Energi Juang News, Jakarta – Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dipicu oleh sentimen negatif dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) dinilai sebagai kondisi serius yang perlu segera mendapat perhatian pemerintah. Pasalnya, sebelumnya Menteri Keuangan Purbaya menyatakan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak menjadi persoalan selama IHSG tetap menguat. Namun, kondisi terkini justru menunjukkan IHSG mengalami penurunan signifikan.
IHSG sebagai Etalase Ekonomi Indonesia di Mata Global
Merespons situasi tersebut, Ketua Bidang Ekonomi DPP GMNI, Riyanto Pratama, mengingatkan pemerintah agar tidak bersikap spekulatif dalam menghadapi tekanan pasar. Menurutnya, IHSG bukan sekadar indikator teknis, melainkan cerminan wajah dan kesehatan ekonomi Indonesia di mata global. “IHSG adalah etalase ekonomi Indonesia. Ketika indeks ini tertekan, kepercayaan dunia internasional terhadap ekonomi nasional juga ikut terganggu,” ujar Riyanto dalam keterangannya kepada media, baru-baru ini.
Baca juga : Puluhan Tahun Tercekik Industri, GMNI Tangerang Kawal Perjuangan Warga Balaraja
Pentingnya Klarifikasi Pemerintah atas Penilaian MSCI
Ia menekankan pentingnya klarifikasi yang cepat, jelas, dan tegas dari pemerintah terkait penilaian MSCI. Langkah tersebut dinilai krusial untuk memulihkan kepercayaan investor global sekaligus menjaga kredibilitas pasar modal Indonesia.
MSCI sebagai Momentum Perbaikan Fundamental Pasar Modal
Riyanto juga menilai pemerintah dan Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak boleh bersikap defensif atau anti-kritik apabila poin-poin penilaian MSCI memang didasarkan pada fakta. Menurutnya, momentum ini seharusnya dimanfaatkan sebagai titik balik untuk melakukan pembenahan fundamental pasar modal secara menyeluruh.
Penguatan Investor Domestik dan Nasionalisme Ekonomi
Selain itu, pemerintah didorong untuk mengonsolidasikan kekuatan investor domestik agar bersama-sama memperkuat ekonomi nasional melalui pendekatan nasionalisme ekonomi. Langkah ini dianggap penting guna menjaga kedaulatan ekonomi Indonesia agar tidak mudah terombang-ambing oleh sentimen negatif lembaga asing.
Komunikasi Pemerintah dan Pentingnya Aksi Nyata
Lebih lanjut, Riyanto menilai gaya komunikasi Menteri Keuangan Purbaya dalam meredam kepanikan pasar sudah berada di jalur yang tepat. Namun, ia mengingatkan bahwa komunikasi semata hanya bersifat sementara. “Pernyataan itu ibarat obat penenang. Jika tidak segera diikuti dengan penguatan fundamental di lapangan, maka pemerintah belum bisa dikatakan melakukan aksi nyata yang konkret dalam merespons situasi saat ini,” pungkasnya.



