Selasa, Mei 19, 2026
spot_img
BerandaEkonomi & BisnisIHSG Anjlok 4,11%, Sentuh Level Terendah Setahun

IHSG Anjlok 4,11%, Sentuh Level Terendah Setahun

Energi Juang News, Jakarta— Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia kembali bergerak dalam tekanan pada Selasa (19/5/2026). Aksi jual terjadi hampir di seluruh sektor, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap sejumlah saham berkapitalisasi besar dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Kapitalisasi pasar juga menyusut tajam hingga ratusan triliun rupiah. Kondisi itu memperpanjang tren negatif yang sudah terjadi sejak awal pekan.

IHSG Tertekan Saham Big Caps

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 4,11% atau melemah 270,91 poin ke posisi 6.328,28 pada awal sesi kedua perdagangan. Posisi tersebut menjadi level terendah IHSG dalam lebih dari satu tahun.

Nilai kapitalisasi pasar tercatat turun sekitar Rp415 triliun menjadi Rp11.137 triliun dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Mayoritas saham bergerak di zona merah. Sebanyak 661 emiten melemah, 80 saham stagnan, dan hanya 74 saham menguat. Nilai transaksi mencapai Rp17,72 triliun dengan volume perdagangan 33,36 miliar saham dalam 2,04 juta transaksi.

Pelemahan terbesar datang dari sektor bahan baku yang terkoreksi 8,4%. Tekanan terutama berasal dari saham-saham milik grup Prajogo Pangestu.

Saham PT Ekamas Fortuna (MORA) turun 11,41% dan menjadi pemberat utama indeks dengan kontribusi negatif 13,45 poin. Berikutnya ada PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), serta PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).

Sebagian saham tersebut sebelumnya diketahui keluar dari indeks MSCI.

FTSE Soroti Saham dengan Konsentrasi Tinggi

Tekanan pasar semakin besar setelah FTSE Russell mengeluarkan peringatan terkait saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC).

Dalam dokumen “Index Treatment for the June 2026 Index Review” yang dirilis pada 13 Mei 2026, FTSE menyatakan saham yang mendapat peringatan HSC berpotensi dikeluarkan dari indeks.

Baca juga :  Rencana Pemerintah Jadikan Ojol Sebagai UMKM Tuai Polemik

FTSE menilai saham dengan kepemilikan yang terlalu terkonsentrasi berisiko mengalami penurunan likuiditas. Kondisi itu dinilai menyulitkan investor institusi, terutama pengelola dana pasif, saat ingin keluar dari saham tertentu.

Lembaga tersebut bahkan menegaskan sekuritas terdampak akan dihitung pada harga nol dalam tinjauan indeks Juni 2026. Kebijakan itu efektif berlaku mulai pembukaan perdagangan 22 Juni 2026.

Sebelumnya, MSCI juga lebih dulu mengeluarkan sejumlah saham Indonesia dari indeks globalnya. Langkah dua penyedia indeks dunia itu memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap prospek likuiditas saham domestik.

Rupiah Ikut Melemah

Selain sentimen pasar saham, pelemahan rupiah turut menambah tekanan terhadap IHSG.

Berdasarkan data Refinitiv per pukul 12.49 WIB, rupiah melemah 0,51% ke posisi Rp17.730 per dolar Amerika Serikat. Pada pembukaan perdagangan pagi, mata uang Garuda juga sudah berada di level Rp17.650 per dolar AS atau turun 0,06%.

Kondisi tersebut memperlihatkan tekanan masih membayangi pasar keuangan domestik, baik dari sisi saham maupun nilai tukar.

Redaksi Energi Juang News

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments