil terus mendengar gema langkah mengikuti dari belakang. Seolah suara derap langkah itu memburu mereka. Saat hampir tiba di mulut gua, salah satu kamera ponsel jatuh dan merekam sesaat bayangan hitam berdiri tegak menyerupai tentara berseragam lusuh. Wajahnya samar, tetapi matanya tampak putih pucat menyeramkan menatap lurus ke arah kamera sebelum layar mendadak mati total.

Keesokan harinya, rekaman itu menyebar di media sosial warga sekitar. Banyak orang percaya sosok tersebut adalah arwah tentara yang dahulu tewas dalam penyergapan berdarah di kawasan itu. Seorang tetua desa bahkan mengatakan bahwa roh-roh penasaran masih berkeliaran karena jasad mereka tidak pernah dimakamkan dengan layak. “Mereka seperti menjaga tempat itu,” katanya pelan.

Meski pemerintah daerah masih berupaya memelihara kawasan tersebut, suasana menyeramkan di sekitar lokasi membuat wisatawan enggan datang. Saat malam tiba, jalanan yang minim penerangan berubah sunyi dan hanya diterangi cahaya bulan yang menembus pepohonan. Tidak sedikit warga memilih memutar arah daripada melewati kawasan itu karena takut sendirian.

Kini, tempat yang dulu menjadi saksi sejarah perang berubah menjadi ruang mati yang dipenuhi cerita mistis. Banyak orang datang karena penasaran, tetapi tidak semua berani kembali setelah merasakan sendiri hawa dingin dan bisikan aneh dari dalam lorong gelapnya. Sebab bagi warga Banjarangkan, ada sesuatu di sana yang belum benar-benar pergi.

Redaksi Energi Juang News

Aktris Scarlett Johansson Ikut Berperan dalam “The Batman: Part II”

New York, Energi Juang News-Aktris Scarlett Johansson ikut berperan dalam film “The Batman: Part II” arahan Sutradara Matt Reeves.

Dalam unggahan gambar dalam format GIF di platform X pada 14 Mei 2026 yang memperlihatkan wajah Johansson, dia menyematkan tulisan, “Next exit, Gotham… Welcome.”

Menurut siaran Variety pada Kamis (14/5), ​​​​​​​Reeves juga menampilkan gambar aktor Sebastian Stan, Charles Dance (“Game of Thrones”), Bryan Tyree Henry (“Joker”), serta Sebastian Koch (“Homeland”) dalam unggahan di platform X untuk menyambut para pemeran dalam film terbarunya.

Keterlibatan Scarlett Johansson dalam film “Batman” berikutnya pertama kali diumumkan pada Desember 2025, sedangkan Sebastian Stan diwartakan sedang dalam tahap negosiasi untuk memerankan Harvey Dent pada bulan berikutnya, Januari.

Proses syuting sekuel Batman dilaksanakan di Inggris Raya.
Aktor Robert Pattinson akan kembali memerankan Bruce Wayne, Colin Farrell menjadi Oz Cobb alias Penguin, Jeffrey Wright berperan sebagai Komisaris James Gordon, dan Andy Serkis memerankan Alfred Pennyworth dalam film tersebut.

Detail cerita film Batman terbaru masih dirahasiakan, tetapi Reeves mengungkapkan bahwa film ini akan lebih banyak mengeksplorasi karakter Bruce Wayne, karena film yang pertama sangat fokus pada Batman.

Reeves menyampaikan bahwa dalam film-film sebelumnya, kisah asal usul seringkali menjadi inti dari latar belakang tokoh Bruce Wayne.

Menurut dia, para penggemar akan melihat pria di balik topeng itu dengan cara yang baru dalam film “The Batman: Part II” yang dijadwalkan ditayangkan di bioskop pada 1 Oktober 2027.

Selain itu, Reeves sebelumnya membagikan teaser Batmobile dengan keterangan “SnowTires”, yang dianggap mengindikasikan latar cerita film.

Redaksi Energi Juang News

Deepfake Digunakan Membuat Foto Tak Senonoh, Ini Kata Komisi I DPR

Deepfake Digunakan Membuat Foto Tak Senonoh, Ini Kata Komisi I DPR

Jakarta, Energi Juang News – Deepfake digunakan membuat foto tak senonoh. Adalah Mahasiswa Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Kalimantan Barat, berinisial RY yang menjadi pelakunya.

Dia mengedit foto teman-temannya menggunakan teknologi deepfake menjadi foto tak senonoh. Komisi I DPR pun menyesalkan kasus deepfake vulgar ini.

