BerandaGoresan PenaBRICS Mewarisi Semangat KAA: Pengakuan Terhadap Warisan Sukarno

BRICS Mewarisi Semangat KAA: Pengakuan Terhadap Warisan Sukarno

Oleh Hiski Darmayana

(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)

Baru-baru ini, dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS yang digelar di Rio de Janeiro, Brasil, Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva menyatakan BRICS merupakan perwujudan deklarasi Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang digelar di Bandung, Indonesia pada 1955.

Lula menegaskan BRICS menghidupi semangat Bandung. Menurut Lula, Konferensi Bandung menolak pembagian dunia dalam zona pengaruh dan memperjuangkan tatanan internasional yang multipolar.

Demikianlah juga kini posisi BRICS dalam peta global. Maka Lula pun menyebut BRICS sebagai pewaris KAA atau gerakan non-blok.
KTT BRICS yang digelar di Brasil ini pun merupakan wadah bagi para pemimpin BRICS untuk membahas sejumlah isu politik dan keamanan global, antara lain reformasi tata kelola global serta penguatan multilateralisme. Itulah sejatinya juga yang diperjuangkan KAA dulu.

Pernyataan Lula itu, sejatinya adalah pengakuan akan warisan politik Sukarno di pentas global dalam konteks kekinian. Pada tahun 1955 Sukarno menjadikan KAA sebagai wadah bagi bangsa-bangsa Asia dan Afrika melawan kolonialisme dan imperialisme.

Konferensi yang diselenggarakan pada 18-24 April 1955 dan dihadiri 29 negara peserta itu, disebut Sukarno sebagai konferensi antarbenua pertama dalam sejarah dunia.

Ide Sukarno mempersatukan bangsa-bangsa Asia-Afrika dalam satu semangat tidak jatuh tiba-tiba dari langit. Semua berawal dari gagasan Putra Sang Fajar yang tertuang dalam tulisannya berjudul “Indonesianisme dan Asiatisme”, di harian Suluh Indonesia Muda pada 1928. Melalui tulisan itu, Sukarno mengusung gagasan baru yang berlandaskan semangat persatuan di wilayah Asia dan Afrika untuk menghalau kolonialisme.

Pada tahun 1930-an, Sukarno juga mempromosikan semangat tersebut di dalam berbagai forum diskusi, rapat umum, hingga berbagai artikel.

Baca juga :  Mutasi Ala Jenderal Suyudi: "Sapu Bersih" Loyalis Kekuasaan Lama dalam Polri

“Kalau Barong Liong Sai dari Cina bekerja sama dengan Lembu Nandi dari India, dengan Sphinx dari Mesir, dengan Burung Merak dari Birma, dengan Gajah Putih dari Siam, dengan Ular Hydra dari Vietnam, dengan Harimau dari Filipina, dan dengan Banteng dari Indonesia, maka pasti hancur lebur kolonialisme internasional,” demikian kata Sukarno dalam “Mentjapai Indonesia Merdeka”, karyanya pada 1933.

Dan semangat itu kemudian yang dimanifestasikan Sukarno dalam Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 di Bandung.

Faktanya, KAA menjadi sangat penting dalam peta politik global kala itu. Sebab, forum itu menjadi penegasan politik bahwa negara-negara Asia-Afrika bukan lagi dunia terjajah.

Konferensi Bandung menjadi penegasan bahwa yang harus dibangun oleh peradaban bukanlah penjajahan atau dominasi, tapi kemerdekaan dan kesetaraan.

KAA ini menjadi inspirasi bagi lahirnya Gerakan Non-Blok yang dideklarasikan pada 1961 di Beograd, Yugoslavia. Dan berdasarkan pernyataan Presiden Brasil, ternyata BRICS pun mewarisi spirit KAA.

Hal itu merupakan bukti, bahwa warisan pemikiran dan kebijakan politik internasional Sukarno bisa melintasi zaman.

Berbekal semangat KAA yang digagas Sukarno, BRICS bisa menjadi wahana untuk membangun tata dunia baru yang berbasiskan pada kemerdekaan, kesetaraan dan keadilan.

Redaksi Energi Juang News

HD
HDhttps://energijuangnews.com/
Hidup Hanya Sekali, Maka Buatlah Berarti. Pimpinan Redaksi dari EnergiJuangNews.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments