Energi Juang News, Jakarta – Seorang anggota Pasukan Khusus Angkatan Darat Amerika Serikat, Gannon Ken Van Dyke terseret kasus hukum setelah diduga memanfaatkan akses informasi sensitif demi keuntungan pribadi. Perkara ini mengungkap potensi kebocoran informasi dalam operasi militer yang seharusnya bersifat rahasia.
Kasus tersebut menjadi sorotan karena melibatkan taruhan daring yang terkait dengan operasi terhadap Nicolas Maduro pada awal tahun ini.
Dugaan Penyalahgunaan Informasi Rahasia
Departemen Kehakiman AS menyebut prajurit itu menggunakan informasi internal untuk memasang taruhan di platform Polymarket. Nilai keuntungan yang diraup mencapai lebih dari US$400.000 atau sekitar Rp6 miliar.
Van Dyke diduga memasang sekitar 13 taruhan yang memprediksi pasukan AS akan memasuki Caracas dan menggulingkan Maduro. Ia disebut mengetahui detail operasi karena terlibat langsung dalam perencanaan dan pelaksanaannya.
Jaksa Agung sementara AS, Todd Blanche, menyatakan terdakwa menyalahgunakan akses terhadap informasi rahasia untuk keuntungan pribadi. Setelah memperoleh keuntungan, sebagian dana disebut dipindahkan ke akun kripto luar negeri sebelum dialihkan ke rekening pialang baru.
Ancaman Hukuman Berat
Jaksa mendakwa Van Dyke dengan pelanggaran penggunaan ilegal informasi rahasia serta penipuan elektronik. Sidang digelar di pengadilan federal Manhattan.
Jika terbukti bersalah atas seluruh dakwaan, ia terancam hukuman hingga 50 tahun penjara.
Blanche menegaskan bahwa personel militer memegang tanggung jawab besar atas informasi sensitif negara. Ia menekankan bahwa penggunaan data rahasia untuk kepentingan pribadi merupakan pelanggaran serius.
Sementara itu, pihak Polymarket menyatakan tidak mentoleransi praktik perdagangan orang dalam. Perusahaan juga mengaku telah bekerja sama dengan penyelidikan yang dilakukan otoritas AS.
Tren Taruhan Sensitif Terkait Kebijakan AS
Kasus ini bukan yang pertama. Sejumlah aktivitas taruhan di pasar prediksi sebelumnya juga terkait langsung dengan kebijakan pemerintah AS.
Awal tahun ini, enam akun Polymarket dilaporkan meraup sekitar US$1,2 juta dari taruhan terkait potensi serangan AS ke Iran pada 28 Februari. Namun, belum ada penangkapan dalam kasus tersebut.
Pada Maret, keuntungan besar juga diperoleh sejumlah trader setelah Donald Trump mengumumkan pembicaraan “sangat produktif” dengan Iran. Pernyataan itu memicu reaksi pasar, termasuk penurunan harga minyak dan penguatan saham.
Selain itu, akun-akun baru dilaporkan memperoleh ratusan ribu dolar dari prediksi tepat terkait gencatan senjata AS-Iran pada 7 April.
Menanggapi fenomena ini, Gedung Putih telah memperingatkan stafnya agar tidak memanfaatkan informasi nonpublik untuk aktivitas di pasar prediksi.
Redaksi Energi Juang News



