Energi Juang News,Jakarta- Ketika harga kebutuhan kompak naik kelas tapi gaji kita masih betah tinggal kelas dan kondisi ekonomi morat marit, di situlah kreativitas mode belanja dimulai.
Mari kita bedah bagaimana cara manusia modern bertahan hidup dengan dompet yang tipisnya sudah menyamai lembaran tisu dibagi dua.
Di dunia ini, ada tiga hal yang tidak bisa ditebak jalannya: jodoh, maut, dan sisa saldo ATM di akhir bulan. Memasuki fase ekonomi yang lagi hobi bikin senam jantung.
Mari kita bedah bagaimana cara manusia modern bertahan hidup dengan dompet yang tipisnya sudah menyamai lembaran tisu dibagi dua.
Dulu, pergi ke ATM adalah sebuah kegiatan yang penuh kebanggaan dan harapan.
Tapi kini,kondisi dompet yang morat-marit secara otomatis merevolusi isi piring makan kita.
Gaya hidup sehat beralih menjadi gaya hidup “yang penting lambung tidak demo”.
Bahkan, ada sekte baru bernama “Sekte Nasi Magic Com Telur Dadar Seperempat”. Satu butir telur dikocok sekuat tenaga sampai berbusakalau bisa sampai mengembang sebesar kasur.
Tujuannya, biar bisa dimakan untuk sarapan, makan siang, sekaligus makan malam. Kreatif? Jelas. Menyedihkan? Jangan ditanya.
Pada akhirnya, penderitaan finansial ini terasa agak ringan kalau dibawa bercanda. Kita mungkin kalah dalam urusan saldo rekening, tapi kita menang mutlak dalam urusan ketabahan mental.
Sambil terus berharap dan berdoa agar lapangan kerja makin luas dan dompet kembali tebal.
Mari kita jalani hari dengan prinsip: “Sakit kepala karena mikirin cicilan itu biasa, yang penting gaya tetap nomor satu, walau belinya pakai paylater.”
Tetap semangat, para pejuang rupiah!
Redaksi Energi Juang News




