Rabu, Mei 27, 2026
spot_img
Beranda blog Halaman 46

Perankan Ibu Tunggal dalam “Kupeluk Kamu Selamanya”, Ini Tantangan Hana Malasan

Energi Juang News, Jakarta-Aktris Hana Malasan menceritakan pengalamannya membintangi film drama keluarga “Kupeluk Kamu Selamanya”. Sebagai seorang ibu tunggal bernama Naya, dia mengakui susah terutama beban emosi yang dibawa peran tersebut memiliki banyak lapisan yang terasa melelahkannya.

“Ada beban-beban emosi yang rasanya memang sangat melelahkan jadi memang di sini aku menuntut diriku untuk bisa in and out dari karakter dengan cepat. Karena kalau tidak itu akan sangat melelahkan untuk diri aku pribadi sebagai Hana,” ujar Hana dalam konferensi pers usai pratayang film tersebut di Jakarta, Kamis.

Dalam upayanya mendalami karakter, Hana secara sadar menahan ketegangan di bahu untuk merepresentasikan beban emosional yang dirasakan Naya. Namun, pendekatan tersebut justru berdampak pada fisiknya yang membuat otot lehernya tegang.

“Aku memberikan tensi yang cukup berat di bahu sehingga baru kayaknya tiga atau seminggu syuting itu aku tiba-tiba enggak bisa nengok dan itu masih harus syuting dan scene-nya lumayan berat gitu. Akhirnya aku manggil fisio dan aku di-jarum 40 jarum,” imbuh dia.

Hal itu membuat Hana sadar bahwa kelelahan mental ternyata bisa jauh lebih menguras tubuh dibandingkan kelelahan fisik semata. Dari situ ia belajar ketika ada sesuatu atau beban mental memang lebih baik dirilis dengan cepat supaya tidak jadi berefek ke badan gitu.

Memerankan karakter Naya yang memiliki lapisan, Hana melakukan riset kehidupan ibu tunggal. Meski prosesnya melelahkan, ia menganggap hal tersebut sebagai konsekuensi profesi aktris yang pada akhirnya akan terbayar saat cerita tersampaikan dengan baik.

“Dan rasanya mungkin itu akan sangat terbayar ketika semuanya akhirnya bisa tersampaikan di dalam satu karya gitu. Jadi kalau ditanya memang berat sekali layernya luar biasa,” tutur dia.

“Kupeluk Kamu Selamanya” mengikuti kisah seorang ibu tunggal bernama Naya (Hana Malasan). la harus merelakan kariernya demi merawat sang anak, Aksa (Jared Ali), yang memiliki penyakit bawaan sejak lahir.

Ketika Naya berpisah dengan sang suami (Ibnu Jamil), kehidupan Naya semakin menantang. Saat sakit bawaan Aksa semakin parah dan membuatnya harus menjalani perawatan, Naya diuji kekuatannya baik sebagai ibu dan seorang manusia.

Di tengah tekanan, keterbatasan, dan ketakutan akan kehilangan, Naya dipaksa untuk melangkah lebih jauh dari yang pernah ia bayangkan, belajar memperjuangkan haknya, mempercayai dirinya sendiri, dan menemukan kembali kekuatan yang selama ini ia pendam.

Dibintangi juga oleh Ibnu Jamil, Jared Ali, Fanny Ghassani, Nissy Meinard, Vonny Anggraini, Yurike Prastika, Mario Irwinsyah, film “Kupeluk Kamu Selamanya” dijadwalkan akan tayang di bioskop Indonesia mulai 30 April 2026.

 

Redaksi Energi Juang News

Tersangka Korupsi ASITA Dispar Kaltara Ditangkap

Energi Juang News, Jakarta-Tersangka kasus dugaan korupsi Aplikasi Sistem Informasi Pariwisata (ASITA) pada Dinas Pariwisata (Dispar) Kalimantan Utara (Kaltara) di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) diamankan Tim Gabungan Tangkap Buronan (Tabur) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kaltara bersama Kejaksaan Agung dan dibantu Kejati Sulawesi Selatan.

“Hari Rabu tanggal 22 April 2026 sekira pukul 12.00 WITA, Tim Tabur Kejati Kaltara dan Kejaksaan Agung dengan di-backup Kejati Sulsel mengamankan seorang tersangka yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) Kejati Kaltara, yaitu SE atau MI,” ujar Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Kaltara, Yudi Indra Gunawan, di Tanjung Selor, Kamis malam.

Tersangka MI, kata dia, merupakan pihak swasta selaku pelaksana pekerjaan pembuatan ASITA, telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Penyidik Tindak Pidana Khusus Kejati Kaltara sejak Selasa (10/2) bersama dengan kedua tersangka lainnya yang telah terlebih dahulu dilakukan penahanan, yaitu SMDN yang merupakan mantan Plt Kadis Pariwisata Provinsi Kaltara dan SF selaku Ketua DPD ASITA Provinsi Kaltara.

“Sejak MI ditetapkan sebagai tersangka, dirinya tidak pernah memenuhi panggilan penyidik hingga akhirnya ditetapkan sebagai buronan dan masuk dalam DPO Kejati Kaltara,” katanya.

Lebih kurang tiga bulan menghilang, kata Yudi, tersangka MI terdeteksi berada di suatu tempat di wilayah Provinsi Sulsel. Kemudian Tim Tabur bergerak menuju lokasi keberadaan tersangka tersebut hingga akhirnya berhasil menangkapnya.

Setelah itu, kata dia lagi, tersangka langsung diterbangkan menuju Kaltara untuk diserahkan kepada Penyidik Tindak Pidana Khusus Kejati Kaltara.

“Tersangka tiba di Kantor Kejati Kaltara pada hari Kamis, 23 April 2026 pukul 17.00 WITA dan setelah dilakukan pemeriksaan, pada pukul 19.00 WITA tersangka dibawa ke Rutan Polresta Bulungan untuk dilakukan penahanan,” ujarnya.

Atas keberhasilan penangkapan DPO tersebut, Yudi sebagai Kajati Kaltara mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah proaktif dan mendukung langkah-langkah pencarian tersangka sehingga berhasil ditangkap dan dibawa kembali ke Kaltara.

“Tidak ada tempat yang aman bagi buronan, dan saya mengimbau kepada masyarakat untuk tidak takut memberikan informasi apabila mengetahui keberadaan pelaku tindak pidana yang masuk dalam DPO Kejati Kaltara,” tuturnya.

 

Redaksi Energi Juang News

Mendagri Optimistis Bedah Rumah Akan Gerakkan Perekonomian

Energi Juang News, Jakarta- Program bedah rumah tidak layak huni (RTLH) di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) dan kawasan perbatasan, akan menggerakkan roda perekonomian dan pembangunan di wilayah tersebut. Demikian optimisme Menteri Dalam Negeri (Mendagri) sekaligus Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) Tito Karnavian.

“Bedah rumah di perbatasan ini bisa juga men-trigger, men-encourage mendorong teman-teman dari kementerian lain juga untuk buat program di perbatasan. Entah di bidang pasar mungkin, atau bangun dermaga, kemudian sekolah, spesifik yang untuk di daerah perbatasan,” kata Tito dalam konferensi pers terkait Program 15.000 Peningkatan Kualitas Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Kawasan Perbatasan, di Kantor BNPP, Jakarta, Kamis.

Mendagri mengatakan program yang dijalankan oleh Badan Nasional Pengelola Perbatasan dan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) tersebut adalah wujud nyata upaya pemerintah dalam menghadirkan keadilan pembangunan bagi masyarakat di wilayah perbatasan.

Tito mengungkapkan program disusun untuk benar-benar menyentuh kebutuhan riil masyarakat di wilayah tersebut. Program ini juga disusun untuk meningkatkan kesejahteraan warga perbatasan agar merasa bangga menjadi bagian dari Indonesia.

Ia menilai peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan juga memiliki dampak strategis dalam memperkuat ketahanan nasional.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait optimistis program bedah rumah tersebut akan memicu roda perekonomian dan membuka lapangan pekerjaan di wilayah perbatasan.

“Ada kegiatan ekonomi karena misalnya mereka akan pesan barang dari toko material, toko material akan hidup, semennya, pasirnya, truk-truk yang mengangkut ke tempat proyek juga akan hidup sopirnya, ibu-ibu yang jualan, warung juga akan jalan. Ekonomi itu kan bergerak secara utuh, tambah lapangan kerja,” kata Maruarar.

Ia menyebut total anggaran Kementerian PKP pada 2026 mencapai lebih dari Rp10 triliun, dengan sebagian besar difokuskan untuk program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS).

“Anggaran kami itu sekitar Rp10 triliun lebih, 80 persen kami dedikasikan untuk bedah rumah,” ujarnya.

Ia menjelaskan alokasi tersebut setara dengan sekitar Rp8 triliun yang digunakan untuk mendukung target renovasi rumah secara nasional.

Menurut dia, program BSPS menjadi bagian dari target pemerintah untuk merenovasi sekitar 400.000 rumah pada 2026, meningkat signifikan dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.

 

Redaksi Energi Juang News

Harga Bitcoin Dekati 79.500 Dolar AS, Momentum Positif di Tengah Konflik

Energi Juang News, Jakarta- Penguatan harga Bitcoin (BTC) adalah momentum positif di tengah dinamika geopolitik. Kini harga Bitcoin mendekati level 79.500 dolar AS pada Rabu (22/4), setelah sebelumnya sempat terkoreksi ke sekitar 74.000 dolar AS di awal pekan (20/4).

Menurut Vice President INDODAX Antony Kusuma, penguatan itu didorong oleh arus masuk dana institusional yang tetap solid, tercermin dari akumulasi dana pada produk spot Bitcoin ETF sekitar 250,22 juta dolar AS sepanjang pekan dengan total akumulasi sebesar 57,95 miliar dolar AS.
“Tren ini mengindikasikan bahwa permintaan serta kepercayaan terhadap aset kripto masih terjaga di tengah dinamika pasar global,” ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Yang cukup menarik, menurut dia, kenaikan itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Iran menolak melanjutkan negosiasi dengan AS, meskipun sebelumnya terdapat upaya perpanjangan gencatan senjata dari pihak AS.

Kondisi tersebut, tambahnya, menunjukkan bahwa pergerakan Bitcoin tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen risiko global, tetapi juga oleh kekuatan permintaan, khususnya dari investor institusional dalam jangka panjang.
Dia menilai penguatan Bitcoin saat ini mencerminkan perubahan struktur pasar yang semakin didorong oleh partisipasi investor institusional.

“Pergerakan Bitcoin saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen jangka pendek, tetapi juga oleh permintaan yang semakin konsisten dari investor institusional, yang terlihat dari arus masuk melalui produk spot ETF,” katanya.

Di tengah ketidakpastian global, lanjutnya, kondisi tersebut justru dimanfaatkan oleh sebagian investor sebagai momentum akumulasi. Hal itu menjadi salah satu faktor yang menopang harga, meskipun volatilitas jangka pendek tetap perlu diantisipasi.

Dia menjelaskan selain faktor permintaan institusional, dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat juga turut memengaruhi pergerakan pasar. Penegasan independensi bank sentral mencerminkan komitmen The Fed dalam menjaga stabilitas ekonomi, namun di sisi lain, ketidakpastian arah suku bunga di tengah kondisi inflasi yang belum sepenuhnya stabil membuat pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati terhadap aset berisiko, termasuk kripto, dalam jangka pendek.

Namun, semakin terbukanya pandangan terhadap aset digital sebagai bagian dari sistem keuangan modern turut memberikan sentimen positif bagi prospek jangka panjang industri kripto.

Selain itu, pergerakan harga juga dipengaruhi oleh aktivitas di pasar derivatif. Dalam beberapa waktu terakhir, banyak posisi jual (short) yang terpaksa ditutup ketika harga mulai naik, sehingga memicu terjadinya short squeeze.

Hal itu meningkatkan permintaan dalam waktu singkat dan mempercepat penguatan harga dalam jangka pendek.
Secara keseluruhan, menurut Antony, kombinasi antara dinamika geopolitik, faktor makroekonomi, partisipasi institusional, serta kondisi teknikal di pasar derivatif mengindikasikan bahwa struktur pasar kripto saat ini semakin kompleks.

Namun demikian, tambahnya, volatilitas tetap menjadi karakter utama, sehingga investor perlu tetap mengedepankan manajemen risiko serta melakukan riset secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Redaksi Energi Juang News

Keputusan OJK: Menjaga Independensi Perbankan di Tengah Agenda Pemerintah

Keputusan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk tidak mewajibkan perbankan menyalurkan kredit guna membiayai program pemerintah, meskipun wacana tersebut sempat masuk dalam Rancangan POJK tentang Rencana Bisnis Bank (RBB), patut diapresiasi sebagai langkah yang menjaga keseimbangan antara kepentingan pembangunan dan stabilitas sistem keuangan. Kebijakan ini mencerminkan pemahaman regulator terhadap prinsip dasar industri perbankan: bahwa bank adalah entitas bisnis yang harus dikelola dengan kehati-hatian (prudential) dan berbasis manajemen risiko.

Dalam perspektif teoretis, keputusan tersebut sejalan dengan prinsip prudential banking yang menjadi fondasi regulasi modern. Menurut Frederic S. Mishkin, stabilitas sistem keuangan sangat bergantung pada kemampuan bank dalam mengelola risiko kredit secara independen dan profesional. Intervensi berlebihan—termasuk dalam bentuk kewajiban penyaluran kredit untuk tujuan tertentu—berpotensi mengganggu kualitas aset bank dan meningkatkan risiko sistemik.

Lebih jauh, dalam kerangka teori intermediasi keuangan, bank berfungsi sebagai lembaga yang menyalurkan dana dari pihak surplus ke pihak defisit berdasarkan analisis kelayakan dan risiko. Joseph E. Stiglitz menekankan bahwa keberhasilan fungsi ini bergantung pada kemampuan bank mengatasi asymmetric information melalui seleksi dan monitoring kredit yang ketat.

Jika bank dipaksa menyalurkan kredit ke sektor atau program tertentu tanpa mempertimbangkan kelayakan bisnis, maka mekanisme seleksi tersebut menjadi bias dan berpotensi menimbulkan kredit bermasalah (non-performing loans).

Pengalaman berbagai negara juga menunjukkan bahwa kebijakan kredit terarah (directed lending) yang terlalu dipaksakan oleh pemerintah sering kali berujung pada distorsi pasar. Dalam banyak kasus, intervensi semacam ini justru melemahkan sektor perbankan dan menciptakan beban fiskal di kemudian hari.

Oleh karena itu, menjaga otonomi bank dalam menentukan strategi bisnisnya bukan hanya penting bagi kesehatan individu bank, tetapi juga bagi stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan.

Di sisi lain, bukan berarti perbankan harus sepenuhnya terlepas dari agenda pembangunan nasional. Sinergi antara pemerintah dan sektor keuangan tetap diperlukan, namun dalam bentuk insentif, bukan paksaan. Pendekatan berbasis insentif—seperti penjaminan kredit, subsidi bunga, atau skema pembagian risiko—lebih efektif dalam mendorong partisipasi bank tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian.

Dalam konteks ini, sikap OJK menunjukkan peran regulator yang tidak sekadar menjadi perpanjangan tangan kebijakan pemerintah, tetapi juga penjaga stabilitas sistem keuangan. OJK memahami bahwa memaksa bank untuk mengikuti agenda tertentu tanpa mempertimbangkan risiko justru dapat menciptakan masalah yang lebih besar di masa depan.

Akhirnya, keputusan untuk tidak mewajibkan penyaluran kredit bagi program pemerintah merupakan langkah rasional dan berbasis teori. Perbankan yang sehat adalah prasyarat bagi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Dengan tetap memberikan ruang bagi bank untuk menentukan strategi bisnisnya, sekaligus menjaga prinsip manajemen risiko, OJK telah menempatkan fondasi yang tepat bagi keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.

 

Oleh Hizkia Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)

 

Redaksi Energi Juang News

Sumur Soco: Bayangan yang Tak Pernah Pergi

Hantu sumur Soco
Hantu sumur Soco

Energi Juang News, Magetan – Di sebuah lokasi yang kini dikenal sebagai Monumen Sumur Soco, suasana terasa berbeda. Tanahnya dingin, udara seakan lebih berat, dan suara jangkrik pun terkadang menghilang tiba-tiba. Seolah-olah alam pun memilih diam… memberi ruang bagi sesuatu yang lain untuk berbicara.

Lubang yang Menyimpan Jeritan

Cerita bermula jauh sebelum tempat ini menjadi monumen. Pada tahun 1948, dalam peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Peristiwa Madiun 1948, ratusan tokoh agama dan masyarakat diundang menghadiri sebuah rapat resmi.

Undangan itu terlihat sah. Tidak ada alasan untuk curiga.

Namun, di balik pintu yang tertutup rapat, mereka tidak menemukan forum diskusi melainkan ujung senjata.

Di antara mereka terdapat sosok dihormati: Kyai Soelaiman. Ia bersama ratusan lainnya digiring, sebagian ke pabrik gula untuk dieksekusi, dan sebagian lagi menuju Desa Soco.

Di sana, sebuah lubang besar telah menunggu.

Lubang itu bukan sekadar tempat penguburan. Ia menjadi saksi puncak kekejaman manusia di mana korban dipaksa masuk, disiksa, dan sebagian dikubur hidup-hidup.

Namun yang paling mengerikan bukanlah kematian itu sendiri.

Melainkan apa yang terjadi setelahnya.

Warga sekitar bersaksi bahwa selama berhari-hari, suara-suara terdengar dari dalam tanah. Tangisan. Jeritan. Bahkan lantunan doa yang lirih.

“Seperti orang yang belum siap mati,” ujar seorang tetua desa dalam kisah turun-temurun.

Dan sejak saat itu, tidak ada malam yang benar-benar sunyi di Soco.

Jejak yang Tak Bisa Pergi

Seiring berjalannya waktu, lokasi ini berubah menjadi monumen peringatan. Namun perubahan fisik itu tidak serta-merta menghapus sesuatu yang lebih dalam jejak energi yang tertinggal.

Fahmi,22th seorang mahasiswa yang datang untuk penelitian sejarah mengaku mendengar suara langkah di belakangnya, padahal ia sendirian. Saat menoleh, tidak ada siapa pun. Namun tanah di belakangnya tampak seperti baru saja terinjak.

Seorang peziarah lain bersumpah melihat sosok berdiri di tepi sumur berpakaian lusuh, wajahnya pucat dan matanya kosong. Berbarengan dengan aroma amis darah dan suara cairan lengket yang terangkat. Ketika Fahmi mencoba mendekat, sosok itu menghilang… seolah ditelan udara.

Yang paling sering terjadi adalah mimpi buruk. Banyak yang bermimpi jatuh ke dalam lubang gelap, dikelilingi oleh tangan-tangan yang menarik,dan teriakan seperti korban pembunuhan massal disaksikan korban lainnya, sementara suara dzikir menggema dari segala arah.

Ingatan yang Wajib Dijaga

Sejarah mencatat bahwa tragedi ini bukan sekadar konflik biasa. Ia adalah hasil dari benturan ideologi yang menghapus batas kemanusiaan.

Peristiwa ini menjadi salah satu rangkaian panjang yang berujung pada Gerakan 30 September 1965 sebuah momen ketika bangsa kembali dihadapkan pada luka lama.

Kajian historis menunjukkan bahwa ideologi yang menafikan nilai ketuhanan dapat mengikis empati manusia. Ketika agama dianggap tidak relevan, dan perjuangan kelas dijadikan pembenaran, maka sesama manusia bisa dipandang sebagai musuh.

Di titik itulah, tragedi seperti Sumur Soco menjadi mungkin terjadi. Hampir tak ada seorangpun berani mendekati sumur itu saat malam menjelang.

Dan mungkin… energi dari peristiwa itu masih tersisa hingga kini, arwah bergentayangan menuntut penyemournaan atas kematian tragis mereka.

Negara Indonesia telah menetapkan sikap tegas melalui Tap MPRS No. XXV/MPRS/1966, yang melarang penyebaran ideologi komunisme, marxisme, dan leninisme.

Hal ini sejalan dengan nilai dasar bangsa yang tertuang dalam Pancasila, yang menempatkan Ketuhanan dan kemanusiaan sebagai fondasi utama.

Namun lebih dari sekadar hukum, yang terpenting adalah menjaga ingatan.

Monumen Sumur Soco berdiri bukan hanya sebagai situs sejarah, tetapi sebagai pengingat bahwa tragedi kemanusiaan tidak boleh dilupakan dan tidak boleh terulang.

Bagi sebagian orang, Sumur Soco hanyalah tempat bersejarah. Namun bagi mereka yang pernah merasakan langsung suasananya, tempat ini adalah sesuatu yang lebih.

Ia adalah luka yang belum sembuh.
Ia adalah suara yang belum selesai berbicara.

Jika kamu berdiri di sana saat malam tiba, mungkin kamu akan merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Udara yang tiba-tiba dingin. Keheningan yang terlalu dalam.

Dan jika kamu cukup berani untuk mendengarkan…

Mungkin kamu akan mendengar bisikan dari dalam tanah.

Bukan untuk menakut-nakuti,tetapi untuk mengingatkan.

Redaksi Energi Juang News

Ketika Partai Nasionalis, Budaya Jawa dan Tionghoa Lahirkan Peradaban Toleran

Laporan terbaru SETARA Institute tentang Indeks Kota Toleran (IKT) 2025 yang menempatkan Salatiga, Semarang, dan Singkawang sebagai tiga kota paling toleran di Indonesia layak dibaca lebih dari sekadar pemeringkatan administratif. Ia merupakan refleksi sosiologis dan politis tentang bagaimana konfigurasi kekuasaan dan kebudayaan dapat berkelindan dalam membentuk watak toleransi yang membumi dalam kehidupan sehari-hari.

Secara politik, menarik bahwa ketiga kota tersebut dipimpin oleh kader partai nasionalis: Salatiga oleh kader Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), sementara Semarang dan Singkawang oleh kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan).

Dalam perspektif teori politik, hal ini dapat dibaca melalui kerangka nasionalisme inklusif sebagaimana dikemukakan oleh Benedict Anderson tentang “imagined communities”. Negara-bangsa yang sehat membutuhkan imajinasi kolektif yang melampaui sekat etnis, agama, dan identitas primordial. Partai-partai nasionalis, dalam ideal-tipenya, bekerja dengan logika tersebut: membangun identitas kebangsaan yang melampaui fragmentasi sosial.

Dalam konteks Indonesia, nasionalisme tidak dapat dilepaskan dari gagasan Sukarno tentang persatuan dalam keberagaman. Prinsip “Bhinneka Tunggal Ika” warisan Majapahit, menjadi fondasi etik yang mengikat berbagai identitas dalam satu horizon kebangsaan. Ketika kekuasaan lokal berada di tangan aktor-aktor politik yang berorientasi pada nasionalisme inklusif, kebijakan publik cenderung diarahkan pada perlindungan hak-hak minoritas, penguatan ruang dialog, dan pengelolaan konflik berbasis rekonsiliasi, bukan eksklusi.

Namun, faktor politik saja tidak cukup menjelaskan tingginya tingkat toleransi di ketiga kota tersebut. Di sinilah dimensi antropologis memainkan peran penting.

Budaya Jawa, khususnya varian Mataraman di Salatiga dan budaya pesisir Semarang, dikenal memiliki nilai-nilai seperti “tepa selira” (empati), “rukun” (harmoni sosial), dan “nrimo” (penerimaan), yang oleh para antropolog seperti Clifford Geertz dipahami sebagai bagian dari etos kultural yang menekankan keseimbangan dan penghindaran konflik terbuka.

Di Semarang, misalnya, budaya Jawa pesisir berkembang dalam interaksi panjang dengan berbagai kelompok etnis dan agama, sehingga melahirkan corak kosmopolitan yang lebih cair dibandingkan budaya pedalaman. Sementara di Salatiga, tradisi pendidikan dan keberagaman komunitas religius memperkuat habitus toleransi dalam ruang sosial.

Adapun Singkawang menghadirkan dimensi lain yang tak kalah penting: peran budaya Tionghoa dalam membangun peradaban toleran. Tradisi Tionghoa yang berakar pada etika Konfusianisme menekankan harmoni sosial, penghormatan terhadap perbedaan, serta pentingnya keseimbangan dalam relasi antarmanusia. Festival-festival seperti Cap Go Meh bukan hanya ekspresi budaya, tetapi juga ruang perjumpaan lintas identitas yang memperkuat kohesi sosial.

Dari sudut pandang teori multikulturalisme, sebagaimana dikembangkan oleh Will Kymlicka, toleransi tidak lahir secara spontan, melainkan melalui pengakuan institusional terhadap keragaman budaya. Negara—dan dalam konteks ini, pemerintah daerah—memiliki peran penting dalam menjamin bahwa setiap kelompok memiliki ruang yang setara untuk mengekspresikan identitasnya.

Ketika hal ini berjalan seiring dengan nilai-nilai budaya lokal yang mendukung harmoni, maka toleransi tidak hanya menjadi slogan, tetapi praktik hidup sehari-hari.

Dengan demikian, temuan IKT 2025 dari SETARA Institute memperlihatkan satu pola yang signifikan: toleransi cenderung tumbuh subur di ruang-ruang di mana nasionalisme inklusif bertemu dengan tradisi budaya yang menjunjung tinggi harmoni. Kepemimpinan politik yang tidak eksklusif, ditopang oleh warisan budaya yang adaptif dan terbuka, menjadi fondasi bagi lahirnya peradaban yang toleran.

Tentu, kesimpulan ini tidak boleh dibaca secara deterministik seolah-olah semua wilayah yang dipimpin partai nasionalis pasti toleran. Namun, ia memberikan indikasi kuat bahwa orientasi politik yang inklusif—ketika dipadukan dengan modal sosial-budaya yang mendukung—dapat menjadi faktor kunci dalam membumikan toleransi.

Dalam konteks Indonesia yang majemuk, pelajaran dari Salatiga, Semarang, dan Singkawang menjadi semakin relevan: bahwa toleransi bukan hanya hasil dari regulasi, tetapi juga dari kepemimpinan politik dan kebudayaan yang berpihak pada kemanusiaan.

 

Oleh Esteria Tamba
(Jurnalis Energi Juang News)

 

Redaksi Energi Juang News

AS Cegat Tiga Kapal Tanker Iran di Asia

AS Cegat Tiga Kapal Tanker Iran di Asia

Energi Juang News, Jakarta- Ketegangan di jalur pelayaran internasional kembali meningkat di tengah konflik yang belum mereda. Pergerakan sejumlah kapal tanker minyak di kawasan Asia menjadi sorotan setelah adanya tindakan pengalihan jalur oleh militer Amerika Serikat.

Langkah ini terjadi saat situasi keamanan di sekitar Teluk Timur Tengah masih rapuh dan upaya diplomasi belum menunjukkan kemajuan berarti.

Tiga Kapal Iran Dialihkan di Perairan Asia

Militer Amerika Serikat dilaporkan mencegat sedikitnya tiga kapal tanker minyak berbendera Iran dalam beberapa hari terakhir. Kapal-kapal tersebut kemudian diarahkan menjauh dari rute awalnya di sekitar perairan dekat India, Malaysia, dan Sri Lanka.

Informasi ini disampaikan sejumlah sumber perkapalan serta keamanan maritim kepada Reuters dan Al Arabiya, Kamis (23/4/2026). Hingga kini, pihak militer AS belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan tersebut.

Salah satu kapal yang disebut adalah supertanker Deep Sea. Kapal ini membawa sebagian muatan minyak mentah dan terakhir terdeteksi di lepas pantai Malaysia sekitar sepekan lalu, berdasarkan data pelacakan MarineTraffic.

Kapal lainnya, Sevin, memiliki kapasitas hingga 1 juta barel dan diketahui membawa sekitar 65 persen muatannya. Data menunjukkan kapal itu terakhir berada di perairan Malaysia sebulan lalu.

Sementara itu, supertanker Dorena dengan muatan penuh mencapai 2 juta barel minyak mentah juga termasuk dalam daftar kapal yang dicegat. Posisi terakhirnya terpantau di selatan India tiga hari lalu.

Blokade Laut dan Eskalasi Konflik

Komando Pusat AS menyatakan Dorena sempat dikawal kapal perusak Angkatan Laut AS di Samudra Hindia setelah diduga mencoba menembus blokade. Sejak kebijakan pembatasan diberlakukan, tercatat 29 kapal telah diperintahkan untuk berbalik atau kembali ke pelabuhan.

Washington sendiri memperketat pengawasan terhadap aktivitas pelayaran Iran sebagai bagian dari tekanan dalam konflik yang melibatkan Iran dan Israel. Di sisi lain, Iran juga mengambil langkah balasan dengan menargetkan kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz.

Situasi ini memperburuk kondisi keamanan di jalur vital tersebut, yang selama ini menjadi pintu utama distribusi energi global.

Dampak ke Pasokan Energi Global

Penutupan Selat Hormuz berdampak signifikan terhadap rantai pasok energi dunia. Sekitar seperlima distribusi minyak dan gas global melewati jalur tersebut, sehingga gangguan yang terjadi memicu kekhawatiran krisis energi.

Dalam beberapa hari terakhir, pasukan AS juga dilaporkan menyita satu kapal kargo Iran dan satu tanker minyak. Sebaliknya, Iran mengklaim telah menangkap dua kapal kontainer yang mencoba keluar dari Teluk setelah insiden penembakan pada Rabu (22/4).

Hingga kini, gencatan senjata yang berlangsung masih dianggap rapuh. Tanda-tanda kembalinya perundingan damai pun belum terlihat jelas.

Redaksi Energi Juang News

Klarifikasi BGN soal 19 Ribu Sapi untuk MBG

Klarifikasi BGN soal 19 Ribu Sapi untuk MBG

Energi Juang News, Jakarta – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana meluruskan informasi yang beredar terkait kebutuhan sapi dalam program makan bergizi gratis (MBG). Ia menegaskan, angka yang sempat disebut bukanlah kebutuhan harian yang benar-benar terjadi.

Dadan menjelaskan, angka tersebut muncul dari skenario perhitungan jika seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memasak daging sapi secara bersamaan pada hari yang sama.

Perhitungan Berdasarkan Skenario Serentak

Menurut Dadan, setiap SPPG membutuhkan sekitar satu ekor sapi untuk sekali memasak menu berbahan dasar daging sapi. Kebutuhan dagingnya berkisar antara 350 hingga 382 kilogram per proses memasak.

Ia menambahkan, angka 19 ribu ekor sapi merupakan hasil pengalian jumlah SPPG dengan kebutuhan satu ekor sapi per unit. Namun, kondisi itu hanya bersifat ilustrasi.

“Kalau semua SPPG memasak daging sapi di hari yang sama, tinggal dihitung jumlahnya. Tapi ini hanya pengandaian, bukan kondisi riil,” ujar Dadan dalam keterangan resminya, Kamis (23/4/2026).

Menu MBG Tidak Diseragamkan

BGN memastikan tidak menerapkan kebijakan menu seragam secara nasional dalam program MBG. Kebijakan ini diambil untuk mencegah lonjakan permintaan bahan pangan tertentu yang bisa memicu kenaikan harga.

Dadan mencontohkan peristiwa saat peringatan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto pada 17 Oktober lalu. Saat itu, menu nasi goreng dan telur disajikan untuk sekitar 36 juta penerima manfaat.

Kebutuhan telur mencapai 36 juta butir atau sekitar 2.200 ton. Dampaknya, harga telur di pasar sempat naik sekitar Rp3.000.

Fokus pada Sumber Daya Lokal

Untuk menghindari tekanan terhadap pasokan dan harga, BGN memilih pendekatan fleksibel dalam penyusunan menu MBG. Setiap daerah dapat menyesuaikan menu dengan ketersediaan bahan pangan lokal serta selera masyarakat.

Menurut Dadan, strategi ini juga bertujuan memberdayakan potensi daerah sekaligus menjaga stabilitas harga pangan.

“Kalau menu diseragamkan secara nasional, tekanannya pasti tinggi dan harga bisa naik,” katanya.

Redaksi Energi Juang News

Di Film Horor Terbarunya, Shaloom Razade Tambahkan Dialog Berbahasa Belanda

Energi Juang News, Jakarta- Aktris Shaloom Razade menambahkan dialog berbahasa Belanda dalam film horor terbaru “The Bell: Panggilan untuk Mati”.

Dalam film garapan sutradara Jay Sukmo itu, Shaloom memerankan karakter Isabella seorang aktivis keturunan Belitung-Belanda. Shallom mengaku peran tersebut berbeda dari yang pernah dimainkan sebelumnya.

“Karakter Isabella, keturunan Belanda-Belitung seorang aktivis yang membela hak-hak bumi. Aku belum pernah dapat karakter sekuat itu sebelumnya,” kata Shaloom, di Jakarta, Rabu.

Dalam menghidupkan karakter Isabella, Shaloom Razade mengambil langkah kreatif dengan menambahkan dialog berbahasa Belanda, meski tidak tertulis dalam naskah.

Bagi Shaloom, keputusan tersebut memang menambah tantangan dalam proses akting. Namun, ia menilai hal itu penting untuk merepresentasikan karakter tersebut dengan latar belakangnya.

“Aku mengidekan kenapa enggak di sini Isabella berbahasa Belanda juga. Jadi bisa merepresentasikan Isabella karena kan dia juga keturunan Belanda, masa enggak bisa bahasa Belanda sedikit. Menyusahkan diri aku sendiri tapi tidak apa-apa karena menurut aku itu suatu yang penting sih untuk karakter,” tutur dia.

Film horor terbaru “The Bell: Panggilan untuk Mati” yang mengangkat Penebok, sosok hantu tanpa kepala dari mitos Pulau Belitung.

Shaloom mengatakan film “The Bell” tidak hanya menghadirkan ketegangan lewat sosok hantu Penebok, tetapi juga penonton disuguhkan panorama keindahan Pulau Belitung.

Ia berharap keindahan yang ditampilkan dalam film “The Bell” juga menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke Belitung.
“Biar pariwisata Belitung juga naik lagi. Ingat ya, dijaga jangan buang sampah sembarangan,” imbuh dia.
Film “The Bell: Panggilan untuk Mati” garapan sutradara Jay Sukmo menceritakan sebuah lonceng keramat di Belitung yang dipercaya mampu mengurung roh-roh jahat dicuri oleh sekelompok YouTuber demi konten.

Namun, tindakan tersebut justru membebaskan Penebok, entitas mengerikan yang telah terkurung selama ratusan tahun.

Sosok hantu tanpa kepala bergaun merah itu mulai memburu mereka satu per satu, teror menyebar ke warga desa. Setiap denting lonceng menjadi pertanda kematian, Penebok datang untuk menagih kepala dari siapa pun yang mendengarnya.

Redaksi Energi Juang News