Energi Juang News,Jakarta- Peringatan Sumpah Pemuda tahun ini diisi dengan demonstrasi ribuan mahasiswa yang kompak mengangkat tiga jari ke udara.
Aksi angkat tiga jari ini sempat dikira sebagai audisi masal sekuel film The Hunger Games, padahal ini adalah simbol kritik tajam terhadap jalannya pemerintahan.
Peringatan Sumpah Pemuda tahun ini tampaknya tidak lagi diisi dengan pembacaan teks klasik sambil berdiri tegap.
Alih-alih cuma berikrar, gelombang massa mahasiswa di berbagai kota besar mulai dari Jakarta, Yogyakarta, hingga Jayapura mereka memilih turun ke jalan untuk melakukan pembaruan “konten” kritik.
Fokus utama jemari yang menunjuk langit itu mengarah pada satu masalah krusial: penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dinilai masih jalan di tempat.
Jika Sumpah Pemuda 1928 bertumpah darah yang satu, maka demo kali ini seolah menyuarakan kegelisahan baru: “Bertumpah asap yang satu, asap Indonesia.”
-
- Jari Pertama: Simbol pengingat janji pemilu yang mulai kabur tertutup asap.
- Jari Kedua: Simbol protes karena rakyat sudah lelah disuruh “sabar” saat bernapas saja harus bayar BPJS.
- Jari Ketiga: Kode bahwa jika penanganan karhutla masih begini-begini saja, mahasiswa siap memberi “tiga pilihan sulit” pada evaluasi akhir tahun nanti. Kita tunggu saja, apakah pemerintah akan membalas kode “Tiga Jari” ini dengan aksi nyata, atau justru membalasnya dengan “Salam Dua Jari” alias peace, alias damai-damai saja sambil lanjut ngopi di ruangan ber-AC.
Redaksi Energi Juang News




