Selasa, Mei 26, 2026
spot_img
Beranda blog Halaman 39

Dari Pengamat Jadi Pelaku, Skandal Numpang Tidur Berujung Bui

sejoli
sejoli

Energi Juang News,NTT- Di negeri yang penuh teori tapi minim praktik, Bendot, 35, justru mengambil jalur sebaliknya. Kalau orang lain cukup jadi pengamat, dia malah naik level jadi “pelaku lapangan”.

Kisahnya dimulai sederhana: numpang tidur. Alasan klasik, serupa mahasiswa kehabisan kuota—rumah penuh tamu. Maka melipirlah Bendot ke rumah Pentol, 30. Harusnya cuma rebahan, tapi namanya juga manusia dengan “visi tambahan”, malam jadi panjang dan penuh kemungkinan.

Sebagai guru SD Inpres di NTT, Bendot dikenal cukup aktif tapi sayangnya bukan cuma di kelas. Waktu luangnya diisi dengan kegiatan unik: mengamati istri tetangga. Bukan untuk penelitian ilmiah, tapi lebih ke “observasi penuh rasa penasaran”.

Minthul, istri Pentol yang disebut-sebut punya pesona “paket lengkap”, jadi objek utama. Gerak-geriknya diperhatikan, komentarnya decak kagum dilontarkan, bahkan sampai ada gombalan ala pengamat infotainment.

Pentol, sang suami, menemukan percakapan yang tak seharusnya ia baca. Dari situ, bukan cuma emosi yang meledak, tapi ia masih sanggup membendung emosi untuk menemukan bukti pendukung.

Otak Bendot yang sudah kemasukan setan berseloroh, “Punya istri cantik kok di rumah aja…” begitu kira-kira gumamnya, yang kalau didengar setan mungkin langsung dikasih standing ovation. Bendotpun mulai melancarkan aksi, dari chatting mesum, hingga berujung ngamar di hotel melati bareng. Semua terjadi begitu mulus, semulus paha Minthul yang keturunan jawa.

Minthulpun tak kuasa menahan serangan rudal fatah ala Bendot yang sudah tak terkendali itu. Padahal Phentol yang ahli IT dengan hati terkoyak mengamati dari jauh.

Dan benar saja, kata setan dan yang jelas bukan dosen pembimbing karena tidak cukup jadi pengamat. Harus ada teguran keras atas ulah kedua orang yang berhubungan terlarang itu, apalagi hubungan badan.. Maka dari situlah teori berubah jadi aksi penggerebekan.

Seperti pepatah modern: “Jejak digital lebih kejam dari mantan.” Chat yang seharusnya jadi rahasia, malah jadi barang bukti.

Minthul akhirnya mengakui semuanya. Tidak ada lagi drama penyangkalan ala sinetron. Semua jelas, semua terbuka, dan semua… terlambat untuk diperbaiki.

Tak butuh waktu lama, laporan pun masuk ke pihak berwajib. Bendot yang tadinya aktif “praktik lapangan”, kini harus praktik menghadapi pemeriksaan.

Kalau pengamat politik bisa dituduh tidak netral, Bendot jelas lebih dari itu—dia terlalu “terlibat”. Dari sekadar melihat, berkomentar, hingga akhirnya ikut bermain.

Ini bukan lagi soal moral tinggi atau rendah. Ini soal logika sederhana: kalau niat awal cuma numpang tidur, kenapa harus bangun dengan masalah?

Bendot mungkin berpikir dia hanya memanfaatkan situasi. Tapi yang terjadi, justru situasi yang “memanfaatkan” dia balik dan hingga berujung pada konsekuensi serius.

Redaksi Energi Juang News

Ratusan Karyawan Google Tolak Penggunaan AI oleh Pentagon

New York, Energi Juang News – Lebih dari 600 karyawan Google mengirimkan surat kepada CEO Sundar Pichai. Surat itu berisi desakan untuk menolak Pentagon menggunakan kecerdasan buatan (AI) milik Google untuk pekerjaan rahasia.

Seperti dilaporkan The Washington Post, surat yang dikirim pada Senin (27/4) itu meminta Pichai menghindari perjanjian apa pun dengan Departemen Pertahanan AS untuk mengizinkan penggunaan rahasia AI milik Google.

Hal itu, menurut surat tersebut, akan membuat perwakilan Google tidak dapat melacak bagaimana teknologi tersebut digunakan.

“Kami ingin melihat manfaat kemanusiaan dari kecerdasan buatan, bukan melihat bagaimana teknologi itu digunakan dengan cara yang baik tidak manusiawi maupun sangat berbahaya. Ini tidak hanya mencakup persenjataan otonom yang mematikan dan pengawasan massal, tetapi lebih dari itu,” bunyi surat tersebut.

Karyawan Google menyebut pengembangan senjata otonom dan pengawasan massal adalah contoh penggunaan berbahaya terhadap kecerdasan buatan.

“Satu-satunya cara untuk menjamin bahwa Google tidak dikaitkan dengan bahaya tersebut adalah dengan menolak beban kerja rahasia apa pun. Jika tidak, maka penggunaan tersebut dapat terjadi tanpa sepengetahuan kami atau kekuatan untuk menghentikannya,” demikian pernyataan tersebut.

Redaksi Energi Juang News

Jejak Panjang Gitar Akustik: Dari Tradisi hingga Tren Modern

Gitar Akustik
Gitar Akustik

Energi Juang News, Jakarta- Kalau kita bicara tentang musik, hampir mustahil melewatkan satu instrumen yang sudah begitu melekat di berbagai budaya: gitar. Dari tongkrongan santai sampai panggung konser besar, gitar selalu punya tempat spesial. Tapi menariknya, alat musik ini bukan cuma sekadar alat petik biasa—ia adalah hasil perjalanan sejarah panjang yang mencerminkan perkembangan budaya, teknologi, dan selera manusia.

Gitar dikenal dengan bentuk tubuhnya yang khas—bagian badan (body) yang berlekuk, leher panjang (neck), dan kepala gitar (headstock) di ujungnya. Di bagian kepala inilah senar diatur ketegangannya, menentukan nada yang dihasilkan. Senar sendiri membentang dari kepala hingga ke badan gitar, menjadi sumber utama suara ketika dipetik.

Pada gitar akustik, terdapat lubang resonansi di bagian badan yang berfungsi memperkuat suara. Tanpa bantuan listrik, suara gitar tetap bisa terdengar jelas karena getaran senar diperkuat oleh rongga dalam tubuh gitar tersebut.

Secara umum, gitar terbagi menjadi dua jenis utama: gitar akustik dan gitar listrik. Gitar listrik membutuhkan amplifier untuk menghasilkan suara yang optimal, sedangkan gitar akustik bisa langsung dimainkan tanpa alat tambahan.

Inilah yang membuat gitar akustik lebih populer di kalangan pemula maupun musisi kasual. Selain lebih ringan, harganya relatif lebih terjangkau, dan tidak ribet karena tidak perlu listrik atau perangkat tambahan.

Sejarah gitar akustik sering dikaitkan dengan Spanyol sebagai tempat lahirnya bentuk modern gitar. Namun, ada juga teori yang menyebutkan bahwa alat serupa gitar sudah ada sejak zaman Babilonia kuno.

Pada masa awal, gitar memiliki bentuk kecil dan belum menggunakan senar seperti sekarang. Sebagai gantinya, digunakan tali dari usus hewan. Salah satu bentuk awal yang terkenal adalah Guitarra Latina, yang memiliki badan melengkung.

Perjalanan gitar tidak berhenti di bentuk awalnya. Pada abad ke-15, gitar hanya memiliki 4 senar. Seiring waktu, jumlah senar bertambah menjadi 5, hingga akhirnya pada abad ke-18 berkembang menjadi 6 senar—standar yang kita kenal hingga hari ini.

Perubahan ini bukan sekadar angka. Penambahan senar memungkinkan eksplorasi nada yang lebih kompleks, membuka jalan bagi berbagai genre musik yang kita nikmati sekarang.

Masuk ke abad ke-19, gitar mulai tampil di berbagai acara musik dan pertunjukan. Ini juga bertepatan dengan berkembangnya transportasi, yang membuat gitar menyebar ke berbagai wilayah.

Musisi mulai membawa gitar ke berbagai tempat, memperkenalkan suara khasnya ke audiens yang lebih luas. Dari sini, gitar mulai menjadi simbol ekspresi personal dalam musik.

Perkembangan teknologi di abad ke-20 membawa perubahan besar. Produksi gitar menjadi lebih masif, dan desainnya semakin disempurnakan—body lebih ramping, bentuk lebih ergonomis, dan kualitas suara semakin baik.

Selain itu, industri musik yang berkembang pesat membuat gitar menjadi instrumen utama di banyak genre, dari folk hingga rock. Banyak pembuat gitar bermunculan, masing-masing membawa inovasi dan karakter unik.

Dengan meningkatnya permintaan, banyak perusahaan mulai terjun ke bisnis pembuatan gitar. Kompetisi pun tidak terhindarkan—mulai dari kualitas bahan, desain, hingga strategi pemasaran.

Di Indonesia sendiri, salah satu brand yang cukup dikenal adalah Helder Guitar. Brand ini dikenal karena menghadirkan gitar akustik dengan kualitas tinggi namun tetap terjangkau. Fokus mereka pada detail—mulai dari bentuk body hingga kekuatan senar—menjadi nilai tambah yang menarik bagi para pemain gitar.

