Energi Juang News, Jakarta- Viral di media sosial, Deni Apriadi Rahman atau yang lebih dikenal dengan nama Dea Lipa, akhirnya angkat suara mengenai latar belakang dan perjalanan hidupnya yang sulit.
Pria yang penampilannya menyerupai wanita itu menolak julukan ‘Sister Hong Lombok’ yang disematkan ke dirinya. Dia menilai julukan itu tidak pantas.
Julukan untuk Dea Lipa tersebut merujuk pada kasus menggemparkan di Tiongkok, di mana seorang pria bernama Jiao (atau Sister Hong) menyamar sebagai wanita dan terlibat skandal seksual dengan banyak pria.
Pria berusia 38 tahun ini ditangkap di Nanjing, Tiongkok timur, pada Juli 2025 karena merekam dan menyebarkan konten seksual tersebut.
Deni dengan tegas membantah penampilannya bertujuan untuk menjebak korban seperti yang dilakukan Sister Hong.
Dea Lipa menegaskan, penampilannya merupakan bagian dari ekspresi diri dan profesinya sebagai seorang artis.
Dea Lipa mengakui bahwa ia dibesarkan dalam kondisi keluarga yang tidak utuh (broken home) dan sejak kecil harus menghadapi kenyataan pahit sebagai korban perundungan (bullying).
Masa kecil Dea Lipa dihabiskan bersama neneknya dari pihak ibu, karena kedua orang tuanya bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di luar negeri.
“Sejak kecil saya tinggal bersama nenek dari pihak ibu, karena kedua orang tua saya bekerja sebagai tenaga migran,” tuturnya.
Selain dibesarkan tanpa kehadiran orang tua, Dea Lipa juga hidup dengan disabilitas pendengaran sejak lahir, yang kondisinya semakin memburuk setelah ia mengalami kecelakaan ketika berusia sekitar 10 tahun.
“Sejak kecil saya hidup dengan keterbatasan pendengaran, yang semakin memburuk setelah saya mengalami kecelakaan ketika berusia sekitar 10 tahun,” jelasnya.
Masa sekolah Dea Lipa diwarnai dengan pengalaman buruk karena ia kerap menjadi sasaran perundungan atau bullying.
Kondisi mentalnya kian terpuruk setelah neneknya meninggal dunia saat ia masih duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar (SD).
Kondisi ekonomi dan mental yang serba terbatas ini menghalangi Dea Lipa untuk melanjutkan pendidikan. Ia pun hanya mampu menamatkan pendidikan hingga jenjang SD.
“Saya hanya menamatkan pendidikan sampai Sekolah Dasar karena pada masa itu saya mengalami perundungan dan tidak memiliki cukup dukungan untuk melanjutkan sekolah,” ucapnya.
Meskipun menghadapi banyak keterbatasan, Dea Lipa memilih untuk berjuang. Ia belajar bertahan hidup secara mandiri dan menguasai keterampilan sebagai Makeup Artist (MUA) secara otodidak, banyak belajar melalui platform YouTube.
Bagi Dea Lipa, profesinya sebagai penata rias bukan sekadar cara untuk mencari nafkah, melainkan juga sarana penting untuk mengekspresikan diri dan menemukan jati diri.
“Melalui pekerjaan (MUA) inilah saya merasa bisa berdiri di atas kaki saya sendiri, memenuhi kebutuhan hidup, dan perlahan memperoleh rasa percaya diri,” ujarnya.
Terkait dengan foto-foto dirinya yang sempat tersebar luas mengenakan hijab, Dea Lipa tidak menampik hal tersebut.
Redaksi Energi Juang News



