Energi Juang News, Jakarta- Persaingan industri otomotif nasional kian memanas seiring masuknya berbagai merek baru. Produsen besar kini menata ulang strategi agar tetap relevan di tengah perubahan tren pasar.
Dalam situasi ini, Astra menyiapkan langkah khusus untuk menjaga posisinya di pasar domestik. Perusahaan menilai karakter konsumen Indonesia masih sangat beragam, sehingga pendekatan tidak bisa seragam.
Astra Terapkan Strategi Multi Jalur
Direktur PT Astra International Tbk., Gidion Hasan, menyatakan perusahaan mengandalkan dua strategi utama untuk menghadapi derasnya penjualan kendaraan listrik asal Cina di Indonesia.
Menurut dia, Astra akan memperbanyak peluncuran produk baru di berbagai segmen. Langkah ini disesuaikan dengan kebutuhan konsumen, mulai dari kendaraan listrik, hybrid, hingga mesin konvensional atau internal combustion engine (ICE).
“Dengan strategi ini, kami berharap dapat menjaga pangsa pasar di kisaran 50 persen,” ujar Gidion dalam konferensi pers RUPST di Menara Astra, Jakarta, Kamis, 23 April 2026.
Mesin Konvensional Masih Dominan
Gidion menjelaskan, kendaraan bermesin konvensional masih mendominasi pasar otomotif nasional. Saat ini, segmen tersebut menguasai sekitar 85 persen pangsa pasar.
Ia menilai kondisi ini dipengaruhi oleh faktor infrastruktur dan utilitas yang belum sepenuhnya mendukung kendaraan listrik. Karena itu, Astra tetap mempertahankan lini produk ICE sambil memperluas pilihan teknologi lain.
Di sisi lain, perusahaan juga mengandalkan kekuatan ekosistem otomotifnya. Astra memiliki jaringan pembiayaan, dealer, hingga layanan purna jual yang terintegrasi. Bahkan, layanan mobil bekas turut diperkuat untuk mendukung skema tukar tambah.
Astra memegang lisensi berbagai merek otomotif global seperti Toyota, Daihatsu, Isuzu, BMW, Lexus, hingga UD Trucks. Untuk roda dua, Astra mengelola penjualan sepeda motor Honda melalui PT Astra Honda Motor.
Adopsi Mobil Listrik Tergantung Wilayah
Presiden Direktur Astra, Rudy, mengakui adopsi kendaraan listrik lebih cepat terjadi di kota besar. Wilayah seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung menunjukkan permintaan yang lebih tinggi karena dukungan infrastruktur.
Namun, kondisi berbeda terlihat di kawasan semi-urban. Konsumen di wilayah ini masih mempertimbangkan faktor harga dan fungsi kendaraan.
Karena itu, Astra menerapkan strategi “multi-pathway”. Perusahaan menyediakan berbagai pilihan, mulai dari plug-in hybrid (PHEV), hybrid (HEV), hingga kendaraan bermesin konvensional.
Di pasar, Astra menghadapi persaingan dari sejumlah merek kendaraan listrik global. Beberapa di antaranya adalah BYD, Geely, Xpeng, Wuling, Chery, BAIC, MG, Jetour, DFSK, VinFast, serta Hyundai.
Saat ini, Astra masih menguasai sekitar 50 persen pangsa pasar kendaraan di Indonesia.
Redaksi Energi Juang News



