Rabu, Maret 4, 2026
spot_img
BerandaHiburanApakah Film 'Pabrik Gula' Berdasarkan Kisah Nyata?

Apakah Film ‘Pabrik Gula’ Berdasarkan Kisah Nyata?

Energi Juang News, Jakarta- Setelah resmi dirilis ke publik, film horor Pabrik Gula yang diadaptasi dari kisah viral SimpleMan menuai diskusi menarik.

Muncul pertanyaan, apakah cerita film ini  terinspirasi dari kejadian nyata?

Film Pabrik Gula berceritakan tentang serangkaian peristiwa menyeramkan yang dialami para pekerja musiman menjelang musim panen tebu. Kejadian tersebut berubah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan mereka saat bekerja di pabrik.  

Dalam cerita ini, berbagai peristiwa horor terjadi akibat adanya pantangan yang dilanggar oleh beberapa pekerja. Pelanggaran tersebut diduga memicu kemarahan para penghuni gaib yang mendiami area pabrik.  

Pihak pabrik melakukan berbagai usaha untuk menenangkan makhluk tidak kasat mata yang mengganggu aktivitas produksi. Hal ini menjadi lebih mendesak saat menjelang penggilingan tebu yang merupakan momen penting bagi keberlanjutan usaha mereka.  

Upaya seperti memberikan sesajen berupa sapi hingga dilakukannya ritual khusus, tetapi tidak membuahkan hasil. Hingga akhirnya, mereka terpaksa kembali menjalankan sebuah tradisi lama yang disebut ‘manten tebu’.  

Lantas, apakah film Pabrik Gula benar-benar berasal dari kisah nyata?

Film ini merupakan fiksi yang diadaptasi dari kisah-kisah viral di media sosial.  

Namun, beberapa elemen dalam film ini memang terinspirasi dari budaya masyarakat sekitar pabrik gula di Indonesia. Salah satu tradisi yang nyata dalam kehidupan mereka adalah manten tebu, yang masih dilakukan hingga saat ini.  

Peneliti Universitas Negeri Surabaya, Nofi Antikasari dan Octo mengatakan, manten tebu adalah tradisi pabrik gula di Jawa Timur. Upacara ini dilaksanakan oleh komunitas di setiap tahun sebagai bagian dari ritual sebelum musim penggilingan dimulai.  

Dalam jurnal mereka yang diterbitkan oleh Baradha pada Januari 2023, pelaksanaan manten tebu dilakukan setiap bulan April atau Mei. Tradisi ini bertujuan untuk mempererat hubungan antara petani tebu dan pihak pabrik gula agar proses produksi berjalan lancar.  

Dua batang tebu dipilih sebagai simbol pengantin, satu mewakili pria bernama Raden Bagus Rosan. Sementara itu, tebu lainnya mewakili perempuan dan diberi nama Dyah Ayu Roromanis.  

Tebu yang digunakan dalam ritual ini tidak bisa dipilih sembarangan, melainkan harus berasal dari bibit unggul. Tebu manten perempuan berasal dari kebun pabrik, sedangkan tebu manten pria berasal dari lahan petani.  

Seperti halnya sebuah pernikahan adat, berbagai persiapan khusus dilakukan untuk menggelar acara manten tebu. Kegiatan sosial seperti santunan anak yatim, pagelaran seni rakyat, dan pasar malam turut meramaikan upacara ini.  

Dua batang tebu yang terpilih akan diberi kertas berisi nama mereka, kemudian dimandikan dengan air bunga tujuh rupa. Dalam prosesi ini, sepasang manusia yang mengenakan pakaian pengantin akan berperan sebagai manten simbolis.  

Setelah prosesi pemandian, masyarakat akan menggelar arak-arakan keliling desa yang berakhir di area pabrik gula. Acara diakhiri dengan penyalaan mesin penggilingan, lalu tebu manten dimasukkan sebagai simbol dimulainya musim giling.  

Menurut Nofi dan Octo, *manten tebu* bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap leluhur. Upacara ini juga menjadi ungkapan rasa syukur atas panen yang telah diperoleh serta harapan akan kelancaran proses produksi.  

Selain manten tebu, pabrik gula di Indonesia dikenal memiliki banyak kisah mistis. Sama halnya dengan berbagai lokasi lain di Indonesia yang terdapat beragam cerita rakyat dan mitos gaib.

Redaksi Energi Juang

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments