Kamis, Mei 28, 2026
spot_img
Beranda blog Halaman 64

Misteri Gedung Biru Kalimalang: Teror Tiga Klakson di Tengah Malam

Gedung-biru-kalimalang-bekasi
Gedung-biru-kalimalang-bekasi

Energi Juang News, Bekasi- Malam itu, jalanan di Kalimalang tampak lengang. Hanya suara gesekan ban dengan aspal yang basah dan sesekali angin yang berdesir pelan di antara pepohonan tua. Lampu jalan berkedip redup, seolah enggan menerangi satu bangunan yang berdiri bisu di tepi jalan: sebuah gedung bercat biru yang telah memudar, lembap, dan dipenuhi noda waktu.

Raka, seorang pengemudi ojek online, baru pertama kali melewati jalur itu sendirian. Ia mengernyit melihat bangunan tersebut.

“Kenapa ya, kok merinding gini?” gumamnya pelan.

Di kejauhan, ia melihat seorang pria tua duduk di warung kecil yang hampir tutup. Raka menghampiri, sekadar ingin memastikan rute.

“Pak, ini jalan ke Tambun Selatan kan?” tanya Raka.

Pria itu menatapnya lama, lalu mengangguk pelan.
“Iya… tapi kamu baru pertama lewat sini, ya?”

Raka mengangguk.
“Iya, Pak. Kenapa emangnya?”

Pria itu menoleh ke arah gedung biru. Wajahnya berubah serius.
“Kalau lewat depan gedung itu… bunyikan klakson tiga kali.”

Raka tertawa kecil.
“Ah, masa sih, Pak? Kayak film aja.”

Pria itu tidak ikut tertawa.
“Kalau nggak mau ditemenin di jalan… turuti saja.”

Suasana tiba-tiba terasa lebih dingin. Raka mengangguk ragu, lalu melanjutkan perjalanan.

Ketika mendekati gedung tersebut, hawa di sekitar berubah drastis. Mesin motor terasa berat, dan lampu jalan di depan gedung itu tampak lebih redup dibandingkan yang lain.

Gedung biru itu tampak lebih menyeramkan dari dekat. Catnya mengelupas, jendelanya gelap, dan beberapa bagian dinding tampak basah seperti tak pernah kering.

Raka mengingat pesan pria tadi. Ia menghela napas, lalu ia membunyikan klakson tiga kali.

Suara itu menggema di antara keheningan malam.

Beberapa detik berlalu. Tidak terjadi apa-apa.

Raka tersenyum lega.
“Ah, cuma mitos,” katanya.

Namun, saat ia hendak menarik gas, tiba-tiba terdengar suara pelan dari dalam gedung.

Suara tangisan anak kecil memanggil samar tak begitu jelas terdengar.

Raka membeku karena suara itu makin terdengar jelas. Bukan dari luar, melainkan dari dalam gedung.

“Ma… mama…”…suara itu lirih, bergema menyayat hati yang mendengarnya, dan meskipun bergema terdengar begitu nyata.

Raka mulai penasaran asal suara sambil menelan ludah. Ia menoleh perlahan ke arah gedung yang gelap tak ada cahaya dari dalam.

Di salah satu jendela yang pecah, tampak bayangan kecil berdiri diam tersinari cahaya dari luar.

Tampak samar bayangan seorang anak kecil, matanya kosong mengarah ke dirinya. Sosok itu terlihat kulitnya yang pucat, dan bibirnya bergerak seolah memanggil seseorang.

Seketika bulu kuduk Raka meremang tiba tiba,spontan ia memalingkan pandangan dari sosok itu.
“Ini nggak bener… ini nggak bener…” katanya terbata bata.

Langsung Raka menarik gas motor secepat mungkin dan meninggalkan tempat itu bermasuk tak mau terlalu dalam mengamati sosok itu, takut alam pikirannya terbawa sosok itu.

Keesokan harinya, rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Raka kembali ke warung tempat ia bertemu pria tua itu.

“Pak… semalam saya dengar suara anak kecil dari gedung itu,” kata Raka dengan wajah pucat.

Pria itu menghela napas panjang. “Bukan cuma kamu.” jawabnya.

Seorang ibu yang duduk di sebelah mereka ikut menyela.
“Saya pernah lihat… perempuan pakai baju putih. Rambutnya panjang… berdiri di depan gedung itu.”

Raka menatapnya tegang “Ibu serius?”.

Ibu itu mengangguk pelan “Waktu itu saya lupa bunyikan klakson. Tiba-tiba dia muncul di pinggir jalan disertai aroma wangi aneh membuat bulu kuduk merinding dan terus hilang.”

Pria tua itu menambahkan, “Dulu gedung itu tempat biliar. Ramai. Tapi sejak kejadian bentrokan antar warga… semuanya berubah.”

“Banyak yang luka… bahkan ada yang meninggal seorang ibu sedang menggendong anaknya jadi korban . Setelah itu, pegawai mulai dengar suara aneh. Ada yang lihat penampakan… sampai akhirnya tempat itu ditutup.”

Sejak saat itu, Raka tidak pernah lagi meremehkan peringatan warga.

Setiap kali melewati gedung biru itu, ia selalu membunyikan klakson tiga kali.

Namun, satu pertanyaan terus menghantuinya:

Apakah klakson itu benar-benar mengusir mereka…
atau justru memberi tanda bahwa kita sedang lewat di wilayah mereka?

Malam demi malam, gedung itu tetap berdiri diam. Kusam. Gelap. Seolah menyimpan cerita yang tak ingin terungkap.

Redaksi Energi Juang News

Musik, Monolog, dan Jiwa Seni: Jejak Kreatif Butet Kartaredjasa

Butet Kertaradjasa
Butet Kertaradjasa

Energi Juang News,Yogyakarta- Ada sesuatu yang selalu terasa hidup ketika kita membicarakan seni pertunjukan di Indonesia. Ia bukan sekadar tontonan, melainkan pengalaman yang menyentuh banyak lapisan—emosi, sosial, bahkan spiritual. Dalam ruang-ruang pertunjukan itu, kita sering menemukan bentuk ekspresi yang sulit dijelaskan dengan logika semata, tetapi justru terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Di titik inilah sosok Butet Kartaredjasa menjadi menarik untuk dibedah. Ia bukan hanya aktor, bukan sekadar penulis, dan bukan pula perupa biasa. Ia adalah representasi dari bagaimana berbagai cabang seni bisa saling bersilangan, termasuk dalam hal yang sering luput dibahas: relasi antara musik dan monolog dalam seni pertunjukan.

Dalam dunia teater, musik bukan hanya pelengkap. Ia adalah struktur tak kasat mata yang membangun suasana, ritme, dan emosi. Dalam banyak karya yang melibatkan Butet, peran musik terasa sangat signifikan—terutama ketika ia bekerja bersama sosok seperti Djaduk Ferianto.

Musik dalam pertunjukan monolog bukanlah sekadar latar. Ia bekerja seperti “lawan main” yang diam, tetapi berpengaruh besar. Dalam pertunjukan Matinya Toekang Kritik, misalnya, tata musik membantu membangun intensitas selama dua setengah jam tanpa jeda. Itu bukan durasi yang ringan, dan tanpa dukungan musikal yang tepat, energi pertunjukan bisa runtuh.

Bagi generasi muda yang akrab dengan playlist digital, memahami peran musik dalam teater bisa membuka perspektif baru: bahwa musik tidak selalu hadir sebagai lagu, tetapi juga sebagai atmosfer.

Lahir dari keluarga seniman membuat Butet tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan eksperimen artistik. Ayahnya, Bagong Kussudiardja, bukan hanya seorang maestro tari, tetapi juga sosok yang menanamkan filosofi kebebasan dalam berkesenian.

Menariknya, Butet justru memilih jalan yang berbeda. Ia meninggalkan tari dan beralih ke teater, sastra, serta seni rupa. Keputusan ini bukan bentuk penolakan, melainkan pencarian identitas. Ia tidak ingin sekadar menjadi “bayangan” dari nama besar ayahnya.

Pilihan ini relevan dengan kondisi anak muda hari ini—di tengah tekanan sosial dan ekspektasi keluarga, menemukan suara sendiri adalah bentuk keberanian yang tidak mudah.

Salah satu titik penting dalam perjalanan artistik Butet terjadi saat ia menyaksikan pertunjukan Hamlet oleh W.S. Rendra di Taman Ismail Marzuki. Di usia 15 tahun, ia melihat bagaimana monolog bisa menjadi begitu hidup, kuat, dan memikat.

Dari sana, lahir sebuah tekad: suatu hari ia ingin berdiri di panggung dengan kekuatan yang sama.

Dalam konteks sejarah musik dan teater Indonesia, momen ini penting. Rendra dikenal sebagai sosok yang mampu memadukan puisi, teater, dan musikalitas bahasa dalam satu tubuh pertunjukan. Energi itulah yang kemudian diwarisi—dan diinterpretasi ulang—oleh Butet.

Jika kita melihat lebih dalam, monolog sebenarnya memiliki struktur yang mirip dengan komposisi musik. Ada ritme, dinamika, jeda, dan klimaks. Seorang aktor monolog seperti Butet harus mampu “memainkan” semua elemen itu sendirian.

Prosesnya tidak sederhana. Ia dimulai dari membaca naskah, memahami karakter, hingga membangun imajinasi tentang peristiwa yang terjadi. Semua itu kemudian diterjemahkan ke dalam suara, gestur, dan tempo bicara.

Dalam konteks ini, aktor menjadi seperti konduktor—mengatur alur emosi penonton melalui “musik” yang ia ciptakan dari tubuh dan suaranya sendiri.

Salah satu hal yang sering disalahpahami tentang seni adalah anggapan bahwa ia lahir dari spontanitas semata. Padahal, di balik setiap pertunjukan besar, ada disiplin yang luar biasa.

Butet pernah mengalami kegagalan di panggung pada tahun 1997 ketika ia kehilangan suara di tengah pertunjukan. Momen itu menjadi titik balik. Ia menyebut dirinya sebagai “aktor yang kalah”.

Namun, dari kegagalan itu lahir komitmen baru: untuk mempersiapkan diri dengan lebih serius. Hasilnya terlihat dalam Matinya Toekang Kritik, yang menjadi salah satu pencapaian puncaknya.

Bagi audiens muda, ini adalah pengingat bahwa kreativitas tidak bisa dilepaskan dari konsistensi dan kerja keras.

Selain teater, Butet juga aktif di dunia seni rupa dan kepenulisan. Karya seperti Wirid Series menunjukkan sisi lain dari dirinya—lebih personal, lebih kontemplatif.

Menariknya, ia menyebut karya ini sebagai “monolog visual”. Ini menunjukkan bahwa bagi Butet, batas antar medium seni sebenarnya sangat cair. Apa yang dulu ia ekspresikan melalui kata-kata di panggung, kini ia tuangkan melalui goresan tangan.

Dalam sejarah seni modern, pendekatan lintas medium seperti ini semakin relevan. Seniman tidak lagi terkotak dalam satu disiplin, melainkan bebas menjelajah berbagai bentuk ekspresi.

Salah satu kekuatan utama karya-karya Butet adalah kemampuannya menggabungkan kritik sosial dengan humor. Ini juga terlihat dalam tradisi teater Indonesia seperti yang dilakukan Teater Gandrik.

Musik sering menjadi elemen penting dalam menyampaikan kritik tersebut. Ia bisa melembutkan pesan yang keras, sekaligus memperkuat ironi yang ingin disampaikan.

Dalam konteks budaya populer, pendekatan ini mirip dengan bagaimana musisi menggunakan lirik untuk menyuarakan isu sosial—dari ketidakadilan hingga absurditas kehidupan modern.

Di era digital, tantangan menjadi seniman semakin kompleks. Ada tuntutan untuk relevan, cepat, dan viral. Namun, perjalanan Butet menunjukkan bahwa esensi seni tetap sama: kejujuran, disiplin, dan kepercayaan.

Ia tidak pernah menjadikan uang sebagai tujuan utama. Justru dengan mencintai apa yang ia kerjakan, penghargaan—termasuk secara ekonomi—datang sebagai konsekuensi.

Ini adalah perspektif yang penting bagi generasi muda yang sering terjebak dalam logika “hasil instan”.

Pada akhirnya, musik, teater, dan seni rupa bukan hanya tentang karya. Ia adalah cara hidup. Cara melihat dunia, merespons realitas, dan memahami diri sendiri.

Butet Kartaredjasa adalah contoh bagaimana seseorang bisa menjalani hidup dengan penuh kesadaran artistik—tanpa harus terjebak dalam satu identitas.

Dan mungkin, di tengah hiruk-pikuk dunia modern, kita semua butuh sedikit “monolog”—ruang untuk mendengar suara diri sendiri, dengan iringan musik kehidupan yang terus mengalun.

Redaksi Energi Juang News

10 Pasangan Non-Pasutri Diamankan di Dramaga

Petugas gabungan saat patroli KRYD di kawasan Dramaga Kabupaten Bogor

Energi Juang News, Bogor – Petugas gabungan mengamankan 10 pasangan non-pasutri saat patroli rutin di kawasan Dramaga, Kabupaten Bogor. Aparat menemukan mereka di sejumlah penginapan dalam operasi yang digelar pada akhir pekan.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Kegiatan Rutin yang Ditingkatkan (KRYD) yang dilakukan aparat untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Patroli KRYD Ungkap Temuan di Penginapan

Tim gabungan menyisir beberapa penginapan setelah menerima laporan dari warga. Selain itu, petugas juga menyasar potensi gangguan keamanan lainnya.

Kapolsek Dramaga Iptu AM Zalukhu mengatakan patroli KRYD menyasar minuman keras, narkotika, obat keras, hingga pasangan yang bukan suami istri.

“Dari patroli KRYD tersebut mengamankan 10 pasangan yang bukan suami istri di penginapan yang kita periksa,” kata Zalukhu, Minggu (12/4/2026).

Petugas mulai bergerak sejak tengah malam. Dalam operasi tersebut, aparat menemukan seluruh pasangan di satu penginapan yang menjadi lokasi pemeriksaan.

Mereka berasal dari sejumlah wilayah berbeda.

“Sepuluh pasangan kita amankan dari satu penginapan. Rinciannya, dua pasangan asal Dramaga Bogor, dua pasangan asal Kemang Bogor, tiga pasangan asal Ciampea Bogor, satu pasangan asal Bekasi, dan dua pasangan asal Jakarta,” ujarnya.

Pasangan Dibina dan Dipulangkan

Setelah diamankan, seluruh pasangan dibawa ke Polsek Dramaga untuk menjalani pendataan dan pembinaan.

Petugas juga meminta mereka membuat pernyataan agar tidak mengulangi perbuatannya.

“Mereka kita bawa ke polsek untuk diberikan pembinaan dan pernyataan untuk tidak diulangi kembali. Selanjutnya, 10 pasangan yang diamankan tersebut dikembalikan kepada keluarganya,” kata Zalukhu.

Patroli KRYD rutin dilakukan aparat sebagai langkah pencegahan terhadap potensi gangguan keamanan dan ketertiban di wilayah Dramaga.

Redaksi Energi Juang News

Harga Plastik Naik 50%, Warga Diajak Pakai Daun Pisang

Harga Plastik Naik 50%, Warga Diajak Pakai Daun Pisang

Energi Juang News, Jakarta – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, merespons lonjakan harga plastik di pasaran yang disebut-sebut menyentuh angka signifikan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan langkah inovatif guna menekan ketergantungan masyarakat terhadap plastik sekali pakai.

Pramono Soroti Dampak Kenaikan Harga Plastik

Pramono menegaskan bahwa lonjakan harga plastik bukan berada dalam kendali Pemprov DKI. Namun, kondisi tersebut tetap perlu disikapi dengan langkah konkret.

“Jadi harga plastik ini memang naik, dan harga plastik ini terus terang ketentuan ketentuannya bukan di Pemerintah DKI Jakarta. Tetapi tentunya kami harus melakukan inovasi karena sekarang ini kebutuhan plastik ini kan pelan-pelan harus dikurangi, harus ada substitusinya,” ujar Pramono kepada wartawan di kantor Wali Kota Jakarta Timur, Minggu (12/4/2026).

Ia menilai kondisi ini berpotensi menambah beban pengeluaran masyarakat. Karena itu, ia mendorong warga untuk mulai beralih ke alternatif yang lebih sederhana dan ramah lingkungan.

Daun Pisang Jadi Solusi Tradisional

Pramono mengajak masyarakat kembali memanfaatkan cara-cara tradisional, seperti menggunakan daun pisang sebagai pembungkus makanan.

“Kalau kondisinya tetap seperti ini, pasti akan menjadi beban. Maka untuk itu ya kita kadang-kadang harus kembali ke cara tradisional, pakai bungkus daun pisang dan sebagainya,” ucapnya.

Langkah ini dinilai tidak hanya menekan biaya, tetapi juga membantu mengurangi limbah plastik di ibu kota.

Kenaikan Harga Dipicu Gangguan Impor

Kenaikan harga plastik terjadi di berbagai jenis produk. Gangguan pasokan bahan baku impor menjadi salah satu penyebab utama, terutama akibat konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Sekretaris Jenderal DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Reynaldi Sarijowan, menyebut kenaikan sudah terlihat sejak awal Ramadan dan terus meningkat hingga sekarang.

“Kami pantau sudah cukup lama, pada saat memasuki bulan suci Ramadan harga plastik sudah mulai ada kenaikan. Puncaknya ini harganya yang kami sudah hitung kenaikannya mencapai 50%,” kata Reynaldi kepada detikcom, Minggu (5/4).

Ia menambahkan, Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku plastik, sehingga rentan terhadap fluktuasi global.

Harga Plastik di Pasaran Ikut Terkerek

Sejumlah harga produk plastik mengalami kenaikan cukup tajam. Plastik kresek, misalnya, naik dari Rp 10.000 menjadi Rp 15.000 per pak. Produk lainnya juga ikut terkerek, dari Rp 20.000 menjadi Rp 25.000.

Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan pedagang dan konsumen, terutama bagi usaha kecil yang bergantung pada plastik sebagai kemasan utama.

Redaksi Energi Juang News

Huawei Pura 90 Akan Diluncurkan di China

Energi Juang News, Beijing – Seri ponsel Huawei Pura 90 akan diluncurkan di China pada 20 April 2026.

Namun, sampai sekarang perusahaan baru menyampaikan informasi dan membuka layanan pemesanan awal untuk model Huawei Pura 90 Pro dan Pura 90 Pro Max saja.

Gizmochina pada Sabtu (11/4) mengutip keterangan informan Fixed Focus Digital yang menyebutkan bahwa Huawei sepenuhnya meniadakan model Ultra pada generasi Pura 90.

Artinya, seri Huawei Pura 90 akan tersedia dalam versi standar, Pro, dan Pro Max, tidak tersedia dalam empat model seperti seri Pura 80.

Pembocor informasi teknologi Digital Chat Station mengungkapkan bahwa beberapa jenama ponsel pintar lain juga telah menunda peluncuran perangkat andalan model Ultra.

Perusahaan-perusahaan pembuat ponsel pintar diperkirakan bakal merombak portofolio produk mereka.

Model Pro Max yang biasanya berada di bawah Ultra kemungkinan bakal diwarisi beberapa fitur pencitraan yang sebelumnya hanya tersedia pada model Ultra. Pada dasarnya, model Pro Max bakal menggantikan model Ultra.
Menurut keterangan informan, perombakan portofolio produk tersebut berkaitan dengan peningkatan harga memori.

Karena harga memori tinggi, apabila perusahaan memaksakan untuk merilis model Ultra maka harga penjualan perangkatnya bisa melampaui 10.000 yuan atau sekitar Rp25 juta, melebihi harga tipikal ponsel-ponsel model Ultra.

Peningkatan harga memori sampai saat ini diwartakan belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda.
Menurut laporan dari Counterpoint Research, kesenjangan pasokan di pasar memori kemungkinan besar tidak akan teratasi setidaknya hingga paruh kedua 2027.

Faktor-faktor tersebut ditambah permintaan ponsel model Ultra yang terbatas kemungkinan akan mendorong banyak merek untuk memilih menghentikan produksi model Ultra.

Redaksi Energi Juang News

 

Viral Injak Al-Quran Lebak, Dua Wanita Jadi Tersangka

Viral Injak Al-Qur’an Lebak, Dua Wanita Jadi Tersangka

Energi Juang News, Banten – Dua perempuan di Desa Sukaraja, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Banten, menjadi sorotan publik setelah sebuah video memperlihatkan aksi sumpah menggunakan Al-Quran dengan cara tidak lazim. Video tersebut menyebar luas di media sosial dan memicu reaksi keras dari masyarakat.

Kronologi Kejadian yang Viral

Peristiwa ini bermula dari perselisihan antara dua perempuan berinisial NR dan MT. Dalam video yang beredar, NR terlihat meminta MT bersumpah terkait dugaan pencurian. Namun, cara sumpah yang dilakukan menuai kontroversi karena Al-Qur’an justru diletakkan di bawah kaki.

Aksi tersebut direkam dan kemudian viral, hingga akhirnya menarik perhatian aparat kepolisian.

Polisi Amankan Kedua Pihak

Pihak kepolisian bergerak cepat setelah video itu menyebar luas. Kedua perempuan tersebut langsung diamankan guna mencegah situasi semakin memanas.

“Kita secepat mungkin mengamankan kedua belah pihak agar menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Kasi Humas Polres Lebak, Iptu Moestafa Ibnu Syafir, Sabtu (11/4/2026).

Awal Mula Perselisihan

Kasus ini berawal dari dugaan kehilangan alat make up milik NR yang dipesan secara online. Tanpa bukti kuat, NR menuduh MT sebagai pelaku pencurian.

“Jadi itu mereka sebenarnya berteman, yang punya salon itu pesan paket lalu disimpan. Si pemilik ini menuduh inisial MT, berhubung nggak puas atas pengakuan kemudian melakukan sumpah Al-Qur’an,” kata Moestafa.

Dijerat Pasal Penistaan Agama

Polisi menilai tindakan tersebut masuk dalam kategori penistaan agama. Proses hukum pun langsung berjalan setelah pemeriksaan dilakukan.

“Yang jelas masuk ke dalam pasal itu, penistaan agama,” ucapnya.

Status Tersangka dan Penahanan

Polres Lebak memastikan kedua perempuan tersebut kini telah berstatus tersangka dan langsung ditahan.

“Sudah ditetapkan sebagai tersangka. Iya langsung ditahan,” kata Moestafa.

Menurutnya, keduanya secara sadar melakukan tindakan yang dianggap menistakan agama. Selain itu, cara sumpah yang dilakukan dinilai tidak sesuai dengan ketentuan.

“Cara sumpah Al-Qur’an juga bukan seperti itu, terus yang memberatkan ini kitab suci Al-Quran, itu buat sumpah harusnya di atas kepala bukan di bawah kaki,” katanya.

“Dengan sengaja mereka jelas kepenistaan agamanya. Motifnya jelas karena mereka tau Al-Qur’an kitab suci, kecuali bukan muslim,” tambahnya.

NR dijerat dengan Pasal 301 atau 300 atau 305 jo Pasal 20 Undang-undang No 1 tahun 2023 Jo Undang-undang No 1 tahun 2026 tentang penyesuaian pidana. Sementara MT dijerat dengan Pasal 300 atau 305 Jo Pasal 20 Undang-undang No 1 tahun 2023, Jo Undang-undang No o 1 tahun 2026 tentang penyesuaian pidana.

Imbauan Kepolisian

Polisi mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh informasi yang beredar. Penanganan kasus ini disebut dilakukan secara cepat dan transparan.

“Polres Lebak sudah melakukan penindakan cepat dalam menangani kasus ini, dan sudah menetapkan tersangka dengan pasal yang dikenakan,” pungkasnya.

Redaksi Energi Juang News

Gencatan Paskah Rusia-Ukraina Langsung Dilanggar

Gencatan Paskah Rusia-Ukraina Langsung Dilanggar

Energi Juang News, Kyiv – Kesepakatan jeda tempur antara Rusia dan Ukraina saat perayaan Paskah Ortodoks justru berubah jadi babak baru saling tuding. Situasi di lapangan tetap panas meski kedua negara sempat menyatakan komitmen untuk menghentikan serangan sementara.

Gencatan 32 Jam Berujung Tuduhan Pelanggaran

Dilaporkan AFP, Minggu (12/4/2026), militer Ukraina menuding Rusia melanggar kesepakatan gencatan senjata yang seharusnya berlangsung selama 32 jam. Dalam periode singkat itu, hampir 470 insiden terjadi, mulai dari serangan udara, drone, hingga tembakan artileri.

Perintah gencatan senjata sebelumnya dikeluarkan Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada Kamis lalu. Langkah itu diambil lebih dari sepekan setelah Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, lebih dulu mengusulkan penghentian sementara konflik.

Kesepakatan tersebut berlaku sejak pukul 16.00 waktu setempat pada Sabtu (11/4) hingga Minggu (12/4). Namun, laporan militer Ukraina menyebut sebanyak 469 pelanggaran sudah terjadi bahkan sebelum jeda itu benar-benar terasa.

Rincian Serangan: Drone hingga Bom Udara

Ukraina mencatat sedikitnya 22 aksi penyerangan langsung, 153 tembakan artileri, serta puluhan serangan drone, termasuk drone FPV. Secara keseluruhan, Rusia disebut melancarkan 57 serangan udara dan menjatuhkan 182 bom berpemandu.

Selain itu, hampir 4.000 drone dikerahkan dan lebih dari 2.400 serangan artileri menghantam wilayah permukiman dan posisi militer Ukraina.

Rusia Balik Tuduh Ukraina

Di sisi lain, Rusia juga melontarkan tuduhan serupa. Gubernur wilayah Kursk, Alexander Khinshtein, menyebut Ukraina menyerang sebuah SPBU di kota Lgov menggunakan drone.

Serangan itu dilaporkan melukai tiga orang, termasuk seorang bayi, sehingga memperkuat narasi bahwa pelanggaran terjadi di kedua pihak.

Zelensky Dorong Gencatan Lebih Lama

Dalam pidatonya pada Sabtu malam, Zelensky kembali mendorong gencatan senjata dengan durasi lebih panjang.

“Kami telah mengajukan proposal ini kepada Rusia, dan jika Rusia sekali lagi memilih perang daripada perdamaian, ini akan sekali lagi menunjukkan kepada dunia, dan kepada Amerika Serikat, siapa yang sebenarnya menginginkan apa,” ujarnya.

Warga Tetap Waspada di Tengah Ketidakpastian

Penduduk di Kharkiv, kota yang kerap menjadi sasaran serangan, tidak sepenuhnya percaya dengan kesepakatan tersebut.

“Ini tidak akan berlangsung lama, hanya satu setengah hari, jadi mungkin akan bertahan. Tetapi bahkan jika Anda pergi ke gereja, tidak ada jaminan 100 persen bahwa semuanya akan damai. Anda tidak boleh mempercayai Putin dan pemerintahannya,” harap Oleg Polyskin (65).

“Akan menyenangkan jika tidak terjadi apa pun malam ini dan tenang, tanpa peringatan serangan udara. Tetapi kita tidak bisa tahu, karena tetangga kita tidak bisa dipercaya,” kata Sofiia Liapina (16).

Serangan Tetap Terjadi Jelang Gencatan

Beberapa jam sebelum gencatan dimulai, Rusia dilaporkan meluncurkan sekitar 160 drone ke wilayah Ukraina. Serangan itu menewaskan empat orang dan melukai puluhan lainnya.

Sebaliknya, serangan balasan dari Ukraina memicu kebakaran di depot minyak serta merusak bangunan apartemen di wilayah Krasnodar, Rusia.

Upaya Damai Masih Mandek

Meski sempat ada jeda tempur, upaya diplomasi belum menunjukkan kemajuan berarti. Kedua pihak memang sempat menukar 175 tawanan perang pada Sabtu, namun perundingan yang dimediasi Amerika Serikat masih berjalan lambat.

Perbedaan tajam terkait wilayah tetap menjadi penghambat utama. Ukraina mengusulkan pembekuan konflik di garis depan saat ini, sementara Rusia menuntut penyerahan penuh wilayah Donetsk syarat yang ditolak Kyiv.

Redaksi Energi Juang News

Reuni Berujung Ranjang, Rumah Tangga Ikut Tumbang

Pertengkaran seru di kamar tidur
Pertengkaran seru di kamar tidur

Energi Juang News,Surabaya- Kalau reuni itu ibarat sambal, harusnya cuma bikin hidup makin “nendang”. Tapi bagi trio Parjo, Peni, dan Mintul, reuni malah berubah jadi sambal setan: pedasnya sampai bikin rumah tangga gosong tak tersisa.

Awalnya semua tampak normal. Undangan reuni datang, hati berbunga. Parjo sumringah, Peni ikut girang. Ya iyalah, siapa sih yang nggak kangen masa SMA? Masa di mana cinta masih sebatas kirim-kiriman kertas lipat, bukan kirim chat “lagi apa sayang” jam 2 pagi.

Masalah mulai muncul ketika memori lama ternyata belum dihapus permanen. Parjo mendadak aktif membuka “folder kenangan” bernama Mintul—teman lama yang dulu cuma bisa dipandang dari jauh sambil nyengir pahit karena beda kasta ekonomi.

Dan seperti sinetron azab episode panjang, takdir mempertemukan mereka lagi. Mintul datang ke reuni dengan paket lengkap: cantik masih awet, status masih single, dan—ini yang bahaya—tersedia untuk nostalgia.

“Dulu kamu nggak daftar,” kata Mintul sambil tertawa.

Kalimat sederhana, tapi efeknya seperti diskon 90% di akhir bulan: bikin kalap.

Sejak saat itu, reuni berubah fungsi. Dari ajang silaturahmi menjadi proyek riset lapangan bertema “cinta lama memang belum tentu basi”. Parjo yang awalnya cuma ingin temu kangen, malah lanjut temu kangen plus-plus.

Hotel pun jadi saksi bisu. Dari yang awalnya “ngopi-ngopi lucu”, berubah jadi “ngopi sambil check-in”.

Di titik ini, Parjo bukan lagi suami. Dia sudah naik level jadi operator dua channel: rumah dan rahasia.

Sementara itu, Peni mulai merasa ada yang janggal. Nafkah batin seret, perhatian seperti sinyal di gunung—kadang ada, sering hilang. Dan seperti biasa, kebenaran di era modern tidak perlu detektif. Cukup buka HP, semua rahasia keluar sendiri.

Chat mesra bertebaran. Kata-kata yang dulu hanya untuk istri, kini dipakai massal seperti broadcast promo.

Peni pun bergerak. Bukan bikin status galau, tapi langsung konfrontasi ke sumber masalah: Mintul.

Sayangnya, yang dihadapi bukan orang biasa. Mintul tampil percaya diri bak peserta audisi:

“Kalau jodoh, jadi istri kedua juga siap.”

Kalimat itu bukan lagi ancaman, tapi pengumuman.

Di sinilah Peni menunjukkan kelasnya. Tidak teriak, tidak jambak-jambakan, tidak live IG. Dia memilih langkah paling elegan: keluar dari pertandingan.

Besoknya, gugatan cerai didaftarkan.

Selesai.

Tanpa drama panjang, tanpa rebutan panggung. Peni sadar, cinta yang harus dibagi itu bukan cinta—itu promo buy one get one yang tidak semua orang mau.

Sementara Parjo? Mungkin sekarang bahagia. Atau mungkin baru sadar bahwa mengelola dua hati itu tidak semudah mengelola dua akun media sosial.

Dan Mintul? Ya, dia akhirnya dapat yang dulu diincar. Tapi seperti kata pepatah baru: barang yang direbut, belum tentu awet dipeluk.

Redaksi Energi Juang News

Negosiasi AS-Iran di Pakistan Gagal Total

Negosiasi AS-Iran di Pakistan Gagal Total

Energi Juang News, Islamabad— Harapan meredanya konflik antara Iran dan Amerika Serikat kembali pupus setelah rangkaian perundingan panjang di Pakistan tidak menghasilkan kesepakatan. Kedua pihak mengakhiri pembicaraan tanpa titik temu, meski diskusi berlangsung intensif selama hampir sehari penuh.

Pembicaraan Maraton Tanpa Hasil

Dilansir CNN, Minggu (12/4/2026), Wakil Presiden AS JD Vance mengungkapkan bahwa pembicaraan yang berlangsung selama 21 jam tetap gagal mencapai kesepakatan permanen.

“Kami telah melakukannya selama 21 jam, dan kami telah melakukan sejumlah diskusi substantif dengan pihak Iran. Itu kabar baiknya,” kata Vance dalam konferensi pers di Islamabad.

Namun, ia menegaskan bahwa tidak ada kesepakatan yang tercapai dari perundingan tersebut.

“Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan. Dan saya pikir itu kabar buruk bagi Iran jauh lebih besar daripada kabar buruk bagi Amerika Serikat. Jadi kita kembali ke Amerika Serikat tanpa mencapai kesepakatan,” ujarnya.

Iran Soroti Sikap AS

Dari pihak Iran, juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baqaei, menyebut perundingan berlangsung intens. Namun, ia menilai hasil akhir sangat bergantung pada sikap Amerika Serikat.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan negosiasi yang masih berjalan “bergantung pada keseriusan dan itikad baik dari pihak lawan”.

Baca juga : Negosiasi Iran-AS Nyaris Deal, Trump Ancam Hormuz

Baqaei juga meminta Washington untuk menahan diri dari tuntutan yang dinilai berlebihan.

Ia menyerukan agar AS tidak mengajukan permintaan yang melanggar hukum serta mengakui “hak dan kepentingan sah” Iran.

Isu Strategis Jadi Pembahasan Utama

Dalam perundingan tersebut, sejumlah isu krusial menjadi fokus pembahasan. Di antaranya mencakup Selat Hormuz, program nuklir Iran, hingga upaya mengakhiri konflik secara menyeluruh.

Topik-topik ini menjadi penentu arah negosiasi, namun belum menemukan titik kompromi di antara kedua pihak.

Latar Belakang Konflik yang Memanas

Ketegangan antara kedua negara meningkat sejak serangan militer pada 28 Februari 2026. Saat itu, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke Iran.

Serangan tersebut menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, yang saat itu menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.

Iran merespons dengan melancarkan serangan balasan ke Israel serta sejumlah fasilitas milik AS di kawasan Teluk.

Konflik ini telah menelan ribuan korban. Di Iran, sebanyak 2.076 orang tewas dan 26.500 lainnya terluka. Sementara di Israel, serangan balasan Iran menewaskan 26 orang dan melukai 7.451 lainnya.

Di pihak militer AS, tercatat 13 tentara tewas dan 200 lainnya mengalami luka-luka.

Redaksi Energi Juang News

Tanah Negara Dikuasai Ormas: Ketika Negara Kalah oleh Mafioso

Pernyataan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, mengenai banyaknya tanah negara maupun aset Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang selama puluhan tahun dikuasai organisasi masyarakat (ormas) bukan sekadar temuan administratif. Ia adalah alarm keras tentang melemahnya kapasitas negara dalam menegakkan otoritasnya sendiri.

Ketika aset publik—termasuk lahan milik PT Kereta Api Indonesia (Persero)—secara de facto dikelola oleh aktor non-negara tanpa legitimasi hukum yang sah, maka yang sedang kita saksikan bukan sekadar pelanggaran, melainkan gejala “state capture” oleh kekuatan mafioso.
Dalam perspektif ekonomi politik, fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep state capture yang diperkenalkan oleh Joel Hellman, Geraint Jones, dan Daniel Kaufmann. Mereka menjelaskan bahwa negara dapat “ditangkap” oleh kelompok kepentingan yang mampu memengaruhi pembentukan aturan main demi keuntungan mereka.

Dalam konteks Indonesia, penguasaan lahan negara oleh ormas selama bertahun-tahun menunjukkan adanya distorsi dalam relasi antara negara dan kelompok kepentingan tersebut. Negara bukan lagi menjadi aktor dominan yang mengatur, melainkan tunduk atau setidaknya berkompromi dengan kekuatan informal.

Negara Bayangan dan Celah Hukum

Lebih jauh, dalam kerangka teori shadow state atau negara bayangan, seperti yang dikemukakan William Reno, kekuasaan formal negara kerap berjalan berdampingan—bahkan kalah kuat—dari jaringan informal yang memiliki kontrol riil atas sumber daya. Ormas yang menguasai lahan strategis di sekitar rel kereta api, stasiun, atau aset BUMN lainnya, pada dasarnya telah membangun otoritas tandingan. Mereka memungut rente, mengatur akses, bahkan dalam beberapa kasus bertindak layaknya “penguasa lokal” tanpa legitimasi konstitusional.

Praktik semacam ini identik dengan karakter mafioso: memanfaatkan celah kelemahan negara, mengandalkan kekuatan jaringan, serta mempertahankan kontrol melalui kombinasi pengaruh sosial, ekonomi, dan—dalam beberapa kasus—intimidasi. Mancur Olson dalam teorinya tentang stationary bandit menggambarkan bagaimana aktor non-negara dapat menguasai wilayah dan sumber daya, lalu mengekstraksi keuntungan secara berkelanjutan. Ketika ini terjadi di atas tanah negara, maka sesungguhnya negara telah kehilangan kedaulatannya di ruang tersebut.

Dampak Pembiaran Aset

Dampak dari pembiaran ini sangat luas. Pertama, terjadi kerugian ekonomi negara karena aset produktif tidak dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan publik. Lahan milik BUMN yang seharusnya dapat dikembangkan untuk transportasi, perumahan, atau fasilitas umum justru menjadi sumber rente bagi kelompok tertentu.

Kedua, menciptakan ketidakadilan struktural. Masyarakat luas kehilangan akses terhadap ruang publik, sementara segelintir kelompok menikmati keuntungan tanpa dasar hukum.

Ketiga, merusak wibawa hukum. Ketika pelanggaran berlangsung puluhan tahun tanpa penindakan, publik akan melihat hukum sebagai sesuatu yang bisa dinegosiasikan.

Dari sudut pandang teori institusional, seperti dikemukakan oleh Douglass North, institusi yang lemah akan membuka ruang bagi praktik ekonomi informal yang tidak efisien dan eksploitatif. Negara yang gagal menegakkan hak kepemilikan (property rights) secara konsisten akan menghadapi biaya transaksi tinggi, ketidakpastian hukum, dan rendahnya investasi.

Dalam jangka panjang, ini menghambat pembangunan ekonomi itu sendiri.
Karena itu, pernyataan bahwa “negara tak boleh kalah oleh mafioso” bukan sekadar retorika politik, melainkan sebuah imperatif struktural. Negara harus mengembalikan otoritasnya melalui tiga langkah strategis.

Pertama, penegakan hukum yang tegas dan konsisten. Tidak boleh ada kompromi terhadap penguasaan ilegal atas aset negara, siapa pun pelakunya.

Kedua, reformasi tata kelola aset negara dan BUMN agar lebih transparan dan terlindungi dari infiltrasi kepentingan non-formal.

Ketiga, membangun legitimasi sosial negara melalui kehadiran yang nyata—bahwa negara mampu melindungi kepentingan publik dan tidak tunduk pada tekanan kelompok tertentu.

Tanpa langkah-langkah tersebut, negara akan terus berada dalam posisi defensif, sementara jaringan mafioso semakin menguat. Jika itu terjadi, maka yang dipertaruhkan bukan hanya aset tanah, tetapi masa depan kedaulatan negara itu sendiri.

Oleh Hizkia Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)