Energi Juang News, Jakarta- Slogan: begitu hutan menjadi abu, di situlah bibit sawit siap menyapa dunia hanya milik para mafia industri. Karena fenomena Karhutla ini ternyata dikendalikan oleh orang yang menganggap asap pekat adalah aroma kesuksesan.
Usut punya usut ia bisa melalap habis ribuan hektar pohon di wilayah Indonesia, tetapi mendadak tahu diri dan berhenti tepat di garis perbatasan Malaysia.
Trik sulap simpelnya adalah pembakaran lahan yang dikelola dengan sangat profesional dan terorganisasi, hasilnya mengubah hutan perawan yang harganya murah menjadi lahan siap tanam yang bernilai selangit.
Sayangnya, akibat dari sulap ini, masyarakat luas terpaksa mendapatkan “bonus” fasilitas hidup berupa polusi udara gratis yang bikin paru-paru menjerit.
Sementara para pengusaha sawit sibuk menghitung tumpukan pundi-pundi uang di Jakarta, warga lokal dan negara tetangga kebagian tugas mulia: menjadi penyedot asap internasional.
Tapi tenang saja, pemerintah kita punya visi yang jauh lebih optimis demi ketahanan pangan nasional: tahun 2045 kita diproyeksikan menjadi lumbung pangan dunia.
Urusan apakah nanti di tahun 2045 kita masih punya sisa oksigen untuk bernapas atau tidak, itu perkara belakangan.
Bahkan Hashim Djojohadikusumo sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi mengusulkan: “Ketimbang membiarkan lahan bekas karhutla atau hutan kritis mangkrak, pemerintah mewacanakan alih fungsi lahan tersebut untuk ditanami komoditas bahan baku biofuel.”
Gagasan adik Presiden Prabowo Subianto ini langsung dikritik tajam oleh publik, akademisi, dan organisasi lingkungan hidup karena beberapa alasan.
Masyarakat mulai melihat garis merah yang jelas antara narasi bahwa karhutla murni merupakan “bencana alam” akibat El Nino atau kemarau panjang.
Berbanding dengan lambatnya pemadaman api di daerah berbarengan izin investasi perkebunan sawit di Jakarta.
Redaksi Energi Juang News




