Energi Juang News, Jakarta – “Saya sadar usia saya sudah tidak muda lagi. Misi saya sebagai manusia adalah semakin dewasa sudah seharusnya semakin bisa lebih religius lagi, terutama dalam menghadapi ajal. Semoga apa yang saya lakukan di dunia ini bisa bermanfaat bagi banyak orang. Khususnya karya-karya yang saya ciptakan.”
Ucapan Muhammad Guruh Irianto Soekarnoputra ini diucapkan 12 tahun silam ketika merayakn ulang tahun ke-61. Kutipan yang ditulis pengamat musik almarhum Denny Sakrie tersebut menunjukkan sisi religiositas dan pemahaman mas Guruh, panggilan akrabnya, atas makna hidup dan kehidupan.
Sekjen PDI-Perjuangan Hasto Kristiyanto mengenang sosok Guruh sebagai seorang seniman dan politisi. “Keluarga besar PDI Perjuangan sungguh kehilangan Mas Guruh Soekarnoputra. Beliau dikenang sebagai seniman besar, sosok Marheinis, dan Pejuang Partai. Kita berikan penghormatan terbaik bagi Almarhum dengan Protokol Partai,” kata Hasto,
Guruh, putra bungsu dari lima bersaudara pasangan Soekarno dan Fatmawati itu seorang politisi dan pernah menjadi anggota DPR 1992-1997 dari Fraksi PDI-P. Guruh juga adik kandung Ketua Umum DPP PDIP dan Presiden Kelima RI, Megawati Soekarnoputri.
Jejak Guruh di Dunia Hiburan
Selain politisi, Guruh memiliki jejak panjang dan kontribusi besar untuk dunia hiburan Tanah Air. Sosok Guruh Sukarno Putra memang tak bisa dilepaskan dengan karya-karya seni besar. Majalah Tempo edisi 13 Januari 1979 sampulnya menampilkan sosok Guruh Sukarno Putra sedang mengacungkan tangan ke udara. Majalah Tempo saat itu menulis tentang kiprah pertunjukan seni Guruh Soekarnoputra yang berlangsung tanggal 6 dan 7 Januari 1979 di Balai Sidang Senayan Jakarta. Bukan kebetulan jika Tempo sengaja mengeluarkan edisi tersebut 13 Januari, tanggal Guruh dilahirkan tahun 1953.
Kontribusi terbesar Guruh berawal dari gebrakannya dalam revolusi musik pada era 1970-an. Lewat proyek fenomenal Guruh Gipsy (1977), ia menginisiasi penggabungan rock progresif Barat dengan gamelan Bali secara presisi bersama Abadi Soesman, Chrisye, Keenan Nasution, Oetaje, Roni Harahap dan Oding Nasution.
Album “Guruh Gipsy” dikenal sebagai karya yang menggabungkan unsur musik tradisional Bali dengan rock progresif. Bahkan Rolling Stone Indonesia pada Desember 2007 menobatkan Guruh Gipsy sebagai album Indonesia terbaik kedua sepanjang masa, setelah “Badai Pasti Berlalu”.
Langkah berani ini tidak hanya menggebrak industri musik domestik, tetapi juga menempatkan musik pop Indonesia di ranah eksperimental yang diakui secara internasional. Bahkan kata Denny Sakrie, tahun 2006 sebuah label di Jerman merilis ulang Guruh Gipsy tanpa izin. Tahun 2013 label Moon June dari New York tertarik untuk merilis album yang kini jadi target kolektor dunia.
Sentuhan dingin Guruh juga melahirkan sederet lagu pop abadi yang melambungkan penyanyi-penyanyi papan atas Indonesia dari almarhum Chrisye hingga Vina Panduwinata. Sejumlah lagu karyanya abadi hingga saat ini. Sebutlah misalnya Damai Tapi Mesra, Kala Cinta Menggoda, Zamrud Khatulistiwa, Lenggang Puspita, Galih dan Ratna, serta Gita Cinta.
Tak musik rekaman semata, Guruh Soekarnoputra pun merevolusi seni pertunjukan panggung melalui sanggar Swara Maharddhika yang didirikannya pada 1970-an. Ia menggabungkan seni tari tradisional, koreografi modern, musik kolosal, dan tata panggung megah berstandar internasional. Lewat sanggar ini pula lahir banyak talenta besar di bidang tari, akting, dan seni pertunjukan Indonesia.
Muhammad Guruh Irianto Soekarnoputra telah tiada. Ia tutup usia di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, pukul 04.16 WIB pada Sabtu (26/9). Karya-karyamu senantiasa akan dikenang dan abadi. Selamat Jalan Mas Guruh.




