Senin, Juni 1, 2026
spot_img
BerandaNot & MusikKarimata dan Jejak Panjang Jazz-Fusion Indonesia

Karimata dan Jejak Panjang Jazz-Fusion Indonesia

EnergiJuangNews,Jakarta- Ada jenis musik yang tidak lekang meski jarang terdengar di radio masa kini. Ia seperti jalan kecil yang tidak ramai, tetapi selalu dirindukan oleh mereka yang pernah melaluinya. Musik semacam ini hidup dalam ingatan, koleksi lama, dan percakapan hangat para penikmatnya. Bagi orang dewasa muda yang sadar budaya, perjalanan musik bukan sekadar soal hits, melainkan tentang makna dan warisan.

Itulah sebabnya semangat terhadap sebuah supergrup jazz-fusion Indonesia bernama Karimata tak pernah benar-benar padam. Meski lama vakum dari dunia rekaman dan hanya sesekali tampil di panggung, kecintaan penggemar terhadap karya mereka justru menemukan bentuk baru. Bukan dalam album terbaru, melainkan lewat sebuah buku. Sebuah medium yang pelan, reflektif, dan memberi ruang untuk bernapas lebih panjang.

Buku itu berjudul Lima Musim yang Berarti: Cerita Tentang Karimata. Diterbitkan secara kolektif oleh komunitas Sahabat KariB bersama ITB Press, buku setebal 222 halaman ini menjadi bukti bahwa musik tidak selalu harus berbunyi untuk tetap hidup. Kadang, ia cukup dibaca, dikenang, dan dipahami ulang. Seperti mendengarkan ulang sebuah album lama sambil membaca liner notes yang tak pernah sempat disimak.

Karimata sendiri aktif pada periode 1986 hingga 1991, sebuah fase penting dalam sejarah musik Indonesia. Grup ini digawangi oleh nama-nama besar: Aminoto Kosin, Candra Darusman, Denny TR, Erwin Gutawa, dan almarhum Uce Haryono. Mereka bukan sekadar berkumpul sebagai musisi hebat, melainkan menyatu sebagai sebuah laboratorium musikal. Eksplorasi jazz-fusion yang mereka tawarkan terasa berani, cerdas, dan sangat kontekstual dengan identitas Indonesia.

Pada album-album akhirnya, eksplorasi Karimata semakin kaya dengan sentuhan etnik. Mereka tidak memosisikan unsur tradisi sebagai ornamen, melainkan sebagai bahasa yang sejajar dengan jazz modern. Analogi yang tepat mungkin seperti koki yang tidak hanya menaburkan rempah, tetapi memahami betul karakter setiap bumbu. Hasilnya bukan campur aduk, melainkan harmoni.

Baca juga :  LANY dan Gelombang Pop Emosional yang Menyentuh Generasi Muda

Buku Lima Musim yang Berarti digarap secara kolektif oleh Sahabat KariB bersama para jurnalis musik yang mengikuti perjalanan Karimata sejak awal. Nama-nama seperti Denny MR, Edo Musclive, Edy Suhardy, Abi Hasantoso, Burhan Abe, dan Frans Sartono terlibat langsung dalam proses penulisan. Haryo K. Buwono, pimpinan tim penyusun buku, bahkan menyebut karya ini layaknya ensiklopedia Karimata. Pernyataan itu tidak berlebihan, mengingat cakupan cerita, detail, dan sudut pandang yang disajikan.

Kekuatan buku ini tidak hanya terletak pada teks. Kekayaan visualnya menjadi lapisan penting yang memperkuat narasi. Arsip pribadi dari fotografer dan rekan dekat Karimata seperti Jay Subijakto, Andri Is, Omen Norman, Odi Auditya, Gideon Momongan, Charlie Hawks, Aria Sungkono, Dewanto Anto Gendut, hingga Heru Sungkono menghadirkan potongan sejarah yang nyaris terlupakan. Dengan Oleg Sanchabakhtiar sebagai konsultan fotografi, dokumentasi ini tersusun rapi seperti album kenangan yang dibuka perlahan.

Menariknya, gagasan awal buku datang dari Triawan “Babe” Koeshardianto, mantan manajer Karimata, yang sempat menulis naskah bergaya novel. Setelah Babe dan penerusnya, Ayu, berpulang, naskah tersebut tetap dimasukkan tanpa penyuntingan. Keputusan ini, sebagaimana dijelaskan oleh Ratna D. Ambarwati, bukan soal teknis editorial, melainkan penghormatan. Dalam dunia musik dan budaya, sikap semacam ini mencerminkan etika: menjaga suara, meski sang pemiliknya telah tiada.

Proses penyusunan buku ini memakan waktu lima tahun. Angka yang terasa simbolis. Lima tahun masa aktif Karimata, lima album yang mereka rilis, dan lima tahun pula waktu yang dibutuhkan untuk merangkai kisah ini. Seolah waktu sendiri ikut berkolaborasi. Namun perjalanan itu tidak mudah. Menurut Aria, yang berperan sebagai tim humas sekaligus kontributor foto, tantangan terbesar datang dari keterbatasan dokumentasi dan ingatan para pelaku yang mulai memudar. Menulis sejarah musik kadang seperti menyusun puzzle dengan potongan yang tidak lengkap.

Baca juga :  Toop! Queen Punya Lagu Natal Rahasia Berusia 50 Tahun!

Di sinilah nilai penting buku ini terasa. Ia bukan sekadar nostalgia, melainkan upaya pelestarian. Bagi generasi yang tidak mengalami langsung era Karimata, buku ini menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana jazz-fusion Indonesia pernah berada di titik yang sangat progresif. Bagi yang pernah hidup di masa itu, buku ini adalah cermin, mengajak bercermin pada keberanian artistik yang mungkin kini jarang ditemui.

Jika musik Karimata diibaratkan sebuah sungai, maka buku ini adalah peta alirannya. Ia menunjukkan dari mana sumbernya, ke mana ia mengalir, dan mengapa jejaknya masih terasa hingga kini. Di tengah industri musik yang serba cepat dan instan, kisah Karimata mengingatkan bahwa karya besar sering lahir dari kesabaran, kolaborasi, dan visi jangka panjang.

Pada akhirnya, Lima Musim yang Berarti bukan hanya tentang sebuah band. Ia adalah tentang bagaimana sebuah era, sekelompok musisi, dan komunitas penggemar saling menjaga api kreativitas agar tidak padam. Dan selama cerita itu terus dibaca, dibicarakan, serta dimaknai ulang, semangat Karimata akan tetap hidup—tenang, dalam, dan berkelas.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments