Energi Juang News, Jakarta – Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu sementara unggul dalam pemilu hari Selasa (27.10.2026). Menurut Al Jazeera, dengan 56% surat suara telah dihitung dalam pemilihan umum Israel, blok Netanyahu unggul dengan 55 kursi.
Sedangkan pihak oposisi memegang 49 kursi dan partai-partai yang dipimpin oleh kelompok Arab menguasai 16 kursi. Berdasarkan hasil sementara, Likud tetap menjadi partai terbesar dengan perolehan 20,7% suara.
Netanyahu menyebut kemungkinan bekerja sama dengan partai-partai Arab untuk membentuk pemerintahan sebagai sesuatu yang ‘memalukan dan nista’. Hasil jajak pendapat setelah pemungutan suara (exit poll) menunjukkan bahwa baik partainya maupun pihak oposisi diperkirakan tidak akan mampu meraih 61 kursi di Knesset yang diperlukan untuk mencapai mayoritas.
Menurut Reuters, pemilihan umum Israel di masa perang tampak menemui jalan buntu menurut hasil (exit poll). Situasi ini menjadi potensi kemunduran bagi Netanyahu, karena tidak ada pihak yang memiliki jalan yang jelas untuk meraih kekuasaan.
Blok yang lebih besar milik rivalnya, Gadi Eisenkot, dapat memberinya kesempatan pertama untuk membentuk pemerintahan. Melihat realitas ini Partai-partai Arab bisa menjadi penentu seiring kegagalan Netanyahu dan Eisenkot meraih kemenangan.
BBC melaporkan partai-partai yang dipimpin oleh kelompok Arab di Israel bisa menjadi penentu (kingmaker) jika pihak lain bersedia untuk berkoalisi dengan mereka. Dalam pemilihan kali ini, warga Arab Israel—yang sering mengidentifikasi diri sebagai warga Palestina di Israel dan mencakup seperlima dari total populasi—tampak hadir memberikan suara dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya, Namun mengingat hampir separuh suara (48,2%) belum dihitung, peta kekuatan ini masih bisa berubah secara signifikan.
Redaksi Energi Juang News