“Komisi I DPR RI menyesalkan terjadinya praktik penyalahgunaan teknologi digital yang merendahkan martabat perempuan dan menimbulkan keresahan di masyarakat,” ujar Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Laksono kepada wartawan, Jumat (15/5/2026).

Komdigi Diminta Perkuat Regulasi Deepfake

Menurutnya, tindakan mengedit foto menggunakan teknologi deepfake untuk tujuan yang tidak senonoh merupakan pelanggaran etika dan moral serta berpotensi melanggar hukum. Ruang digital, terangnya, seharusnya menjadi wadah yang sehat untuk inovasi dan kreativitas, bukan arena eksploitasi yang merugikan hak asasi manusia.

“Komisi I DPR RI mendorong Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk segera mengambil langkah konkret dalam memperkuat regulasi, pengawasan, dan literasi digital terkait penggunaan teknologi deepfake,” kata Dave.

Bagi Dave, penting adanya mekanisme deteksi dini, penindakan tegas terhadap pelanggaran, serta edukasi publik agar masyarakat memahami risiko dan dampak dari penyalahgunaan teknologi ini.

“Komisi I DPR RI juga mendukung proses hukum yang sedang berjalan di tingkat kampus maupun aparat penegak hukum, sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku, termasuk UU ITE Nomor 11 Tahun 2008 jo. UU Nomor 19 Tahun 2016. Siapapun yang terbukti melakukan tindakan merugikan dengan teknologi digital harus bertanggung jawab atas konsekuensinya,” imbuhnya.

Dave mengatakan Komisi I DPR RI berkomitmen memperkuat kerja sama lintas sektor dalam menghadapi fenomena deepfake dan teknologi manipulatif lainnya. Dengan regulasi yang jelas, pengawasan yang ketat, serta literasi digital yang masif, bangsa ini dapat menjaga ruang digital tetap aman, sehat, dan berorientasi pada kepentingan rakyat.

Teman Pinjam HP, Foto Tak Senonoh Terbongkar

Sebelumnya, pada Jumat (15/5/2026), salah satu korban berinisial S menceritakan saat itu RY dan teman-temannya angkatan satu jurusannya sedang melakukan praktikum mata kuliah Sistematika Mikroba pekan lalu. Saat itu, teman RY meminjam ponselnya untuk keperluan dokumentasi praktikum.

“Pas kami cek, kami menemukan banyak foto tidak senonoh yang pelaku sudah edit,” katanya. Namun, mereka justru menemukan banyak foto perempuan yang mereka kenal di dalam ponsel tersebut.

“Pas kami cek, kami menemukan banyak foto tidak senonoh yang pelaku sudah edit,” katanya.

Beberapa hari kemudian, kasus tersebut akhirnya menyebar di media sosial dan grup percakapan mahasiswa. S mengaku terkejut saat bangun tidur dan mendapati grup percakapannya ramai membahas dugaan deepfake vulgar tersebut.

S mengungkap bahwa korbannya rata-rata adalah teman dari RY, termasuk teman SMA dan teman kuliah satu jurusan dan satu angkatan. Bahkan ada editan AI yang memperlihatkan pacar RY seolah sedang berciuman dengan pria lain.

Redaksi Energi Juang News

Dugaan Manipulasi Psikologis terhadap Anak di Tangsel, Komnas Perempuan Bersuara

Tangerang Selatan, Energi Juang News- Dugaan manipulasi psikologis terhadap anak atau child grooming oleh kepala sekolah kepada siswi di salah satu sekolah menengah kejuruan (SMK) swasta di Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel), viral di media sosial.

Komnas Perempuan menyatakan kasus child grooming masuk tindak pidana kekerasan seksual (TPKS).

“Kasus dengan pelaku Kepala Sekolah dan korbannya seorang siswi yang menjadi muridnya tersebut jelas sekali merupakan salah satu bentuk tindak pidana kekerasan seksual. Dalam hal ini, mengacu pada UU TPKS pasal 12, pelaku menyalahgunakan kedudukannya sebagai kepala sekolah dengan wewenang yang seharusnya melindungi dan menghentikan berbagai bentuk kekerasan seksual terhadap muridnya tapi justru dia menjadi pelakunya,” ujar Ketua Komnas Perempuan Maria Ulfah Anshor kepada wartawan, Sabtu (16/5/2026).

Menurutnya, kasus ini tak hanya perlu diselesaikan di sekolah, melainkan juga perlu dibawa ke ranah hukum. “Tindak pidana kekerasan seksual, tidak bisa diselesaikan hanya di internal pihak sekolah, bahkan secara hukum pihak sekolah wajib melaporkan pelaku kepada polisi,” tutur Maria.

Maria mengatakan kepercayaan yang diberikan oleh orangtua murid malah dikhianati pelaku. Pelaku, jelasnya, malah menyalagunakan jabatan Kepsek untuk kepentingan pribadi.

“Perbawa yang dimilikinya sebagai kekuatan dan kewibawaannya disalahgunakan untuk kepentingan seksualnya, dan dalam relasi kuasa yang timpang dipastikan dilakukan dengan tipu muslihat atau hubungan keadaan yang memanfaatkan kerentanan, ketidaksetaraan, ketidakberdayaan, dan ketergantungan murid kepadanya,” sambungnya.

Diketahui, dalam unggahan yang viral, sejumlah akun anonim membagikan cerita dan pengakuan terkait perilaku di lingkungan sekolah tersebut. Salah satu unggahan menyinggung pendekatan kepala sekolah kepada siswi tertentu.

Kepala sekolah disebut membuat pola pendekatan kepada siswi yang kurang mendapat perhatian dari ayah atau fatherless. Peristiwa itu disebut sudah terjadi berkali-kali.

Sebagai informasi, Komnas Perempuan menyebut child grooming merupakan bentuk kekerasan berbasis gender yang menyasar anak, terutama perempuan, melalui relasi kuasa yang timpang, manipulasi emosional, dan normalisasi perilaku seksual.

Pola child grooming umumnya muncul melalui strategi pelaku yang memosisikan diri sebagai teman dekat dan pendengar, memberikan hadiah serta validasi berlebihan, melakukan normalisasi seksual secara bertahap, meminta relasi dirahasiakan untuk mengisolasi anak dari lingkungan pendukung, memanipulasi rasa bersalah dan takut, hingga berujung pada ancaman dan pemerasan seksual agar korban terus menuruti kehendaknya.

Pihak sekolah mengambil langkah tegas. Pihak sekolah menonaktifkan kepala sekolah tersebut.

“Yayasan bersama manajemen sekolah telah mengambil langkah-langkah responsif. Penonaktifan jabatan dilakukan demi menjunjung tinggi transparansi dan kelancaran proses investigasi. Saat ini yang bersangkutan telah dinonaktifkan sementara dari jabatannya hingga proses pemeriksaan internal dinyatakan selesai sepenuhnya,” tulis akun Instagram @letrispamulangofficial seperti dilihat, Jumat (15/5/2026).

Yayasan kemudian membentuk tim untuk mendalami fakta. Pihak sekolah berkomitmen menyelesaikan persoalan secara adil dan sesuai aturan hukum.

“Fokus utama kami saat ini adalah memastikan lingkungan belajar tetap aman dan kondusif bagi seluruh siswa-siswi,” tulisnya.

Redaksi Energi Juang News

Peresmian Museum Ibu Marsinah di Nganjuk dihadiri Prabowo

Nganjuk, Energi Juang News- Peresmian Museum Ibu Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur dihadiri Presiden Prabowo Subianto. Pada Sabtu (16/5/2026), Prabowo tiba sekitar pukul 08.58 WIB. Prabowo terlihat mengenakan pakaian safari dengan topi biru.

Prabowo terlihat menaiki mobil Maung. Dia terlihat menyalami masyarakat yang menunggunya dengan antusias. Masyarakat tampak menyanyikan yel-yel untuk Prabowo. Saat turun dari mobil, Prabowo disambut oleh Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) sekaligus inisiator pembangunan museum, Andi Gani Nena Wea, serta Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi.

Prabowo kemudian terlihat memasuki mesuem. Andi Gani terlihat menjelaskan detail Museum Ibu Marsinah kepada Prabowo.

“Terima kasih, Pak, atas nama buruh Indonesia, Pak. SPSI mengapresiasi membangun museum ini tanpa APBN, Pak. Jadi iuran buruh, bersama Ketua Dewan Penasihat kami, Pak, Pak Kapolri, lalu bersama Pak Fauzi dan keluarga besar Ibu Marsinah,” kata Andi Gani.

“Kita bangun dalam waktu hanya 4 bulan, Bapak. Kita bangun museum, sekaligus ada rumah singgah, Pak, untuk peziarah dan kita gratiskan untuk peziarah, Pak,” sambungnya.

Andi Gani tampak menjelaskan baju terakhir yang dipakai Marsinah yang dipajang di museum terebut. Dia mengatakan Marsinah dulunya merupakan anggota SPSI.

“Lalu di sini, Pak, kita bisa lihat sejak peristiwa, kita sebagai buruh bisa di.., Nah, bisa lihat, Pak, sejarah. Waktu di koran media-media semua. Bisa kita lihat. Ini, Pak. Jadi beliau anak kedua, Pak. Ibu Marsinah yang pertama, Bu Wijayati yang ketiga,” ujarnya.

Usai melihat-lihat, Prabowo kemudian memasuki ruang acara. Prabowo akan meresmikan Museum Ibu Marsinah.

Kakak kandung Marsinah, Marsini dan adiknya Wijiati hadir langsung menyaksikan peresmian museum tanda kehormatan untuk Marsinah. Selain museum, di lokasi yang sama juga diresmikan Rumah Singgah.

Sejumlah tokoh terlihat hadir dalam peresmian hari ini, seperti Kapolri Jenderal Liatyo Sigit Prabowo, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa hingga Sekjen Konfederasi Serikat Buruh Internasional (ITUC) Shoya Yoshida.

Hadir juga sejumlah menteri Kabinet Merah Putih diantaranya Menko Polkam Djamari Chaniago, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, Menteri Hukum Supratman Andi Agtas hingga Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat.

Terlihat pula Ketua MPR RI Ahmad Muzani dan jajaran pejabat Polri. Ada juga jajaran Desk Ketenagakerjaan Bareskrim Polri.

 

Redaksi Energi Juang News

Westlife 25 Tahun dan Konser di GBK, Pembuktian Boyband Manis Masih Ditunggu

Westlife
Westlife

Energi Juang News,Jakarta- Ada satu hal yang menarik dari musik pop era akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Banyak boyband datang dengan histeria luar biasa, lalu perlahan hilang ditelan zaman. Tapi ada juga yang tetap bertahan, bukan karena paling keren atau paling eksperimental, melainkan karena tahu caranya tinggal di hati penggemar.

Westlife 25 tahun bukan sekadar angka perjalanan karier. Ini adalah bukti bahwa musik pop yang sederhana, romantis, dan terdengar “aman” ternyata punya umur yang jauh lebih panjang daripada yang dulu diperkirakan banyak orang.

Saat pertama muncul, lima pemuda asal Irlandia ini sebenarnya tidak membawa revolusi musik apa pun. Mereka tampil rapi, bersih, penuh senyum, lalu menyanyikan lagu-lagu cinta dengan lirik yang mudah dihafal. Formula yang terdengar sederhana itu justru jadi senjata utama.

Nicky Byrne, Kian Egan, Mark Feehily, Shane Filan, dan Brian McFadden datang di masa keemasan boyband dunia. Saat Backstreet Boys, NSync, hingga Boyzone berebut dominasi pasar pop, Westlife pelan-pelan menyelinap jadi favorit baru.

Dan uniknya, mereka tidak pernah terlihat memaksa menjadi “band paling keren”.

Lagu-lagu seperti Swear It Again, Flying Without Wings, My Love, sampai Fool Again terasa seperti soundtrack wajib generasi yang tumbuh di era CD bajakan, radio request, dan SMS berantai. Westlife menjual romantisme dengan cara yang sangat mudah diterima telinga.

Sebelum bernama Westlife, grup ini sempat memakai nama Six as One. Formasi awal bahkan dianggap terlalu berantakan oleh Simon Cowell. Kritik pedas itu memaksa mereka merombak personel hingga akhirnya menemukan susunan yang kini dikenal dunia.

Album demi album dirilis hampir tiap tahun. Tiket konser habis jadi hal biasa. Inggris dan Irlandia berhasil mereka kuasai. Tetapi ada satu pasar yang gagal mereka taklukkan: Amerika Serikat.

Industri musik AS sejak dulu terkenal sulit ditembus musisi luar. Westlife memang sempat mencuri perhatian lewat Swear It Again, tapi selebihnya mereka tak pernah benar-benar meledak di sana.

Bahkan, ada kisah menarik ketika Christina Aguilera disebut pernah menolak tawaran kolaborasi dengan mereka. Hubungan keduanya sempat memanas setelah komentar saling sindir muncul ke publik.

Tak cuma itu, beberapa musisi lain juga pernah meremehkan Westlife. Mereka dianggap terlalu “manis”, terlalu aman, bahkan dinilai minim musikalitas karena sering membawakan ulang lagu lama.

Westlife mungkin bukan band yang revolusioner. Mereka bukan pencipta tren musik baru. Namun mereka paham satu hal penting dalam industri hiburan: membuat orang merasa nyaman.

Cobaan terbesar datang ketika Brian McFadden hengkang pada 2004. Banyak yang mengira Westlife selesai. Tetapi empat personel tersisa justru bangkit lewat You Raise Me Up, lagu yang kemudian menjadi anthem baru mereka.

Karena sejak saat itu Westlife berubah. Mereka bukan lagi sekadar boyband remaja. Mereka tumbuh bersama penggemarnya yang juga mulai dewasa.

Pada 2011, mereka resmi bubar. Saat itu rasanya seperti menutup satu era besar musik pop dunia. Tetapi seperti banyak kisah nostalgia lainnya, Westlife ternyata belum benar-benar selesai. Dan menariknya, sambutan publik tetap luar biasa hangat.

Kini, lewat rangkaian “Westlife 25: The Anniversary World Tour”, mereka kembali membuktikan bahwa loyalitas penggemar adalah aset paling mahal dalam musik pop. Indonesia pun masuk daftar penting tur Asia mereka.

Konser di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 23 Januari 2027 nanti kemungkinan bukan cuma konser biasa. Ini akan jadi ajang nostalgia massal bagi generasi yang tumbuh bersama lagu-lagu Westlife.

Redaksi energi Juang News

Pemotor yang Melindas Mahasiswi Unpad Ditangkap Polisi

Bandung, Energi Juang News- Pemotor yang melindas mahasiswi Unpad berinisial GC ditangkap polisi. Pelaku diringkus di wilayah Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat (Jabar).

“Terduga pelaku sudah berhasil kita amankan. Dia ditangkap anggota di wilayah Tanjungsari,” ungkap Kasat Reskrim Polres Sumedang AKP Tanwin Nopiansyah, Sabtu (16/5/2026).

Tanwin mengatakan, saat ini pelaku masih dalam perjalanan menuju Mapolres Sumedang guna menjalani pemeriksaan lanjutan. Penangkapan berlangsung Jumat (15/5/2026) malam.

“Sekarang kita bawa ke Polres terlebih dahulu dan dilakukan pemeriksaan lanjutan,” katanya.

Sebelumnya, insiden tersebut terjadi di sebuah gang kecil yang berada di Desa Hegarmanah, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, pada Selasa (12/5) malam. Detik-detik pemotor tabrak mahasiswi Unpad terekam kamera CCTV hingga akhirnya viral di media sosial.

Berdasarkan rekaman video, tampak mahasiswi tersebut sedang berlari di sebuah gang. Tepat di belakangnya, seorang pria yang mengendarai sepeda motor mengejar korban. Dalam kondisi itu, korban sempat terjatuh dan terduga pelaku terlihat melindasnya dengan sepeda motor.

Redaksi Energi Juang News

Siswa Komponen Cadangan Jalani Latihan Tempur di Bogor

Jakarta, Energi Juang News- Siswa Komponen Cadangan (Komcad) yang terdiri dari aparatur sipil negara (ASN) kementerian, menjalani kegiatan yang merupakan bagian dari program pelatihan ASN untuk menjadi anggota Komcad. Kegiatan itu berwujud latihan simulasi tempur dalam materi Praktik Lapangan Teknik Tempur Dasar, Kamis (15/5).

Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana mengatakan, latihan itu diselenggarakan oleh Wing Pendidikan 300 dan digelar di area latihan lapangan tembak Tigin Priyatna Lanud Atang Sendjaja, Bogor, Jawa Barat.

“Kegiatan praktik lapangan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dasar militer, membangun jiwa korsa, serta menanamkan sikap disiplin, tanggung jawab dan loyalitas sebagai bagian dari Komponen Cadangan Nasional,” kata Nyoman.

Ia menjelaskan, para siswa menjalankan beragam materi terkait teknik dasar tempur seperti pergerakan taktis, teknik perlindungan diri, kerja sama tim, serta tata cara menghadapi situasi di lapangan.

‎Seluruh rangkaian kegiatan itu, lanjut dia, dipandu oleh instruktur dan pelatih profesional guna memastikan materi dapat dipahami para peserta.

Dia melanjutkan, ‎meski dilaksanakan dalam kondisi lapangan yang menantang, para siswa tetap menunjukkan antusiasme dan dedikasi tinggi selama mengikuti latihan.

‎Melalui kegiatan ini, Nyoman berharap seluruh siswa Komcad ASN mampu memiliki kesiapan mental, fisik dan keterampilan dasar yang baik dalam mendukung tugas pertahanan negara.

Redaksi Energi Juang News