Energi Juang News, Jakarta— Militer Israel kembali melancarkan operasi besar dengan target utama merebut Kota Gaza. Pasukan cadangan dalam jumlah besar dikerahkan untuk memperluas serangan.
Sejak Rabu (20/8), pemerintah Israel di bawah Benjamin Netanyahu telah menyetujui operasi militer berskala besar. Sekitar 60 ribu pasukan cadangan dipanggil kembali untuk mendukung strategi merebut wilayah Gaza.
Juru Bicara Militer Israel, Brigadir Jenderal Effie Defrin, menyebut operasi tahap awal sudah dimulai. Ia mengklaim pasukan Israel berhasil menguasai beberapa titik di pinggiran Gaza. Defrin juga menyatakan Hamas kini mengalami kerugian besar.
Namun, kelompok Hamas menolak klaim itu. Mereka menuding Israel dengan sengaja menghalangi kesepakatan gencatan senjata. Hamas menyebut Netanyahu bertanggung jawab atas kelanjutan perang brutal yang menyasar warga sipil di Gaza.
Dalam pernyataan resminya, Hamas menegaskan bahwa Israel mengabaikan semua upaya mediasi. Padahal, mediator internasional seperti Qatar dan Mesir telah menawarkan proposal baru. Hamas bahkan menyebut Netanyahu sebagai penghalang utama tercapainya kesepakatan damai.
Reaksi internasional pun bermunculan. Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan langkah Israel hanya akan membawa bencana berkepanjangan. Ia menilai operasi ini berisiko menyeret kawasan ke dalam perang permanen.
Kritik juga datang dari Jerman. Pemerintah Berlin menegaskan sulit memahami bagaimana operasi militer bisa menyelesaikan masalah sandera. Jerman menilai aksi ini justru menjauhkan peluang tercapainya gencatan senjata.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi menyebut serangan Israel telah memicu pembantaian dan kelaparan di Gaza. Ia menegaskan situasi tersebut menghancurkan semua harapan perdamaian di Timur Tengah.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga angkat suara. Ia mendesak adanya gencatan senjata segera untuk mencegah kematian lebih banyak. Menurutnya, penghentian konflik adalah satu-satunya jalan untuk menghindari kehancuran total di Gaza.
Meski menuai kecaman, Netanyahu tetap menegaskan komitmennya. Ia menyatakan operasi merebut Gaza akan berjalan seiring dengan upaya pembebasan sandera Israel. Netanyahu menekankan bahwa dua tujuan itu harus dicapai bersamaan.
Negosiasi antara pihak Israel, mediator, dan Hamas masih menunggu hasil. Namun hingga kini, ketegangan belum juga mereda, sementara serangan Israel terus berlangsung di Gaza.
Redaksi Energi Juang News



