Kamis, Mei 28, 2026
spot_img
Beranda blog Halaman 63

Wacana War Tiket Haji Harus Dikaji Mendalam

Energi Juang News, Jakarta – Wacana war tiket haji yang disampaikan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) sebaiknya dikaji lebih mendalam. Demikian ditegaskan Komnas Haji.

Komnas Haji memberikan sejumlah catatan agar penyelenggaraan haji lengkap untuk ibadah jemaah haji.

“Saya kira untuk saat ini belum ideal dan belum mendapat atau belum menjadi momentum yang tepat begitu ya. Kenapa? Kalau kita bayangkan ticket war itu adalah berebut tiket seperti halnya tiket konser begitu ya, tiket entertain atau acara-acara olahraga, saya kira gagasan ini perlu disempurnakan dan mempertimbangkan beberapa hal,” kata Ketua Komnas Haji Mustolih Siradj kepada wartawan, Senin (13/4/2026).

Mustolih menilai war tiket haji butuh koneksi internet, sehingga apakah nantinya sistem war tiket akan menguntungkan calon jemaah haji di perkotaan. Undang-Undang Nomor 14 tahun 2025 juga dinilai belum kompatibel untuk sistem war tiket karena belum diatur secara lengkap.

“Nah berikutnya adalah kebanyakan dari jemaah kita kan sebagian besar masih lansia dan kemudian kemampuan menggunakan IT juga sangat terbatas dengan pendidikan juga menengah ke bawah,” ujarnya.

Posisi Indonesia dalam penyelenggaraan ibadah haji sebagai pihak penyalur jemaah haji. Sementara itu kan kapasitas di Arab Saudi terbatas, oleh sebab itu Arab Saudi memberlakukan sistem kuota kepada negara-negara pengirim jemaah.

“Kenapa kemudian terjadi antrean panjang gitu ya, karena memang namanya haji itu kan dilaksanakan di tempat tertentu dan di waktu tertentu, waktunya kapan? Waktunya adalah di bulan haji tidak bisa dilakukan di bulan-bulan lain, kemudian tempatnya juga tertentu,” ucap Mustolih.

Permasalahan kuota haji bukan hanya dialami Indonesia, namun juga negara-negara muslim besar lainnya termasuk Arab Saudi. Mustolih mencontohkan Malaysia, namun negeri jiran itu tidak melakukan war tiket.

“Nah karena itu saya kira ide tiket war tadi itu saya kira perlu dikaji lebih mendalam dan komprehensif gitu ya. Karena memang dan kemudian mempertimbangkan juga bagaimana dengan jemaah haji yang saat ini jumlannya 5,7 juta begitu ya, yang sudah antre sudah bayar gitu ya itu dengan adanya tiket war itu juga perlu dipertimbangkan juga. Kemudian kalau ada tiket war berarti kan dia daftar langsung berangkat juga berarti biayanya lebih besar lah,” sebutnya.

Mustolih mengedepankan wacana Indonesia bernegosiasi dengan negara-negara yang mendapatkan kuota jemaah haji namun penyerapannya tak maksimal. Indonesia dinilai dapat menggunakan kesempatan itu untuk jemaah haji Tanah Air.

“Satu hal yang sebetulnya begini, wacana yang dimuncul itu adalah bagaimana kalau Indonesia ini melakukan lobby kepada negara-negara yang diberikan kuota jemaah haji oleh Saudi tapi kemudian tidak terserap secara maksimal. Biasanya negara-negara yang mayoritas penduduknya itu non muslim atau penduduk muslimnya itu minoritas, Singapura, negara-negara Eropa, negara-negara Amerika, itu kan mereka diberikan kuota tapi kan tidak optimal. Dulu sempat ada wacana bahwa bagaimana kalau Indonesia mengkoordinasi lobby negara-negara tersebut untuk melimpahkan porsi yang tidak terserap kepada negara kita,” imbuhnya.

Kemenhaj diketahui tengah mengkaji wacana sistem ‘war tiket’ ibadah haji tanpa harus mengantre. Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Azhar Prabowo memastikan calon jemaah yang sudah mengantre akan tetap diprioritaskan berangkat ke Tanah Suci.

“Prioritasnya duluan untuk yang sudah ngantre. Yang sudah antre tetap yang pertama dan utama,” kata Dahnil kepada wartawan, Minggu (12/4).

Redaksi Energi Juang News

Musik dan Tari Legong: Harmoni Jiwa Ni Ketut Arini

Ni Ketut Arini
Ni Ketut Arini

Energi Juang News,Bali- Di Bali, seni bukan sekadar aktivitas—ia adalah napas kehidupan. Dari upacara keagamaan hingga keseharian masyarakat, ekspresi artistik hadir dalam berbagai bentuk yang menyatu dengan ritme hidup. Dalam lanskap budaya yang kaya ini, muncul sosok-sosok yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga memberi jiwa baru pada warisan tersebut.

Salah satu nama yang menonjol adalah Ni Ketut Arini. Lahir di Denpasar pada 1943, Arini tumbuh dalam lingkungan yang sarat dengan seni. Ayahnya adalah guru tabuh, sementara pamannya merupakan guru tari. Lingkungan ini secara alami membentuk kepekaan artistiknya sejak usia dini.

Namun, perjalanan Arini bukan hanya tentang bakat yang diwariskan, melainkan tentang bagaimana ia merawat dan mengembangkan rasa tersebut menjadi dedikasi seumur hidup.

Dalam seni tari Bali, hubungan antara gerak dan bunyi sangat erat. Tidak ada gerakan yang berdiri sendiri; semuanya lahir dari dialog dengan irama. Arini adalah contoh sempurna dari penari yang tidak hanya “mengikuti” musik, tetapi benar-benar menyatu dengannya.

Sejak kecil, ia terbiasa mendengar gamelan. Paparan ini membentuk insting musikal yang kuat. Ia mampu mengingat melodi, merasakannya, lalu menerjemahkannya menjadi gerakan yang presisi.

Menariknya, Arini bahkan bisa “menari tanpa musik”. Ia dapat menyenandungkan irama dalam pikirannya dan tetap menjaga struktur gerak. Ini menunjukkan bahwa musik telah menjadi bagian dari tubuhnya, bukan sekadar elemen eksternal.

Bagi audiens muda, ini bisa menjadi refleksi menarik: bahwa dalam seni, mendengar bukan hanya soal telinga, tetapi juga soal rasa.

Tari legong adalah salah satu bentuk tari klasik Bali yang terkenal dengan kehalusan gerak, ekspresi wajah, dan kompleksitas tekniknya. Arini menjadikan legong sebagai fokus utama dalam perjalanan seninya.

Namun, baginya legong bukan sekadar teknik. Ia adalah ruang pembelajaran emosional. Dalam proses menari, Arini merasakan bagaimana konsentrasi terbentuk, emosi terkelola, dan pikiran menjadi lebih jernih.

Ia bahkan menyebut bahwa menari dapat membantu menghilangkan rasa dendam, cemas, dan iri hati. Ini menunjukkan bahwa seni tidak hanya berdampak pada tubuh, tetapi juga pada kondisi mental.

Di era modern yang penuh tekanan, perspektif ini terasa sangat relevan. Seni bisa menjadi medium healing yang autentik—tanpa harus kehilangan nilai tradisinya.

Salah satu hal paling unik dari Arini adalah cara ia menciptakan karya. Ia tidak selalu memulai dari gerakan, tetapi dari musik.

Ia akan menyenandungkan melodi, merekamnya, lalu bekerja sama dengan musisi untuk mengembangkan komposisi tersebut. Setelah itu, barulah ia menciptakan koreografi.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa dalam banyak tradisi Asia, musik sering menjadi titik awal penciptaan tari. Ini berbeda dengan pendekatan Barat yang sering memisahkan keduanya.

Karya seperti Legong Narwastu menjadi bukti keberhasilan metode ini. Dengan musik yang kuat dan cerita yang menarik, tarian ini tidak hanya populer di Indonesia, tetapi juga dikenal hingga mancanegara.

Selama hampir tujuh dekade berkarya, Arini menunjukkan bahwa seni bukan hanya soal inspirasi, tetapi juga soal disiplin.

Ia melihat menari seperti olahraga—sesuatu yang harus dilatih secara konsisten. Tubuh harus dijaga, energi harus diatur, dan latihan harus dilakukan dengan serius.

Sebagai pengajar, ia menanamkan nilai ini kepada murid-muridnya. Ia dikenal tegas, tetapi juga penuh perhatian. Baginya, menjadi penari bukan hanya soal bisa bergerak, tetapi juga soal memahami makna di balik setiap gerakan.

Pendekatan ini penting, terutama di era di mana banyak orang ingin hasil instan tanpa proses yang mendalam.

Salah satu hal yang paling membanggakan bagi Arini adalah meningkatnya minat generasi muda terhadap tari. Ia melihat ini sebagai tanda bahwa tradisi masih memiliki tempat di hati masyarakat.

Melalui Sanggar Tari Warini yang ia dirikan, Arini aktif mengajar berbagai kalangan—dari anak-anak hingga orang dewasa, bahkan dari luar negeri.

Fenomena ini menunjukkan bahwa seni tradisional memiliki daya tarik global. Banyak orang datang ke Bali bukan hanya untuk wisata, tetapi juga untuk belajar dan merasakan langsung budaya yang hidup.

Namun, Arini tetap mengingatkan bahwa inovasi harus tetap berpijak pada pakem.

Dalam konteks globalisasi, musik menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai budaya. Gamelan Bali, dengan kompleksitas ritmenya, mampu menarik perhatian dunia.

Arini, melalui karya-karyanya, ikut memperkenalkan keindahan ini. Ia menunjukkan bahwa musik tradisional tidak kalah dengan musik modern—justru memiliki kedalaman yang unik.

Bagi generasi muda yang terbiasa dengan genre global, ini adalah kesempatan untuk melihat kembali kekayaan lokal dengan perspektif baru.

Bagi Ni Ketut Arini, seni bukanlah pilihan karier semata. Ia adalah cara hidup.

Ia tidak merasa mengorbankan apa pun untuk seni, karena semuanya bisa diatur dengan prioritas. Ini adalah pandangan yang jarang kita temui di era sekarang, di mana keseimbangan hidup sering menjadi tantangan.

Arini menunjukkan bahwa ketika seseorang benar-benar mencintai apa yang ia lakukan, maka prosesnya akan terasa ringan, bahkan menyenangkan.

Musik dan tari legong adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dalam tangan Ni Ketut Arini, keduanya menjadi medium untuk menyampaikan keindahan, kedalaman, dan kebijaksanaan hidup.

Ia bukan hanya maestro, tetapi juga penjaga nilai—seseorang yang memastikan bahwa tradisi tetap hidup, relevan, dan bermakna.

Bagi kita, terutama generasi muda yang sadar budaya, kisah ini adalah pengingat bahwa di balik setiap gerakan dan setiap nada, selalu ada cerita yang layak untuk dipahami.

Dan mungkin, dalam kesibukan hidup modern, kita bisa belajar untuk kembali mendengar—bukan hanya musik di luar, tetapi juga irama yang ada di dalam diri kita sendiri.

Redaksi Energi Juang News

Bayi Dibuang Sejoli Cakung, Kisah Cemong Mimin Berakhir Di Polsek

Gombalan Cemong
Gombalan Cemong

Energi Juang News, Cakung- Warga Cakung mendadak bukan cuma heboh, tapi juga naik level jadi detektif dadakan. Bukan karena lomba 17-an maju lagi, tapi karena ada “paket misterius” nongkrong manis di teras rumah Pak Haji Sadeli. Bukan paket COD, bukan pula kiriman mantan—melainkan seorang bayi laki-laki yang masih merah, lengkap dengan tangisan versi Dolby Surround.

