BerandaGoresan PenaMembongkar Kesesatan Rocky Gerung: MBG Tak Lahirkan Pesepak Bola Hebat di Afrika

Membongkar Kesesatan Rocky Gerung: MBG Tak Lahirkan Pesepak Bola Hebat di Afrika

Pernyataan Anggota Watimpres Rocky Gerung bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah rahasia di balik lahirnya pesepak bola hebat di benua Afrika menuai perbincangan hangat. Dalam konteks wacana publik, pembelaan terhadap kebijakan sosial tentu sah-sah saja. Namun, ketika sebuah argumen dibangun di atas klaim historis yang ahistoris dan asosiasi kausal yang keliru, pernyataan tersebut tidak lagi sekadar wacana opini, melainkan telah bergeser menjadi sebuah kesesatan bernalar (logical fallacy) yang membohongi publik.

Menghubungkan keberhasilan prestasi olahraga dengan program pangan sekolah secara langsung tanpa melintasi analisis variabel mediasi adalah bentuk pencederaan logika sains sosial. Fakta sejarah dan data empiris sama sekali tidak mendukung klaim tersebut.

Berdasarkan literatur ilmiah yang dipublikasikan oleh Sage Journals, program pemenuhan gizi anak sekolah di benua Afrika pertama kali dicatat pada tahun 1935 di Afrika Selatan melalui Milk and Cheese Scheme. Program ini ditujukan bagi murid-murid sekolah dasar dan sebagian siswa sekolah menengah yang membutuhkan.

Apabila premis Rocky Gerung benar—bahwa program intervensi gizi sekolah secara otomatis melahirkan pesepak bola kelas dunia—maka Afrika Selatan seharusnya sudah mendominasi panggung sepak bola global sejak pertengahan abad ke-20. Faktanya, pada era tersebut perkembangan dan prestasi sepak bola Afrika Selatan justru sangat terbelakang.

Kasus serupa terjadi di Togo. Negara di Afrika Barat ini memulai program bantuan makanan sekolah pada tahun 1961 bekerja sama dengan Program Pangan Dunia PBB (World Food Programme/WFP). Jika merujuk pada rentang waktu tumbuh kembang atlet, generasi pesepak bola hebat Togo mestinya bermunculan pada era 1960-an hingga 1970-an. Namun, sejarah mencatat bahwa pesepak bola legendaris asal Togo yang mampu menembus panggung dunia (seperti Emmanuel Adebayor) baru lahir puluhan tahun kemudian, itu pun dipengaruhi oleh dinamika akademi swasta modern dan migrasi klub Eropa, bukan karena program WFP 1961.

Secara akademis, klaim ini runtuh jika dibedah menggunakan dua pendekatan teoretis utama:

Baca juga :  Purbaya Effect: Gebrakan atau Guncangan?

Pertama, Kekeliruan Asosiasi (False Cause / Post Hoc Ergo Propter Hoc). Dalam filsafat ilmu dan metodologi penelitian, kekeliruan terjadi ketika seseorang mengasumsikan bahwa karena peristiwa B terjadi setelah peristiwa A (atau berbarengan di wilayah yang sama), maka A adalah penyebab dari B. Kehadiran program pangan di Afrika tidak serta-merta menjadi variabel independen tunggal yang mencetak atlet.

Kedua, Model DMSP (Developmental Model of Sport Participation) & Teori Ekologi Bronfenbrenner. Menurut Jean Côté dalam Developmental Model of Sport Participation, pembentukan atlet berprestasi tinggi (elite performance) membutuhkan ekosistem bertingkat yang mencakup Infrastruktur dan Fasilitas, Sistem Kompetisi Berejenjang, Kualitas Kepelatihan (Coaching), Pemanduan Bakat dan Industri.

Gizi (nutrition) memang merupakan syarat mendasar (necessary condition) untuk kesehatan fisik anak secara umum, tetapi bukan syarat cukup (sufficient condition) untuk melahirkan bakat olahraga profesional. Tanpa adanya struktur kompetisi dan akademi sepak bola yang kredibel, pemenuhan gizi hanya akan menghasilkan anak yang sehat secara medis, bukan pesepak bola kelas dunia.

Pemain-pemain top Afrika yang berlaga di Eropa lahir dari kombinasi bakat alam, kultur budaya lokal, bakat yang dipandu oleh akademi independen (seperti ASEC Mimosas di Pantai Gading atau Académie Génération Foot di Senegal), serta pemantauan bakat (scouting) yang masif dari klub-klub Eropa.

Pada akhirnya, mendukung program keberlanjutan gizi seperti MBG demi pengentasan stunting dan peningkatan kualitas SDM nasional adalah langkah yang patut didukung. Namun, memaksakan narasi pembelaan dengan memanipulasi fakta sejarah dan mengorbankan logika ilmiah adalah tindakan yang melanggar etika wacana publik.

Sebagai figur yang dikenal mempopulerkan akal sehat, melempar klaim bahwa MBG adalah kunci kesuksesan sepak bola Afrika tanpa dasar fakta historis merupakan bentuk pembodohan publik. Pembelaan terhadap sebuah kebijakan sosial sepatutnya didasarkan pada data yang akurat dan kajian teoretis yang sahih, bukan dengan menyebarkan klaim menyesatkan di ruang publik.

Redaksi Energi Juang News

HD
HDhttps://energijuangnews.com/
Hidup Hanya Sekali, Maka Buatlah Berarti. Pimpinan Redaksi dari EnergiJuangNews.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments