Pemandangan yang tak biasa tampak menyita perhatian publik pada aksi demonstrasi yang digelar di Jakarta Pusat, Rabu (28/10/2026). Di tengah gelombang massa aksi dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), membentang dan terangkat sebuah salib merah berukuran besar yang digotong bersama-sama. Kehadiran simbol sakral yang dibalut warna merah mencolok ini bukan sekadar aksesoris aksi biasa, melainkan sebuah manifestasi nyata dari hadirnya Teologi Pembebasan di panggung gerakan sosial-politik Indonesia.
Teologi Pembebasan (Liberation Theology) sendiri merupakan gerakan dari kalangan imam dan intelektual Katolik yang lahir di Amerika Latin pada akhir dekade 1960-an dan awal 1970-an. Gerakan ini muncul sebagai respons kritis terhadap kondisi kemiskinan struktural, penindasan politik, serta cengkeraman rezim otoriter-militeristik yang menyengsarakan rakyat pada masa itu.
Dipelopori oleh seorang imam Katolik asal Peru, Gustavo Gutiérrez, gerakan ini menemukan fondasi intelektualnya saat Gutiérrez menerbitkan karyanya yang amat monumental, A Theology of Liberation (Teología de la liberación). Melalui konsep ini, pembacaan atas Kitab Suci dipadukan secara kritis dengan analisis sosial—termasuk di dalamnya kerangka analisis Marxisme—untuk menguliti dan membedah akar penyebab kemiskinan serta ketidakadilan yang bersifat sistematis.
Teologi Pembebasan secara tegas menolak pandangan bahwa iman adalah sekadar kontemplasi spiritual yang terasing dari realitas empiris. Sebaliknya, gerakan ini menekankan bahwa iman sejati menuntut keterlibatan aktif untuk mengubah struktur-struktur sosial yang dianggap “berdosa”—yakni struktur yang dilumuri oleh praktik penindasan ekonomi-politik dan eksploitasi kemanusiaan.
Kemunculan salib merah dalam aksi PMKRI di Jakarta Pusat pun tidak berdiri di ruang hampa. Penggunaan simbol ini terinspirasi langsung dari film dokumenter Pesta Babi karya sutradara dan aktivis Dandhy Dwi Laksono.
Dalam film dokumenter tersebut, diulas secara mendalam bagaimana salib merah dijadikan sebagai simbol perjuangan dan daya tahan masyarakat adat Papua saat mempertahankan hak-hak atas tanah ulayat mereka dari gempuran proyek korporasi-negara yang menggusur wilayah hidup mereka. Di bumi Cenderawasih, salib merah menjadi pilar pertahanan moral dan spiritual melawan perampasan ruang hidup.
Diusungnya salib merah dalam aksi demonstrasi 28 Oktober oleh kader-kader PMKRI menandai penegasan penting: bahwa agama dan simbol-simbol keagamaan bukan sekadar alat stempel kekuasaan atau legitimasi status quo. Sebagaimana yang dihidupi oleh masyarakat adat di Papua dan dicita-citakan oleh Teologi Pembebasan, iman dan simbol keagamaan dapat bertransformasi menjadi sarana perlawanan yang ampuh terhadap segala bentuk penindasan.
Ketika salib merah berukuran besar itu diangkat di jalanan Jakarta Pusat, para mahasiswa tidak hanya sedang membawa lambang iman mereka, tetapi juga sedang membawa jeritan rakyat, ketidakadilan ekonomi, dan keberpihakan terhadap kaum miskin serta tertindas (option for the poor). Ini adalah pesan tegas bahwa spiritualitas yang hidup adalah spiritualitas yang berani berdiri tegak menentang ketidakadilan.
Redaksi Energi Juang News




