Energi Juang News,Jakarta- Menghadapi fenomena nilai tukar yang melorot, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti beri pernyataan bahwa stabilitas rupiah masih aman terkendali.
Padahal realitanya nilai tukar rupiah dikabarkan sedang asyik “maraton” melemah hingga menyentuh angka Rp18.027 per dolar AS.
Pernyataan pabrik duit yang sangat menyejukkan hati, seolah-olah mengingatkan kita semua bahwa yang melemah itu hanyalah nilai tukar mata uang, bukan nilai keimanan kita dalam menghadapi cobaan tanggal tua.
Lagi pula, bagi sebagian besar warga yang isi dompetnya lebih sering berupa struk belanja dan tak ada uang cash, alesan duit di dompet digital.
Namun, yang agak bikin dahi mengkerut adalah peringatan BI soal inflasi pangan yang sudah mencapai 5%.
Urusan cabe, beras, dan bawang yang ikutan naik kelas ini jelas lebih bikin ketar-ketir dibanding urusan kurs global.
Untungnya, pemerintah langsung gerak cepat menjanjikan belanja APBN Kuartal IV yang fantastis, yaitu di atas Rp1.300 triliun untuk bantuan pangan dan layanan publik.
Angka triliunan ini tentu terdengar sangat mewah, walau bagi rakyat jelata, jumlah nol yang berderet sebanyak itu di kepala malah sering kali bikin pusing dan berujung obat sakit kepala kemasan di warung sebelah laris terjual.
Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga tidak mau kalah keren dengan berjanji akan menyikat habis para pelaku pelanggaran di pasar modal demi melindungi puluhan juta investor kita.
Tugas kita sebagai warga negara sekarang gampang, kurangi dulu hobi melirik aplikasi belanja online di tengah malam.
Redaksi Energi Juang News