Pagi itu, Pak Haji yang niatnya mau ke masjid, malah hampir batal wudhu karena kaget bukan main. “Ini bayi apa parcel Lebaran telat?” kira-kira begitu ekspresi beliau. Untung bukan bayi NFT, jadi masih bisa diselamatkan dan dilaporkan ke pihak berwajib.

Tak butuh waktu lama, aparat bergerak cepat. CCTV yang biasanya cuma dipakai buat mantau maling sandal, kali ini naik pangkat jadi saksi kunci. Hasilnya? Bukan maling ayam, bukan pula kurir nyasar—melainkan dua insan yang kalau kata tetangga, “sudah sering bareng, tapi bukan suami istri.”

Mereka adalah Cemong (29) dan Mimin (20). Sepasang manusia yang kalau urusan cinta, terlalu cepat lari sprint, tapi soal tanggung jawab malah jalan mundur.

Kisah ini bermula dari lapak barang bekas milik Haji Udin. Tempat di mana barang rongsok bisa jadi duit, dan… rupanya hati juga bisa ikut rongsok kalau salah pergaulan.

Cemong, yang konon sejak lahir sudah punya “bakat nakal tingkat dewa”, bertemu dengan Mimin—gadis lugu dari kampung yang kalau disuruh milih antara logika dan cinta, sayangnya lebih sering pilih Cemong.

Awalnya sih standar: jajan bareng, pulang bareng, lalu naik level ke “nggak usah pulang sekalian.” Dari yang tadinya cuma numpang cas HP, lama-lama cas perasaan. Hingga akhirnya… mahkota Mimin direnggut Cemong, kejadian yang kalau di sinetron selalu diawali dengan hujan dan lampu mati.

Cemong dengan percaya diri ngobral janji ala sales abal-abal ,
“Tenang Min, ini cuma tes. Kalau lulus… kita nikah.”

Dan Mimin yang lugu itu percaya saja akan gombalan Cemong.

Karena aktivitas mereka lebih berisik dari knalpot racing, tetangga mulai curiga. Tapi Cemong sudah punya jurus pamungkas:

“Itu adik saya dari kampung,kalau malam sakitnya kambuh, kasihan numpang tinggal.”

Warga yang terkenal ramah plus agak gampang percaya, langsung mengangguk. Apalagi Cemong dikenal ringan tangan, meski ternyata kalau malam hari tangan itu juga gerayangan ke tubuh sintal Mimin kalau malam tiba.

Hari yang ditunggu tiba juga. Bayi itu lahir sehat, lengkap, dan—ironisnya—tak punya salah apa pun.

Tapi bagi Cemong dan Mimin, bayi itu bukan anugerah. Melainkan “masalah hidup versi nyata.”

Akhirnya, muncullah ide yang kalau dipikir pakai akal sehat, jelas gagal total sejak awal: membuang bayi itu di teras rumah orang.

Malam hari, dengan gaya seperti maling gagal, mereka meletakkan bayi itu di depan rumah Pak Haji Sadeli. Dibungkus kain, ditinggal begitu saja, berharap masalah ikut pergi.

Padahal yang pergi justru rasa kemanusiaan mereka.

Seperti pepatah: sepandai-pandainya menyembunyikan kebusukan, tetap saja baunya kecium. CCTV jadi saksi bisu yang lebih jujur dari pelaku.

Tak butuh waktu lama, Cemong dan Mimin diamankan polisi. Warga yang awalnya cuma heran, berubah jadi geram.

“Kalau berani bikin, ya harus berani tanggung jawab. Jangan seenaknya lu !” celetuk salah satu warga dengan nada lebih pedas dari sambal ulek. Cemong kerja di barang rongsok, tapi yang dibuang justru masa depan sendiri.

Redaksi Enwegi Juang News

Jusuf Kalla Dilaporkan ke Polisi Atas Dugaan Penistaan Agama

Energi Juang News, Jakarta – Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, dilaporkan ke Polda Metro Jaya atas dugaan penistaan agama. Pelaporan itu dilakukan usai video viral ceramahnya soal ‘mati syahid’.

Pelapor dalam hal ini adalah Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI). Mereka melaporkan Jusuf Kalla ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Metro Jaya, pada Minggu (12/4) malam.

“Kami dari Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia tadi datang melaporkan Bapak Jusuf Kalla. Kehadiran kami juga mewakili sekitar 19 lembaga Kristen dan organisasi masyarakat,” kata Ketua Umum GAMKI Sahat Martin Philip Sinurat, kepada wartawan, dikutip Senin (13/4/2026).

Laporan GAMKI teregistrasi dengan nomor LP/B/2547/IV/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA, tanggal 12 April 2026. Dalam laporan tersebut, Sahat selaku pelapor melaporkan Jusuf Kalla terkait dugaan penistaan agama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 300 dan/atau Pasal 301 dan/atau Pasal 263 dan/atau Pasal 264 dan/atau Pasal 243 Undang-undang Nomor 1 Tahun 2023.

Sahat menyampaikan bahwa ceramah Jusuf Kalla soal ‘mati syahid’ yang viral di media sosial, menyakiti hati umat Kristen karena tidak sesuai dengan ajaran Kristen.

“Oleh karena itu kami melaporkan kepada Polda Metro Jaya, sehingga pernyataan ini yang sudah menimbulkan kegaduhan di media sosial itu lebih terarah, bisa diselesaikan secara hukum,” imbuhnya.

Sahat menyebutkan bahwa pernyataan Jusuf Kalla telah menimbulkan kegaduhan di masyarakat dan tidak sesuai dengan ajaran ‘cinta kasih’ Kristen. Sahat menegaskan bahwa Kristen tidak mengajarkan membunuh orang yang berbeda agama.

“Padahal dalam ajaran agama Kristen itu tidak ada mengajarkan itu, bahkan kita diajarkan untuk mengasihi sesama manusia bahkan musuh sekalipun,” imbuhnya.

Sahat mengatakan membuka kemungkinan untuk memaafkan apabila Jusuf Kalla meminta maaf. Namun, pihaknya mempercayakan segala proses hukum kepada aparat yang berwajib.

“Justru karena kita mengampuni, kita tidak mau kemudian ini menjadi kegaduhan di media sosial. Karena bahkan kita lihat di media sosial, Pak Jusuf Kalla itu kemudian dicerca, dimaki oleh banyak netizen. Sehingga kita letakkan ini di ranah hukum,” kata Sahat.

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik Stefanus Asat Gusma mengatakan GAMKI dan Pemuda Katolik berinisiatif membuat laporan karena konten yang beredar dinilai meresahkan. Dia menegaskan ajaran Kristen dan Katolik tidak mengenal kekerasan, apalagi pembunuhan terhadap sesama manusia.

“Jadi kami melaporkan malam ini supaya situasinya bisa terkontrol oleh aparat penegak hukum,” kata Stefanus.

Menurutnya, pernyataan JK yang tersebut di kanal media sosial telah menimbulkan kegaduhan hingga permusuhan. “Komentar-komentar di media sosial sudah saling mencaci, menghina dan menyangkut SARA,” katanya.

Stefanus berharap JK segera merespons laporan tersebut. Ia juga menuntut JK untuk meminta maaf secara terbuka.

“Harapan kami, sebagai tokoh bangsa, Pak JK segera merespons ini dengan baik, paling tidak memberikan pernyataan terbuka, meminta maaf, dan kemudian mengklarifikasi semuanya,” jelas Stefanus.

Stefanus menambahkan pihaknya akan berkomunikasi dengan struktur organisasi di seluruh Indonesia agar ikut meredakan suasana. Ia juga berharap agar Polda Metro Jaya memproses laporan tersebut.

Hingga berita ini dimuat belum ada tanggapan dari pihak JK.

Sebelumnya, Juru Bicara JK, Husain Abdullah membantah narasi tersebut. Husain mengatakan, tuduhan itu menyusul pernyataan JK yang diviralkan menyebut kedua pihak dalam konflik Poso dan Ambon menggunakan istilah ‘mati syahid’. Husain mengatakan, postingan video yang beredar hanya memuat sebagian pernyataan JK.

“Namun setelah ditelusuri, tuduhan itu merupakan hasil pemotongan konteks (context cutting). Kami membantah dengan tegas tuduhan itu,” kata Husain saat dihubungi, Minggu (12/4).

Husain mengatakan, pernyataan JK itu disampaikan saat berpidato di Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada Kamis (5/3/2026). Dalam pernyataan utuhnya, JK menegaskan tidak ada agama yang mengajarkan umatnya saling membunuh.

“JK menggambarkan usahanya mendamaikan konflik Poso dan Ambon kepada Civitas Akademika UGM. Di mana JK terlebih dahulu meluruskan keyakinan kedua kelompok yang bertikai Islam dan Kristen, bahwa mereka telah bertindak keliru menggunakan jargon agama sebagai alasan pembenar yang menyebabkan ribuan nyawa melayang dari kedua pihak. Dan konflik susah dihentikan,” jelasnya.

Redaksi Energi Juang News

Perintah Presiden Evaluasi Semua IUP, Komitmen Negara Benahi Pertambangan

Energi Juang News, Jakarta- Anggota Komisi XII DPR RI, Jamaludin Malik, menyatakan dukungan penuh terhadap perintah Presiden RI untuk mengevaluasi seluruh Izin Usaha Pertambangan (IUP).
Termasuk, pencabutan IUP bermasalah yang berada di kawasan hutan lindung dan kawasan konservasi.

Menurut Jamaludin, instruksi Presiden tersebut menunjukkan komitmen kuat negara dalam membenahi tata kelola sektor pertambangan nasional agar lebih tertib, transparan, dan berkelanjutan.

“Langkah Presiden untuk mencabut IUP bermasalah, khususnya yang berada di kawasan hutan lindung, merupakan langkah tegas yang perlu didukung bersama. Ini penting untuk memastikan bahwa aktivitas pertambangan tetap berada dalam koridor hukum dan tidak merusak lingkungan,” ujar Jamaludin melalui keterangan tertulis, belum lama ini.

Anggota Fraksi Partai Golkar itu menilai, penataan IUP merupakan momentum penting untuk menyelesaikan berbagai persoalan perizinan yang selama ini masih terjadi. Termasuk terkait aspek legalitas, kesesuaian tata ruang, serta kepatuhan terhadap ketentuan lingkungan hidup.

Jamaludin juga menyampaikan dukungannya terhadap langkah cepat Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam menindaklanjuti arahan Presiden melalui evaluasi menyeluruh terhadap IUP, termasuk yang berada di kawasan hutan. Menurutnya, hal ini mencerminkan keseriusan pemerintah dalam memperbaiki tata kelola sektor minerba secara menyeluruh.

“Langkah yang dilakukan Menteri ESDM menunjukkan komitmen pemerintah dalam menata kembali perizinan pertambangan agar lebih akuntabel dan memberikan kepastian hukum bagi seluruh pelaku usaha,” tambah legislator asal daerah pemilihan Jawa Tengah II itu. 

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa penertiban IUP bermasalah juga akan berdampak positif terhadap peningkatan kualitas investasi di sektor pertambangan. Sebab, hanya pelaku usaha yang patuh dan memiliki kinerja baik yang dapat melanjutkan operasionalnya.

Selain itu, Jamaludin menekankan pentingnya sinkronisasi antara IUP dan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Sehingga, produksi minerba tetap terkendali, mendukung stabilitas harga, serta mengoptimalkan penerimaan negara.

Sebagai mitra kerja pemerintah, Komisi XII DPR RI akan terus melakukan fungsi pengawasan untuk memastikan proses evaluasi dan penertiban IUP berjalan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Serta memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi negara dan masyarakat.

Redaksi Energi Juang News

Wanita Injak Al-Quran, PBNU Ajak Umat Jaga Adab

Energi Juang News, Jakarta – PBNU mengajak seluruh umat muslim menjaga adab. Hal itu ditegaskan PBNU usai dua wanita inisial NR dan MT di Lebak, Banten, ditetapkan sebagai tersangka usai  videonya yang bersumpah sambil menginjak Al-Qur’an viral.

PBNU menilai aksi kedua wanita tersebut sebagai tindakan tercela yang dilarang oleh agama.

“Ya, menyuruh seseorang bersumpah dengan cara menginjak Al-Qur’an adalah perbuatan yang tercela dan tidak dibenarkan dalam Islam,” kata Ketua PBNU KH Ahmad Fahrur Rozi atau Gus Fahrur, Senin (13/4/2026).

Dalam ajaran Islam, Gus Fahrur mengatakan Al-Qur’an adalah kalam Allah yang harus dijaga kehormatan dan kemuliaannya. Sehingga perbuatan merendahkan simbol agama sebagai bentuk penistaan agama.

“Segala bentuk tindakan yang merendahkan, melecehkan, atau menjadikannya alat tekanan (misalnya untuk memaksa pengakuan) termasuk perbuatan yang haram dan bisa masuk kategori penodaan terhadap kesucian agama,” ujarnya

Gus Fahrur menyampaikan sejumlah poin antara lain, sumpah dalam Islam hanya boleh dilakukan dengan menyebut nama Allah, bukan dengan cara-cara yang merendahkan simbol agama. Lalu Menginjak Al-Qur’an adalah bentuk penghinaan terhadap sesuatu yang suci.

Selain itu, memaksa orang bersumpah dengan cara tersebut juga termasuk kezaliman dan intimidasi. Serta, tujuan mencari kebenaran tidak boleh menghalalkan cara yang melanggar syariat.

“Kita mengimbau kepada seluruh umat Islam agar senantiasa menjaga adab dan kehormatan Al-Qur’an sebagai kitab suci yang mulia,” ucap Gus Fahrur.

Gus Fahrur mengatakan Al-Qur’an bukanlah alat untuk pembuktian sumpah yang bersifat emosional atau paksaan, apalagi sampai diinjak atau direndahkan. Perbuatan tersebut dinilai jelas bertentangan dengan nilai-nilai akhlak dan ajaran Islam yang menjunjung tinggi kemuliaan wahyu Allah.

Dalam Islam, kata Gus Fahrur, sumpah memiliki aturan dan etika tersendiri. Jika memang diperlukan, cukup dilakukan dengan cara yang benar, penuh tanggung jawab, dan tanpa merendahkan kesucian Al-Qur’an. Menggunakan Al-Qur’an sebagai alat tekanan justru dapat menimbulkan fitnah, perpecahan, serta merusak nilai sakralnya.

“Kami mengajak seluruh umat: Menjaga adab terhadap Al-Qur’an dalam segala kondisi. Menghindari tindakan berlebihan dalam bersumpah. Mengedepankan tabayyun (klarifikasi) dan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan. Menanamkan rasa hormat kepada Al-Qur’an sejak dini,” imbuhnya.

Kasi Humas Polres Lebak IPTU Moestafa Ibnu Syafir sebelumnya mengatakan kasus itu dipicu lantaran masalah alat makeup berupa bedak dan parfum, yang dipesan oleh NR melalui online. Tanpa dasar yang jelas, NR menuduh MT telah mengambil alat makeup-nya.

“Jadi itu mereka sebenarnya berteman, yang punya salon itu pesan paket lalu disimpan. Si pemilik ini menuduh inisial MT, berhubung nggak puas atas pengakuan kemudian melakukan sumpah Al-Qur’an,” jelasnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan oleh Satreskrim Polres Lebak, keduanya resmi ditetapkan tersangka dan ditahan. Mereka dijerat dengan pasal penistaan agama.

“Sudah ditetapkan sebagai tersangka. Iya langsung ditahan,” kata Moestafa.

Redaksi Energi Juang News

Pengisian Jabatan ASN Pemkab Bogor Harus Berbasis Kompetensi

Energi Juang News, Bogor – Pengisian jabatan aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bogor harus berbasis kompetensi melalui sistem meritokrasi yang transparan. Demikian ditegaskan Bupati Bogor Rudy Susmanto.

Rudy di Cibinong, Minggu, menyebutkan komitmen tersebut diwujudkan melalui penerapan mekanisme terbuka seperti open bidding serta penguatan pengawasan internal guna memastikan setiap posisi diisi oleh ASN yang memiliki kapasitas dan kinerja terbaik.

“Ini adalah bagian dari keseriusan kami dalam menghadirkan birokrasi yang bersih dan profesional. Kami ingin memastikan bahwa setiap jabatan diisi berdasarkan kompetensi, bukan praktik yang menyimpang,” ujar Rudy.

Menurut dia, dengan jumlah ASN yang besar, Pemkab Bogor terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia, termasuk melalui pengangkatan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) dan sistem pengisian jabatan yang lebih akuntabel.

Rudy juga menegaskan tidak ada toleransi terhadap praktik penyimpangan, termasuk dugaan jual beli jabatan yang sempat mencuat. Ia memastikan setiap laporan yang masuk langsung ditindaklanjuti melalui Inspektorat.

“Inilah wujud keseriusan kami. Apapun yang disampaikan kepada kami, bisa langsung kami tindaklanjuti. Namun, proses tersebut tidak selalu kami ekspos ke publik,” katanya.

Ia menjelaskan, dalam satu bulan terakhir Inspektorat melalui Irban V telah melakukan penelusuran terhadap berbagai laporan yang diterima guna memastikan validitas informasi yang berkembang.
Jika dalam proses tersebut ditemukan adanya indikasi tindak pidana, kata dia, maka akan segera dilimpahkan kepada aparat penegak hukum untuk ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku.

Lebih lanjut, Rudy menegaskan penguatan sistem merit menjadi kunci dalam membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan berorientasi pada pelayanan publik.

Redaksi Energi Juang News

Motor Listrik untuk MBG: Ketika Anggaran Publik Melenceng dari Prioritas

Motor Listrik untuk MBG: Ketika Anggaran Publik Melenceng dari Prioritas

Kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN) yang memesan sekitar 25 ribu unit motor listrik merek Emmo JVX GT untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) patut dikritisi secara serius. Di tengah keterbatasan fiskal dan kebutuhan mendesak untuk pemenuhan gizi masyarakat, kebijakan ini berpotensi menjadi contoh nyata pemborosan anggaran negara yang tidak selaras dengan tujuan utama program.

Data menunjukkan bahwa harga satu unit motor listrik tersebut mencapai sekitar Rp49,95 juta (termasuk pajak). Dengan jumlah pengadaan 25.000 unit, potensi anggaran yang terserap bisa mencapai sekitar Rp1,2 triliun, bahkan total paket pengadaan serupa dalam sistem pemerintah tercatat hingga sekitar Rp2,4 triliun.

Motor Listrik BGN Dinilai Melenceng dari Fungsi Inti Program MBG

  Angka ini sangat signifikan jika dibandingkan dengan kebutuhan langsung program MBG, yaitu penyediaan makanan bergizi bagi masyarakat rentan.
Secara prinsip ekonomi publik, sebagaimana dijelaskan dalam teori public expenditure prioritization, setiap belanja negara harus diarahkan pada core function program. Dalam konteks MBG, fungsi inti adalah distribusi dan kualitas makanan, bukan pengadaan aset penunjang yang mahal.

Bahkan, peringatan dari otoritas fiskal menyebut bahwa belanja pendukung seperti kendaraan operasional harus mempertimbangkan urgensi agar tidak menggeser prioritas utama program. 
Masalahnya, penggunaan motor listrik sebagai sarana operasional tidak otomatis menjamin efektivitas distribusi gizi.

Tanpa sistem logistik yang matang—termasuk rantai pasok makanan, tenaga distribusi, dan infrastruktur penyimpanan—kendaraan hanya menjadi simbol modernisasi yang mahal. Lebih jauh, fakta bahwa ribuan unit motor tersebut belum didistribusikan karena masih menunggu administrasi sebagai Barang Milik Negara menunjukkan adanya potensi inefisiensi dalam perencanaan. 

Triliunan Rupiah untuk Kendaraan, Bukan untuk Gizi dan Dapur MBG

Dari perspektif opportunity cost, alokasi triliunan rupiah untuk kendaraan jelas mengorbankan alternatif penggunaan anggaran yang lebih berdampak langsung. Dana sebesar itu bisa digunakan untuk memperluas cakupan penerima manfaat, meningkatkan kualitas menu gizi, atau memperkuat fasilitas dapur umum dan tenaga kesehatan.

Dalam kondisi di mana masalah stunting dan kekurangan gizi masih menjadi tantangan nasional, pengalihan anggaran ke sektor non-esensial merupakan keputusan yang sulit dibenarkan.
Selain itu, pilihan spesifik terhadap motor listrik dengan harga relatif tinggi juga memunculkan pertanyaan tentang efisiensi dan transparansi pengadaan.

Apakah tidak ada alternatif yang lebih murah dan fungsional? Apakah kajian kebutuhan operasional telah dilakukan secara komprehensif?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk memastikan bahwa kebijakan publik tidak sekadar menjadi proyek belanja, tetapi benar-benar solusi atas masalah.
Memang, ada argumen bahwa pengadaan ini dapat mendorong industri kendaraan listrik nasional. Namun, menjadikan program sosial sebagai instrumen stimulus industri tanpa desain kebijakan yang matang justru berisiko menciptakan distorsi.

Program MBG seharusnya berorientasi pada kesejahteraan rakyat, bukan menjadi kendaraan bagi agenda sektoral tertentu.

Pada akhirnya, kebijakan pengadaan 25 ribu motor listrik oleh BGN mencerminkan problem klasik dalam tata kelola anggaran: ketidaktepatan prioritas. Ketika belanja penunjang justru lebih menonjol daripada substansi program, maka yang terjadi bukanlah efisiensi, melainkan pemborosan yang dilegitimasi.

Negara seharusnya memastikan bahwa setiap rupiah anggaran publik benar-benar menyasar kebutuhan paling mendasar rakyat. Dalam kasus ini, jawabannya jelas: makanan bergizi jauh lebih mendesak daripada motor listrik.

Oleh Hizkia Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)

Misteri Gedung Biru Kalimalang: Teror Tiga Klakson di Tengah Malam

Gedung-biru-kalimalang-bekasi
Gedung-biru-kalimalang-bekasi

Energi Juang News, Bekasi- Malam itu, jalanan di Kalimalang tampak lengang. Hanya suara gesekan ban dengan aspal yang basah dan sesekali angin yang berdesir pelan di antara pepohonan tua. Lampu jalan berkedip redup, seolah enggan menerangi satu bangunan yang berdiri bisu di tepi jalan: sebuah gedung bercat biru yang telah memudar, lembap, dan dipenuhi noda waktu.

Raka, seorang pengemudi ojek online, baru pertama kali melewati jalur itu sendirian. Ia mengernyit melihat bangunan tersebut.

“Kenapa ya, kok merinding gini?” gumamnya pelan.

Di kejauhan, ia melihat seorang pria tua duduk di warung kecil yang hampir tutup. Raka menghampiri, sekadar ingin memastikan rute.

“Pak, ini jalan ke Tambun Selatan kan?” tanya Raka.

Pria itu menatapnya lama, lalu mengangguk pelan.
“Iya… tapi kamu baru pertama lewat sini, ya?”

Raka mengangguk.
“Iya, Pak. Kenapa emangnya?”

Pria itu menoleh ke arah gedung biru. Wajahnya berubah serius.
“Kalau lewat depan gedung itu… bunyikan klakson tiga kali.”

Raka tertawa kecil.
“Ah, masa sih, Pak? Kayak film aja.”

Pria itu tidak ikut tertawa.
“Kalau nggak mau ditemenin di jalan… turuti saja.”

Suasana tiba-tiba terasa lebih dingin. Raka mengangguk ragu, lalu melanjutkan perjalanan.

Ketika mendekati gedung tersebut, hawa di sekitar berubah drastis. Mesin motor terasa berat, dan lampu jalan di depan gedung itu tampak lebih redup dibandingkan yang lain.

Gedung biru itu tampak lebih menyeramkan dari dekat. Catnya mengelupas, jendelanya gelap, dan beberapa bagian dinding tampak basah seperti tak pernah kering.

Raka mengingat pesan pria tadi. Ia menghela napas, lalu ia membunyikan klakson tiga kali.

Suara itu menggema di antara keheningan malam.

Beberapa detik berlalu. Tidak terjadi apa-apa.

Raka tersenyum lega.
“Ah, cuma mitos,” katanya.

Namun, saat ia hendak menarik gas, tiba-tiba terdengar suara pelan dari dalam gedung.

Suara tangisan anak kecil memanggil samar tak begitu jelas terdengar.

Raka membeku karena suara itu makin terdengar jelas. Bukan dari luar, melainkan dari dalam gedung.

“Ma… mama…”…suara itu lirih, bergema menyayat hati yang mendengarnya, dan meskipun bergema terdengar begitu nyata.

Raka mulai penasaran asal suara sambil menelan ludah. Ia menoleh perlahan ke arah gedung yang gelap tak ada cahaya dari dalam.

Di salah satu jendela yang pecah, tampak bayangan kecil berdiri diam tersinari cahaya dari luar.

Tampak samar bayangan seorang anak kecil, matanya kosong mengarah ke dirinya. Sosok itu terlihat kulitnya yang pucat, dan bibirnya bergerak seolah memanggil seseorang.

Seketika bulu kuduk Raka meremang tiba tiba,spontan ia memalingkan pandangan dari sosok itu.
“Ini nggak bener… ini nggak bener…” katanya terbata bata.

Langsung Raka menarik gas motor secepat mungkin dan meninggalkan tempat itu bermasuk tak mau terlalu dalam mengamati sosok itu, takut alam pikirannya terbawa sosok itu.

Keesokan harinya, rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Raka kembali ke warung tempat ia bertemu pria tua itu.

“Pak… semalam saya dengar suara anak kecil dari gedung itu,” kata Raka dengan wajah pucat.

Pria itu menghela napas panjang. “Bukan cuma kamu.” jawabnya.

Seorang ibu yang duduk di sebelah mereka ikut menyela.
“Saya pernah lihat… perempuan pakai baju putih. Rambutnya panjang… berdiri di depan gedung itu.”

Raka menatapnya tegang “Ibu serius?”.

Ibu itu mengangguk pelan “Waktu itu saya lupa bunyikan klakson. Tiba-tiba dia muncul di pinggir jalan disertai aroma wangi aneh membuat bulu kuduk merinding dan terus hilang.”

Pria tua itu menambahkan, “Dulu gedung itu tempat biliar. Ramai. Tapi sejak kejadian bentrokan antar warga… semuanya berubah.”

“Banyak yang luka… bahkan ada yang meninggal seorang ibu sedang menggendong anaknya jadi korban . Setelah itu, pegawai mulai dengar suara aneh. Ada yang lihat penampakan… sampai akhirnya tempat itu ditutup.”

Sejak saat itu, Raka tidak pernah lagi meremehkan peringatan warga.

Setiap kali melewati gedung biru itu, ia selalu membunyikan klakson tiga kali.

Namun, satu pertanyaan terus menghantuinya:

Apakah klakson itu benar-benar mengusir mereka…
atau justru memberi tanda bahwa kita sedang lewat di wilayah mereka?

Malam demi malam, gedung itu tetap berdiri diam. Kusam. Gelap. Seolah menyimpan cerita yang tak ingin terungkap.

Redaksi Energi Juang News

Musik, Monolog, dan Jiwa Seni: Jejak Kreatif Butet Kartaredjasa

Butet Kertaradjasa
Butet Kertaradjasa

Energi Juang News,Yogyakarta- Ada sesuatu yang selalu terasa hidup ketika kita membicarakan seni pertunjukan di Indonesia. Ia bukan sekadar tontonan, melainkan pengalaman yang menyentuh banyak lapisan—emosi, sosial, bahkan spiritual. Dalam ruang-ruang pertunjukan itu, kita sering menemukan bentuk ekspresi yang sulit dijelaskan dengan logika semata, tetapi justru terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Di titik inilah sosok Butet Kartaredjasa menjadi menarik untuk dibedah. Ia bukan hanya aktor, bukan sekadar penulis, dan bukan pula perupa biasa. Ia adalah representasi dari bagaimana berbagai cabang seni bisa saling bersilangan, termasuk dalam hal yang sering luput dibahas: relasi antara musik dan monolog dalam seni pertunjukan.

Dalam dunia teater, musik bukan hanya pelengkap. Ia adalah struktur tak kasat mata yang membangun suasana, ritme, dan emosi. Dalam banyak karya yang melibatkan Butet, peran musik terasa sangat signifikan—terutama ketika ia bekerja bersama sosok seperti Djaduk Ferianto.

Musik dalam pertunjukan monolog bukanlah sekadar latar. Ia bekerja seperti “lawan main” yang diam, tetapi berpengaruh besar. Dalam pertunjukan Matinya Toekang Kritik, misalnya, tata musik membantu membangun intensitas selama dua setengah jam tanpa jeda. Itu bukan durasi yang ringan, dan tanpa dukungan musikal yang tepat, energi pertunjukan bisa runtuh.

Bagi generasi muda yang akrab dengan playlist digital, memahami peran musik dalam teater bisa membuka perspektif baru: bahwa musik tidak selalu hadir sebagai lagu, tetapi juga sebagai atmosfer.

Lahir dari keluarga seniman membuat Butet tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan eksperimen artistik. Ayahnya, Bagong Kussudiardja, bukan hanya seorang maestro tari, tetapi juga sosok yang menanamkan filosofi kebebasan dalam berkesenian.

Menariknya, Butet justru memilih jalan yang berbeda. Ia meninggalkan tari dan beralih ke teater, sastra, serta seni rupa. Keputusan ini bukan bentuk penolakan, melainkan pencarian identitas. Ia tidak ingin sekadar menjadi “bayangan” dari nama besar ayahnya.

Pilihan ini relevan dengan kondisi anak muda hari ini—di tengah tekanan sosial dan ekspektasi keluarga, menemukan suara sendiri adalah bentuk keberanian yang tidak mudah.

Salah satu titik penting dalam perjalanan artistik Butet terjadi saat ia menyaksikan pertunjukan Hamlet oleh W.S. Rendra di Taman Ismail Marzuki. Di usia 15 tahun, ia melihat bagaimana monolog bisa menjadi begitu hidup, kuat, dan memikat.

Dari sana, lahir sebuah tekad: suatu hari ia ingin berdiri di panggung dengan kekuatan yang sama.

Dalam konteks sejarah musik dan teater Indonesia, momen ini penting. Rendra dikenal sebagai sosok yang mampu memadukan puisi, teater, dan musikalitas bahasa dalam satu tubuh pertunjukan. Energi itulah yang kemudian diwarisi—dan diinterpretasi ulang—oleh Butet.

Jika kita melihat lebih dalam, monolog sebenarnya memiliki struktur yang mirip dengan komposisi musik. Ada ritme, dinamika, jeda, dan klimaks. Seorang aktor monolog seperti Butet harus mampu “memainkan” semua elemen itu sendirian.

Prosesnya tidak sederhana. Ia dimulai dari membaca naskah, memahami karakter, hingga membangun imajinasi tentang peristiwa yang terjadi. Semua itu kemudian diterjemahkan ke dalam suara, gestur, dan tempo bicara.

Dalam konteks ini, aktor menjadi seperti konduktor—mengatur alur emosi penonton melalui “musik” yang ia ciptakan dari tubuh dan suaranya sendiri.

Salah satu hal yang sering disalahpahami tentang seni adalah anggapan bahwa ia lahir dari spontanitas semata. Padahal, di balik setiap pertunjukan besar, ada disiplin yang luar biasa.

Butet pernah mengalami kegagalan di panggung pada tahun 1997 ketika ia kehilangan suara di tengah pertunjukan. Momen itu menjadi titik balik. Ia menyebut dirinya sebagai “aktor yang kalah”.

Namun, dari kegagalan itu lahir komitmen baru: untuk mempersiapkan diri dengan lebih serius. Hasilnya terlihat dalam Matinya Toekang Kritik, yang menjadi salah satu pencapaian puncaknya.

Bagi audiens muda, ini adalah pengingat bahwa kreativitas tidak bisa dilepaskan dari konsistensi dan kerja keras.

Selain teater, Butet juga aktif di dunia seni rupa dan kepenulisan. Karya seperti Wirid Series menunjukkan sisi lain dari dirinya—lebih personal, lebih kontemplatif.

Menariknya, ia menyebut karya ini sebagai “monolog visual”. Ini menunjukkan bahwa bagi Butet, batas antar medium seni sebenarnya sangat cair. Apa yang dulu ia ekspresikan melalui kata-kata di panggung, kini ia tuangkan melalui goresan tangan.

Dalam sejarah seni modern, pendekatan lintas medium seperti ini semakin relevan. Seniman tidak lagi terkotak dalam satu disiplin, melainkan bebas menjelajah berbagai bentuk ekspresi.

Salah satu kekuatan utama karya-karya Butet adalah kemampuannya menggabungkan kritik sosial dengan humor. Ini juga terlihat dalam tradisi teater Indonesia seperti yang dilakukan Teater Gandrik.

Musik sering menjadi elemen penting dalam menyampaikan kritik tersebut. Ia bisa melembutkan pesan yang keras, sekaligus memperkuat ironi yang ingin disampaikan.

Dalam konteks budaya populer, pendekatan ini mirip dengan bagaimana musisi menggunakan lirik untuk menyuarakan isu sosial—dari ketidakadilan hingga absurditas kehidupan modern.

Di era digital, tantangan menjadi seniman semakin kompleks. Ada tuntutan untuk relevan, cepat, dan viral. Namun, perjalanan Butet menunjukkan bahwa esensi seni tetap sama: kejujuran, disiplin, dan kepercayaan.

Ia tidak pernah menjadikan uang sebagai tujuan utama. Justru dengan mencintai apa yang ia kerjakan, penghargaan—termasuk secara ekonomi—datang sebagai konsekuensi.

Ini adalah perspektif yang penting bagi generasi muda yang sering terjebak dalam logika “hasil instan”.

Pada akhirnya, musik, teater, dan seni rupa bukan hanya tentang karya. Ia adalah cara hidup. Cara melihat dunia, merespons realitas, dan memahami diri sendiri.

Butet Kartaredjasa adalah contoh bagaimana seseorang bisa menjalani hidup dengan penuh kesadaran artistik—tanpa harus terjebak dalam satu identitas.

Dan mungkin, di tengah hiruk-pikuk dunia modern, kita semua butuh sedikit “monolog”—ruang untuk mendengar suara diri sendiri, dengan iringan musik kehidupan yang terus mengalun.

Redaksi Energi Juang News