Minggu, Maret 8, 2026
spot_img
BerandaOjo LaliCinta Buta Segitiga di Pasar Burung: Dari Boncengan Jadi ke Bui

Cinta Buta Segitiga di Pasar Burung: Dari Boncengan Jadi ke Bui

Energi Juang News, Mojokerto– Siang itu Pasar Burung di kota terasa seperti biasa: burung berkicau, pembeli menawar, dan pedagang warung menakar gula dengan sendok yang sudah pensiun sejak Orde Baru. Dua pemuda desa—Penyok (24) dan Bedul (25) bukan nama sebenarnya datang berboncengan motor. Mereka tampak rukun, seperti lem kanji. Tak ada tanda-tanda badai, apalagi kilat.

Namun, seperti mie instan yang terlihat sederhana tapi bisa bikin kolesterol naik, perjalanan ini menyimpan bumbu. Penyok dan Bedul awalnya hanya ingin urusan lihat lihat burung di pasar. Akan tetapi, di sela-sela kandang dan kicau, ada warung kecil nyempil dengan penjaga bahenol Janda anak satu Minthul(26). Bodi dan senyumnya bekerja seperti Wi-Fi gratis, nyamber kemana saja laki laki yang ngopi diwarungnya.

Penyok sebenarnya punya rasa yang disimpan rapi, seperti uang receh di saku celana jeans. Ia diam-diam hatinya sudah mengantri mengharap Minthul mau dipeloroti olehnya. Padahal semua itu cuma pikirannya saja yang ngeres, padahal namanya warung kopi harus ramah sama pelanggan. Kalo cuma sekedar colak colek, raba raba, dan gombalan sudah biasa Minthul terima.

Namun masalah muncul ketika Bedul entah sadar atau tidak mulai melontarkan gurauan yang terdengar seperti pancingan. Dari candaan ringan berubah jadi sindiran pedas. Ibarat sambal, awalnya satu tetes, lama-lama satu sendok, peedeesss..ssss.

Penyok curiga Bedul dianggap terlalu dekat dengan Minthul. Penyok, yang tadinya santai, mulai merasa seperti charger yang dipakai orang lain: panas, kesal, dan ingin dicabut. Cekcok pun pecah. Kata-kata beradu lebih cepat daripada burung kenari yang kaget. Adu mulut berubah jadi adu fisik. Bedul mendapat luka lebam di wajahnya—oleh-oleh yang tak diinginkan dari pasar.

Bedul pulang dengan kondisi memprihatinkan. Karena lukanya dianggap serius, ia dibawa ke puskesmas lalu dirujuk ke rumah sakit di Mojokerto. Sementara itu, Penyok pulang ke rumah bukan untuk introspeksi atau minum sebotol arah basi yang memabukkan, kucing sekalipun langsung celeng menjilatnya. Setengah sempoyongan ia mengambil sebilah golok. Seorang tetangga kemudian berkata, “Penyok sampai rumah mengambil sebilah golok, menuju ke rumah Bedul.”

Di rumah Bedul sore itu, Penyok datang berteriak-teriak. Golok diacungkan, ancaman dilontarkan, bahkan orang tua Bedul ikut jadi sasaran ancamannya, drama yang seharusnya berhenti di warung. Sayangnya, Bedul tidak ada di rumah.

Tak ketemu Bedul, Penyok merobek jok motor milik Bedul. Ini mungkin dimaksudkan sebagai simbol “aku marah,” tapi yang terbaca warga adalah “tolong panggil aparat.” Warga sekitar yang resah. Tambah lagi, Penyok disebut-sebut mabuk tape padahal fermentasi ketan yang jika berlebihan, mengubah keberanian menjadi kebodohan.

Berisik dan mabuk membuat Penyok akhirnya dilaporkan ke polisi. Malam itu juga, ia diamankan di rumahnya. Cerita yang awalnya seperti komedi romantis desa berubah jadi berita kriminal. Drama asmara Pasar Burung ini menjadi pengingat bahwa emosi tanpa rem itu seperti motor tanpa helm: cepat, nekat, dan berisiko, gubraaak!!.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments