Energi Juang News,Klaten- Misteri Mencekam Dusun Setan di Klaten bermula dari sebuah pelang penunjuk nama dukuh yang berdiri di tepi jalan Desa Tambakan, Kecamatan Jogonalan, Klaten.
Pelang berwarna kuning dengan tulisan hitam itu menyatakan bahwa jalan tersebut memasuki Dusun Setan. Nama yang tak lazim itu membuat banyak orang heran karena berkonotasi dengan makhluk gaib.
“Satpam di Jakarta aja heran waktu lihat KTP saya,” ujar Pak Karso sambil tertawa kecil. “Dia tanya, benar ini alamatnya kok Setan? Saya bilang ya benar, kalau nggak percaya cek kelurahan.” Pak Karso mengaku sering harus menjelaskan ejaan nama dusunnya.
“Bacanya bukan Setan kaya hantu, tapi ‘Setan’ pakai e pepet, kaya bilang ketan,” jelasnya. Kepala Desa Tambakan, Sunarno, juga menegaskan hal serupa. “Betul namanya Setan, tapi bukan berarti hantu. Huruf e-nya pepet,” katanya. Meski begitu, kisah horor Dusun Setan tetap saja berkembang di luar sana.
Banyak orang luar mengaitkan nama itu dengan hal-hal mistis, terlebih ketika malam menyelimuti desa dengan kabut tipis yang menggantung rendah.
Anto (47), warga setempat, mengaku tidak tahu asal-usul pasti nama tersebut. “Awit riyin namanya begitu. Dari leluhur sudah Setan,” ujarnya. Namun ia tak menampik bahwa ada kejadian-kejadian ganjil yang sulit dijelaskan.
“Kadang kalau ronda malam, suka ada suara langkah padahal jalan kosong,” katanya pelan. Seorang warga lain menimpali, “Saya pernah lihat bayangan lewat cepat di dekat sawah, tapi pas dikejar nggak ada siapa-siapa.” Dialog itu terjadi di pos kamling yang juga memiliki pelang bertuliskan Dusun Setan.
Lampu neon berkedip sesekali, menambah kesan angker. Beberapa pemuda memilih diam ketika cerita mulai mengarah ke pengalaman pribadi. “Jangan sembarang ngomong kalau malam,” bisik seorang ibu yang kebetulan lewat.
Menurutnya, ada waktu-waktu tertentu ketika suasana desa terasa lebih berat, terutama menjelang tengah malam hingga dini hari.
Cerita angker Dusun Setan semakin kuat ketika seorang pendatang nekat berjalan sendirian pada malam hari. Ia mengaku mendengar suara tawa lirih di antara pepohonan. “Saya pikir anak-anak bercanda,” katanya.
“Tapi waktu saya lihat, nggak ada siapa pun.” Warga yang mendengar kisah itu hanya mengangguk pelan. “Sudah biasa,” kata Anto. “Kalau dengar jangan ditanggapi.” Teror mistis Dusun Setan tak selalu berupa penampakan, melainkan perasaan diawasi yang datang tiba-tiba.
Beberapa orang mengaku pernah melihat pelang dusun seperti berubah posisi dalam gelap, meski pagi harinya tetap seperti semula. “Mungkin cuma halusinasi,” ujar Pak Karso, meski sorot matanya tak sepenuhnya yakin. Angin malam kembali berembus, membuat pelang kuning itu berderit pelan.
Legenda Dusun Setan Klaten terus hidup dari mulut ke mulut. Meski warga menegaskan bahwa nama itu hanyalah soal ejaan, suasana malam sering kali memberi tafsir berbeda. Hingga kini, tak ada yang benar-benar tahu mengapa nama itu tak pernah diubah.
“Kami sudah biasa,” kata Sunarno. “Yang penting warga rukun.” Namun bagi pendatang, melintasi pelang kuning itu saat malam pekat adalah pengalaman yang tak mudah dilupakan.
Ketika kabut turun dan jalan desa lengang, nama Dusun Setan terasa lebih dari sekadar tulisan—ia menjadi bisikan yang mengikuti langkah, seolah mengingatkan bahwa ada cerita lama yang masih berdiam dalam gelap.
Redaksi Energi Juang News



