Energi Juang News, Jakarta –Kantor Berita Tasnim, seperti dikutip Pars Today Minggu (13/9/2026) melaporkan, akibat berlanjutnya serangan Yaman (Houthi) terhadap Arab Saudi, penutupan pipa minyak Timur-Barat Arab Saudi telah menimbulkan kekhawatiran tentang gangguan pasokan minyak mentah global.
Menurut laporan Al-Arabi Al-Jadeed, penutupan jalur vital ini terjadi pada saat Arab Saudi bergantung padanya untuk ekspor minyaknya, setelah gangguan di Selat Hormuz Hal ini mengancam ekspor minyak Saudi dan meningkatkan tekanan pada harga minyak dan bahan bakar di pasar global.
Menurut pengumuman Kementerian Luar Negeri Arab Saudi, mereka menutup pipa tersebut sebagai upaya pencegahan setelah laporan tentang serangan drone terhadap pipa tersebut. Pihak Saudi mengklaim bahwa serangan yang menargetkan pipa ini berasal dari suatu tempat di dalam wilayah Irak.
Kantor Berita Bloomberg, mengutip Gregory Barrow, analis geopolitik di Eurasia Group, sebuah perusahaan konsultan risiko politik dan geopolitik, melaporkan bahwa situasi ini menunjukkan kerentanan fasilitas energi di kawasan, termasuk Arab Saudi.
Pipa Timur-Barat yang akibat perang di kawasan, adalah jalur vital untuk ekspor minyak Arab Saudi. Kapasitasnya sekitar tujuh juta barel per hari. Pada awal tahun, setelah lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz hampir terhenti, mencapai kapasitas operasional penuhnya.
Ekspor minyak Arab Saudi pada bulan Agustus turun menjadi sekitar tiga juta barel per hari, setelah mulai blokade laut Houthi (Ansarullah) terhadap Arab Saudi. Jumlah ini merupakan yang terendah sejak dimulainya ekor tertinggi pada awal tahun 2017.
Kekhawatiran akan pasokan energi dunia meningkat lagi menyusul serangan terbaru di Arab Saudi dan insiden terhadap kapal di kawasan Teluk. Perkembangan ini terjadi menyusul serangan terhadap jalur pipa minyak Saudi serta kemajuan kelompok Houthi di Yaman, yang berpotensi memperburuk gangguan pasokan energi global akibat perang.
Dilansir Reuters, para pedagang minyak memperkirakan harga kembali naik saat pasar dibuka pada Senin (14/9/2026). Pasalnya, perkembangan sepanjang akhir pekan tersebut mengancam pasokan dari Arab Saudi, negara eksportir minyak terbesar dunia.
Harga minyak mentah Brent pada hari Kamis, di tengah kekhawatiran tentang dampak eskalasi ketegangan terhadap sumber daya energi di kawasan, meningkat menjadi hampir 110 dolar per barel.




