BerandaInternasionalRusuh di Paris Bukan Sekadar Kerusuhan di Sebuah Ibu Kota Eropa

Rusuh di Paris Bukan Sekadar Kerusuhan di Sebuah Ibu Kota Eropa

Energi Juang News, Jakarta – Wakil Tetap Republik Indonesia untuk Unesco di Paris, Satrya Wibawa, menerima puluhan pesan singkat dan belasan telepon tak terjawab saat bangun pagi, hari Minggu (18/10/2026). Isinya semua hampir seragam: apakah Satrya baik-baik saja? Apakah Paris benar-benar sedang rusuh? Ada pula yang mengirimkan video penjarahan dan bentrokan seraya bertanya apakah peristiwa itu terjadi di dekat tempat tinggalnya. Satrya baru menyadari betapa mencekamnya wajah Paris yang dilihat orang-orang dari kejauhan.

Padahal sehari sebelumnya, Jumat malam, Satrya bersama ratusan diplomat negara anggota UNESCO masih mengikuti sidang Dewan Eksekutif yang diperpanjang hingga pukul 21.00. Di sela waktu istirahat, mereka sempat membicarakan demonstrasi besar yang direncanakan berlangsung keesokan harinya, Sabtu, 17 Oktober.

Para wakil negara untuk Unesco tersebut tahu Paris akan menghadapi hari yang tidak biasa. Percakapan juga membahas Gerakan gilets jaunes atau Rompi Kuning, yang muncul pada 2018 sebagai protes terhadap kenaikan pajak bahan bakar, kemudian berkembang menjadi simbol perlawanan masyarakat terhadap ketimpangan ekonomi dan kebijakan pemerintah.

Akar Kerusuhan

Menurut Satrya yang juga pengajar FISIP Unair itu, gerakan ini memperlihatkan bahwa di Perancis, persoalan ekonomi sehari-hari dapat dengan cepat berubah menjadi tuntutan politik yang lebih luas.  Namun, mungkin tidak seorang pun dari para diplomat tersebut membayangkan situasinya akan berkembang seperti yang kemudian terlihat di layar televisi.

Sejak Sabtu, Satrya memilih berada di rumah, mengikuti perkembangan melalui YouTube dan siaran televisi lokal. Namun, semakin lama menyaksikannya, dia merasa bahwa yang sedang berlangsung bukan sekadar kerusuhan di sebuah ibu kota Eropa.

Mobilisasi 17 Oktober tidak muncul tiba-tiba. Dalam beberapa pekan terakhir, pelajar SMA di Perancis telah turun ke jalan mempersoalkan kekurangan guru, kelas yang penuh, ketimpangan pendidikan, hingga sistem penerimaan pendidikan tinggi Perancis. Pemerintah merespons dengan membuka forum dialog dengan para siswa sejak 7 Oktober.

Baca juga :  Lontarkan Lelucon soal 'Mohammad', Trump jadi Sorotan

Menjelang 17 Oktober, gerakan pelajar bertemu dengan mahasiswa, aktivis sosial, serikat pekerja, dan sebagian jaringan gilets jaunnes. Ketidakpuasan terhadap biaya hidup dan pelayanan publik ikut memperluas tuntutan. Di Paris, demonstrasi bergerak dari Place de la République menuju Place de Clichy. Sebagian besar peserta menyampaikan aspirasi secara damai.

Namun, di sekitar aksi terjadi bentrokan dengan polisi, perusakan, dan penjarahan. Pemerintah Kota Paris mengecam kekerasan tersebut. Penting membedakan mereka yang berdemonstrasi untuk memperjuangkan tuntutan dengan orang-orang yang memanfaatkan keramaian untuk melakukan kejahatan. (Sumber: https://satryawibawa.id/data-kerja-satrya/paris-enam-puluh-delapan-pesan-pada-minggu-pagi/)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments