Selasa, Maret 3, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaButo Ijo, Hantu Raksasa yang Ditakuti warga Merapi

Buto Ijo, Hantu Raksasa yang Ditakuti warga Merapi

Energi Juang News, Yogyakarta–Di suatu desa kecil di lereng Gunung Merapi, masyarakat masih percaya adanya makhluk halus yang menjadi perantara kekayaan. Salah satu sosok paling ditakuti adalah Buta Ijo. Warga setempat mengaku sering melihat sosok besar berwarna hijau dengan mata menyala merah saat malam Jumat Kliwon. Namun, dalam cerita-cerita warga, tidak semua yang melihatnya bisa selamat. Ada yang menjadi gila, bahkan menghilang tanpa jejak. Meski begitu, kehadiran Buta Ijo tak pernah bisa dibuktikan secara logis, hanya meninggalkan jejak ketakutan yang mendalam.

Konon, Buta Ijo bukan hanya sekadar hantu biasa, melainkan makhluk gaib yang diundang melalui ritual pesugihan. Sosok ini digambarkan sebagai raksasa berkulit hijau lumut dengan kuku panjang melengkung dan aroma anyir darah. Ia berjalan dengan langkah berat, menggetarkan tanah sekitarnya. Orang yang memeliharanya biasanya mengalami peningkatan kekayaan yang tak masuk akal. “Tiba-tiba saja warungnya laku keras, padahal sebelumnya sepi,” ungkap Pak Minto, warga yang tinggal dekat pasar Wage. Namun, semua itu datang dengan harga mahal: nyawa manusia sebagai tumbal. Bila tumbal tidak terpenuhi, sang pemilik pesugihan sendiri yang akan dijemput.

Bulan lalu, seorang warga bernama Pak Suraji mengalami kejadian aneh setelah merenovasi rumahnya secara besar-besaran. Padahal, ia sebelumnya dikenal hidup pas-pasan. “Setiap malam ada suara langkah berat di atap rumahnya,” cerita Bu Rini, tetangganya. Suatu malam, terdengar jeritan dari dalam rumah, dan keesokan paginya, Pak Suraji ditemukan tak sadarkan diri di dapur dengan mata melotot kosong. Sejak itu, tak ada yang berani lewat depan rumahnya jika malam tiba. “Kami yakin itu ulah Buta Ijo.Banyak yang menceritakannya. Katanya ciri ciri. Wanginya menyengat seperti daging busuk, dan ada bekas tapak kaki besar di tanah liat depan rumahnya,” ujar Pak Darto, tetua kampung.

Kisah menyeramkan tentang Buta Ijo bukan hanya mitos kosong, melainkan cerita yang diwariskan turun-temurun. Ada yang mengatakan bahwa Buta Ijo berasal dari kerajaan jin di selatan Jawa, ditugaskan oleh dukun pesugihan sebagai pelayan setia. Tugas utamanya adalah mengambil kekayaan dari orang lain dan memberikannya pada tuannya. Namun, ia juga haus darah. Bila tidak diberi sesaji, terutama tumbal nyawa, Buta Ijo bisa mengamuk dan mengambil anggota keluarga si pemilik pesugihan. Ketakutan inilah yang membuat banyak warga enggan berbicara terlalu dalam, apalagi menyebut nama Buta Ijo saat malam hari.

“Dulu pernah ada orang kaya baru di desa seberang. Tapi anaknya mati tenggelam di sumur,” cerita Pak Waryo sambil menyalakan rokok. “Kata orang-orang, itu tumbal Buta Ijo.” Sosok ini memang terkenal tak pandang bulu. Jika sang pemilik pesugihan lalai, keluarganya sendiri bisa menjadi korban. Karena itulah, ritual-ritual pesugihan ini dijalankan secara disiplin dan penuh ketakutan. Mereka yang melanggar aturan akan dihantui seumur hidup.

Selain fisik menyeramkan, aura Buta Ijo juga sangat kuat. Hewan-hewan akan menghilang, burung berhenti berkicau, dan udara menjadi pengap saat ia hadir. “Saya pernah melihatnya waktu kecil. Badannya setinggi pohon kelapa, dan matanya merah membara. Waktu itu saya langsung pingsan,” ujar Bu Sarti, yang kini berusia 70 tahun. Sosok Buta Ijo membuat desa mereka seolah hidup dalam ketakutan abadi, meskipun zaman sudah semakin modern.

Tak sedikit orang luar desa yang datang dengan niat ingin membuktikan keberadaan hantu pesugihan ini. Namun banyak yang pulang dengan ketakutan, bahkan sakit misterius. Ada seorang mahasiswa dari kota yang katanya ingin meneliti cerita Buta Ijo. Ia bermalam di rumah warga, tapi keesokan harinya ditemukan mengigau tak karuan. “Dia terus bilang ‘mata hijau itu melihatku’ sebelum akhirnya dijemput keluarganya,” kenang Pak Karno, saksi mata kejadian tersebut.

Cerita tentang Buta Ijo menjadi semacam peringatan bagi siapa pun yang tergoda jalan pintas dalam mencari kekayaan. Masyarakat Jawa percaya bahwa kekayaan dari jalan pesugihan tak pernah membawa kebahagiaan sejati. Hanya penderitaan, darah, dan air mata yang akan menjadi gantinya. “Kalau memang mau kaya, kerja keraslah. Jangan pelihara setan,” kata Pak Lurah Seno dengan nada tegas saat pertemuan warga.

Meskipun kisah Buta Ijo sulit dibuktikan secara ilmiah, kekuatan cerita rakyat ini terus hidup dan berkembang. Ia menjadi bagian dari kepercayaan, ketakutan, dan identitas masyarakat pedesaan Jawa. Dengan semua kisah menyeramkan ini, Buta Ijo tetap menjadi simbol bahwa ada harga yang harus dibayar untuk setiap kekayaan instan. Dan harga itu tak pernah murah.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments