Energi Juang News, Bekasi- Malam itu, jalanan di Kalimalang tampak lengang. Hanya suara gesekan ban dengan aspal yang basah dan sesekali angin yang berdesir pelan di antara pepohonan tua. Lampu jalan berkedip redup, seolah enggan menerangi satu bangunan yang berdiri bisu di tepi jalan: sebuah gedung bercat biru yang telah memudar, lembap, dan dipenuhi noda waktu.
Raka, seorang pengemudi ojek online, baru pertama kali melewati jalur itu sendirian. Ia mengernyit melihat bangunan tersebut.
“Kenapa ya, kok merinding gini?” gumamnya pelan.
Di kejauhan, ia melihat seorang pria tua duduk di warung kecil yang hampir tutup. Raka menghampiri, sekadar ingin memastikan rute.
“Pak, ini jalan ke Tambun Selatan kan?” tanya Raka.
Pria itu menatapnya lama, lalu mengangguk pelan.
“Iya… tapi kamu baru pertama lewat sini, ya?”
Raka mengangguk.
“Iya, Pak. Kenapa emangnya?”
Pria itu menoleh ke arah gedung biru. Wajahnya berubah serius.
“Kalau lewat depan gedung itu… bunyikan klakson tiga kali.”
Raka tertawa kecil.
“Ah, masa sih, Pak? Kayak film aja.”
Pria itu tidak ikut tertawa.
“Kalau nggak mau ditemenin di jalan… turuti saja.”
Suasana tiba-tiba terasa lebih dingin. Raka mengangguk ragu, lalu melanjutkan perjalanan.
Ketika mendekati gedung tersebut, hawa di sekitar berubah drastis. Mesin motor terasa berat, dan lampu jalan di depan gedung itu tampak lebih redup dibandingkan yang lain.
Gedung biru itu tampak lebih menyeramkan dari dekat. Catnya mengelupas, jendelanya gelap, dan beberapa bagian dinding tampak basah seperti tak pernah kering.
Raka mengingat pesan pria tadi. Ia menghela napas, lalu ia membunyikan klakson tiga kali.
Suara itu menggema di antara keheningan malam.
Beberapa detik berlalu. Tidak terjadi apa-apa.
Raka tersenyum lega.
“Ah, cuma mitos,” katanya.
Namun, saat ia hendak menarik gas, tiba-tiba terdengar suara pelan dari dalam gedung.
Suara tangisan anak kecil memanggil samar tak begitu jelas terdengar.
Raka membeku karena suara itu makin terdengar jelas. Bukan dari luar, melainkan dari dalam gedung.
“Ma… mama…”…suara itu lirih, bergema menyayat hati yang mendengarnya, dan meskipun bergema terdengar begitu nyata.
Raka mulai penasaran asal suara sambil menelan ludah. Ia menoleh perlahan ke arah gedung yang gelap tak ada cahaya dari dalam.
Di salah satu jendela yang pecah, tampak bayangan kecil berdiri diam tersinari cahaya dari luar.
Tampak samar bayangan seorang anak kecil, matanya kosong mengarah ke dirinya. Sosok itu terlihat kulitnya yang pucat, dan bibirnya bergerak seolah memanggil seseorang.
Seketika bulu kuduk Raka meremang tiba tiba,spontan ia memalingkan pandangan dari sosok itu.
“Ini nggak bener… ini nggak bener…” katanya terbata bata.
Langsung Raka menarik gas motor secepat mungkin dan meninggalkan tempat itu bermasuk tak mau terlalu dalam mengamati sosok itu, takut alam pikirannya terbawa sosok itu.
Keesokan harinya, rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Raka kembali ke warung tempat ia bertemu pria tua itu.
“Pak… semalam saya dengar suara anak kecil dari gedung itu,” kata Raka dengan wajah pucat.
Pria itu menghela napas panjang. “Bukan cuma kamu.” jawabnya.
Seorang ibu yang duduk di sebelah mereka ikut menyela.
“Saya pernah lihat… perempuan pakai baju putih. Rambutnya panjang… berdiri di depan gedung itu.”
Raka menatapnya tegang “Ibu serius?”.
Ibu itu mengangguk pelan “Waktu itu saya lupa bunyikan klakson. Tiba-tiba dia muncul di pinggir jalan disertai aroma wangi aneh membuat bulu kuduk merinding dan terus hilang.”
Pria tua itu menambahkan, “Dulu gedung itu tempat biliar. Ramai. Tapi sejak kejadian bentrokan antar warga… semuanya berubah.”
“Banyak yang luka… bahkan ada yang meninggal seorang ibu sedang menggendong anaknya jadi korban . Setelah itu, pegawai mulai dengar suara aneh. Ada yang lihat penampakan… sampai akhirnya tempat itu ditutup.”
Sejak saat itu, Raka tidak pernah lagi meremehkan peringatan warga.
Setiap kali melewati gedung biru itu, ia selalu membunyikan klakson tiga kali.
Namun, satu pertanyaan terus menghantuinya:
Apakah klakson itu benar-benar mengusir mereka…
atau justru memberi tanda bahwa kita sedang lewat di wilayah mereka?
Malam demi malam, gedung itu tetap berdiri diam. Kusam. Gelap. Seolah menyimpan cerita yang tak ingin terungkap.
Redaksi Energi Juang News











