Rabu, Maret 4, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaBayang Kuntilanak di Samping Gudang Kos

Bayang Kuntilanak di Samping Gudang Kos

Energi Juang News, Jakarta- Setelah dua tahun perkuliahan dilakukan secara daring, semester enam akhirnya berjalan normal. Kampus kembali ramai, suara motor dan tawa mahasiswa memadati jalan-jalan sempit sekitar kontrakan. Panji (21) pun kembali ke kota, membawa koper kecil dan rasa lega bercampur cemas. Ia memilih kembali ke kamar lamanya—kamar sempit di samping gudang, yang dulu ditinggalkan dalam keadaan terburu-buru saat pandemi dimulai.

Secara fisik, bangunan kos itu tak berubah. Cat dinding masih kusam, lantai keramik dingin, dan lorong panjang mengarah ke kamar mandi bersama di ujung. Namun suasananya terasa berbeda—lebih berat, seperti udara tak mau bergerak.

“Ji… lo ngerasa pengap gak sih?” tanya Lucky (25), senior sekaligus teman diskusi menulis yang sering menginap.

Panji mengangguk pelan. “Bukan cuma pengap. Kayak… ada yang ngeliatin.”

Sejak hari pertama kembali, mereka sering mencium bau anyir samar. Bau itu muncul tiba-tiba, lalu lenyap tanpa sebab. Kepala terasa pusing, terutama saat malam.

Suatu malam, Lucky terbaring menggigil demam.

“Udah, istirahat aja. Besok gak usah kerja,” ujar Panji sambil menaruh kompres.

Lucky menggeleng lemah. “Deadline nunggu. Ntar sembuh kok.”

Namun di tempat kerja, Lucky justru pingsan. Keesokan harinya ia memutuskan pulang kampung.

Sejak itu, Panji kembali sendirian.

Beberapa kali ia menemukan helai rambut panjang di lantai kamar. Bukan rambutnya—Panji berambut pendek. Rambut itu selalu muncul di sudut dekat pintu gudang.

Lalu kelabang mulai bermunculan. Dua kali di kamar. Empat kali di kamar mandi. Ukurannya kecil, tapi cukup membuat Panji ngeri.

“Masuk kuping bisa bahaya…” gumamnya sambil menginjak serangga itu dengan sandal.

Suatu sore, Panji berbincang dengan ibu pemilik kos.

“Dulu tempat ini bukan kos mahasiswa,” ujar sang ibu sambil menyeduh teh. “Awalnya tempat singgah orang yang mau kerja ke luar negeri. Saya beli dari pemilik lama… karena harganya murah.”

“Mengapa murah, Bu?”

Ibu itu terdiam sejenak. “Banyak yang tidak betah tinggal lama.”

Tak lama kemudian, dari pengeras suara masjid terdengar pengumuman warga meninggal dunia. Keranda jenazah dibawa keluar gang sempit. Panji berdiri di ambang pintu, memperhatikan.

Baru ia sadari, tempat penyimpanan keranda itu tepat di balik tembok kamar kosnya.

Malamnya, suara berisik terdengar dari arah tembok tersebut. Bunyi gesekan kayu. Kadang seperti ketukan pelan.

“Tok… tok… tok…”

Panji menahan napas.

Ingatan masa kecilnya di desa muncul kembali. Dulu keranda di kampungnya sering berbunyi sendiri sebelum ada warga meninggal. Suara itu berhenti setelah keranda diganti.

“Kalau begitu…” bisik Panji, “yang belum pergi masih ada di sini.”

Beberapa malam setelahnya, bau anyir semakin kuat. Lampu kamar berkedip-kedip. Panji terbangun pukul dua dini hari karena suara perempuan menangis.

“Pulang… aku mau pulang…”

Suara itu lirih, serak, seolah berasal dari balik dinding.

Panji memberanikan diri membuka pintu. Lorong kosong. Namun udara menjadi sangat dingin.

Saat kembali ke kamar, ia melihat rambut panjang terurai di lantai—lebih banyak dari sebelumnya.

“Siapa kamu?” tanya Panji dengan suara gemetar.

Lampu padam.

Dalam kegelapan, bayangan putih berdiri di sudut dekat gudang. Rambut panjang menutupi wajah. Bau anyir menusuk hidung.

“Aku… Suti…”

Suara itu terdengar seperti berlapis—antara tangisan dan bisikan.

“Kenapa… kamu di sini?” Panji nyaris tak bersuara.

Bayangan itu bergerak mendekat perlahan.

“Dulu… aku bekerja di rumah ini… aku mati… tidak ada yang tahu…”

Pagi harinya, Panji menemui ibu kos.

“Bu… siapa Suti?”

Wajah ibu kos langsung pucat.

“Dari mana kamu dengar nama itu?”

Panji menceritakan semuanya. Ibu kos akhirnya menghela napas panjang.

“Dulu ada pembantu di rumah lama ini. Namanya Suti. Ia dibunuh perampok saat majikannya pergi. Kejadian itu ditutup rapat. Rumah ini lalu dijual.”

Malam berikutnya, Panji mencoba berbicara lagi.

“Kalau kamu Suti… apa yang kamu inginkan?”

Angin dingin berembus dari arah gudang. Suara perempuan itu kembali terdengar.

“Aku… tidak pernah diantarkan pulang…”

Panji merinding.

Ia teringat ucapan orang tua di desanya—arwah yang meninggal tak wajar sering meminta diantar.

Sejak malam itu, gangguan semakin sering. Suara gesekan keranda, bau anyir, rambut di lantai, dan bisikan memanggil namanya.

Suatu malam, Lucky menelepon dari kampung.

“Ji, gue mimpi aneh. Ada perempuan rambut panjang duduk di kasur lo.”

Panji menelan ludah. “Dia bilang apa?”

“Dia cuma bilang… jangan tinggal lama di sana.”

Beberapa hari kemudian, Panji akhirnya memutuskan pindah kos. Saat ia mengemasi barang, suara ketukan terakhir terdengar dari balik tembok.

Tok… tok… tok…

Panji menatap dinding itu lama.

“Maaf… aku tidak bisa bantu,” bisiknya pelan.

Saat ia melangkah keluar kamar, bau anyir mendadak hilang. Udara terasa ringan.

Namun sebelum gerbang kos tertutup, suara perempuan itu terdengar sekali lagi.

“Terima kasih… sudah mendengar…”

Panji tidak pernah kembali ke kamar itu. Tetapi setiap kali mendengar suara keranda lewat gang sempit, ia selalu teringat satu hal—tidak semua yang tinggal di sebuah tempat masih hidup.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments