Energi Juang News, Jakarta- Kecerdasan buatan (AI) canggih dapat membahayakan umat manusia. Demikian diungkapkan salah satu komisioner Persatuan Bangsa-bangsa (PBB), Volker Turk.
Ia menyerukan pemimpin dunia mengambil tindakan untuk membuat AI yang lebih aman. Volker Turk, dalam pidatonya di depan Dewan Hak Asasi Manusia PBB mengatakan bahwa masyarakat menghadapi ancaman yang tidak pernah terjadi sebelumnya terhadap hak-hak mereka.
“Saya sependapat dengan kekhawatiran para pelaku industri bahwa AI tingkat lanjut dapat menimbulkan risiko eksistensial bagi umat manusia,” kata Turk dalam pidatonya, Rabu (9/9/2026).
“Saya menyerukan di sini, hari ini, upaya habis-habisan untuk menetapkan jaminan yang kuat terkait keselamatan dan keamanan AI, sebelum terlambat,” sambungnya.
Turk tidak menjelaskan lebih lanjut risiko yang dimaksud, tetapi juru bicaranya mengatakan bahwa masalah yang melibatkan sistem AI canggih dapat mengganggu infrastruktur penting dan lembaga demokrasi.
Ia merujuk kepada ‘perilaku pelatihan agen yang berbahaya’ ketika agen milik OpenAI meretas platform AI open-source Hugging Face. Insiden tersebut, kata juru bicara Turk, menandakan kemampuan AI berkembang lebih cepat ketimbang pengamanan yang ada.
Turk juga memperingatkan bahwa hanya segelintir orang yang memiliki kekuasaan hampir tak terbatas atas AI, namun ia tidak menyebutkan nama spesifik. Ia mengatakan akan mengirim surat kepada perusahaan-perusahaan AI, mendesak mereka untuk mengambil langkah guna mengurangi risiko yang berada dalam kendali mereka.
“Setidaknya kita membutuhkan negara-negara yang hosting AI dan yang terlibat dalam rantai pasoknya untuk bersatu mengikuti aturan yang disepakati,” ujar Turk.
Dalam pidatonya yang panjang, Turk juga menyerukan pelarangan terhadap penggunaan senjata di medan perang tanpa kendali manusia. Ia merujuk kepada serangan Rusia di Ukraina menggunakan drone otonom yang menewaskan tiga orang pada bulan Agustus.
“Saya mendukung seruan untuk segera melarang senjata yang dapat merenggut nyawa tanpa campur tangan manusia,” ujar Turk.
Redaksi Energi Juang News