Fenomena menarik lainnya adalah bagaimana promosi memengaruhi minat beli masyarakat. Di Indonesia, diskon kecil saja bisa langsung memicu lonjakan pembelian. Namun, penting untuk tetap melakukan riset sebelum membeli gitar—tidak hanya tergiur harga, tapi juga mempertimbangkan kualitas dan kebutuhan.

Gitar bukan sekadar barang, tapi investasi dalam perjalanan musikal seseorang.

Di tengah perkembangan teknologi musik yang semakin canggih, gitar akustik tetap bertahan dan bahkan semakin digemari. Alasannya sederhana: kepraktisan, kehangatan suara, dan koneksi emosional yang ditawarkannya.

Tanpa kabel, tanpa listrik, hanya jari dan senar—gitar akustik menawarkan pengalaman musik yang lebih intim dan personal.

Perjalanan gitar akustik adalah cerminan dari evolusi musik itu sendiri. Dari alat sederhana dengan tali usus hingga instrumen modern dengan desain presisi tinggi, gitar telah melewati berbagai fase yang membentuk identitasnya hari ini.

Redaksi Energi Juang News

Pengoperasian Palang Pintu KA oleh Warga Berisiko Tinggi

Jakarta, Energi Juang News- Praktik penggunaan palang pintu rel kereta api manual yang dioperasikan masyarakat dan bukan bersifat resmi, memiliki risiko tinggi. Demikian ditegaskan Wakil Ketua Komisi V DPR Ridwan Bae.

“Karena itu, palang pintu rel KA yang dikelola warga perlu ditingkatkan ke sistem lebih modern. Selain itu, pembangunan ‘flyover’ (jalan layang) atau ‘underpass’ (jalan bawah tanah) di wilayah dengan lalu lintas tinggi juga perlu dipercepat untuk meminimalkan potensi kecelakaan,” kata Ridwan di Jakarta, Selasa.

Penegasan tersebut menanggapi kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, pada Senin (27/4) dengan korban hingga Selasa (28/4) sore sebanyak 15 orang meninggal dunia akibat peristiwa tersebut.

Menurut dia, setelah peristiwa itu, perlunya evaluasi terhadap perlintasan sebidang, khususnya terkait penggunaan palang pintu otomatis dan keterlibatan petugas resmi.

Selain itu, dia juga mendorong evaluasi mendalam terhadap sistem persinyalan dan komunikasi operasional, yang seharusnya mampu mencegah tabrakan dengan memberikan informasi seketika (real-time) kepada masinis dan petugas stasiun.

Adanya jeda waktu antara insiden awal dan tabrakan susulan menunjukkan perlunya investigasi lebih lanjut, baik dari aspek dugaan kesalahan manusia (human error) maupun keandalan teknologi.

Untuk itu, dia mendorong evaluasi menyeluruh dan investigasi transparan guna memulihkan kepercayaan publik serta memastikan keselamatan sebagai prioritas utama dalam transportasi kereta api.

Ia juga menyampaikan duka cita mendalam serta mengapresiasi langkah cepat pemerintah, termasuk kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto dalam memastikan penanganan korban.

Ia juga mendukung kebijakan KAI dalam menanggung biaya pemakaman korban meninggal serta biaya perawatan korban luka.

Redaksi Energi Juang News

Siksa Balita, Daycare Baby Preneur Banda Aceh Akan Ditutup

Banda Aceh, Energi Juang News – Pemerintah Kota Banda Aceh menegaskan akan menutup operasional tempat penitipan anak Daycare Baby Preneur. Hal itu dilakukan menyusul kasus dugaan penganiayaan terhadap balita berusia 18 bulan.

Kasus itu kini dalam penyelidikan kepolisian.

“Untuk daycare yang bersangkutan akan kami tutup,” kata Wakil Wali Kota Banda Aceh Afdhal Khalilullah di Banda Aceh, Selasa malam.

Kasus tersebut mencuat setelah rekaman CCTV dugaan penganiayaan viral di media sosial dan menarik perhatian publik. Peristiwa itu kini ditangani aparat kepolisian.

Manajemen Daycare Baby Preneur juga telah menyampaikan permohonan maaf melalui media sosial serta menyatakan terduga pelaku telah diberhentikan dan diserahkan ke proses hukum.

Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Banda Aceh telah melakukan penyelidikan dengan memeriksa enam saksi, termasuk pemilik yayasan, serta mengamankan terduga pelaku berinisial DS (24).

Afdhal menegaskan pemerintah kota akan mengawal proses hukum hingga tuntas serta memastikan transparansi kepada masyarakat.
“Kami sangat prihatin. Kasus ini seharusnya tidak terjadi. Kami akan memperketat pengawasan terhadap seluruh daycare di Banda Aceh agar sesuai standar operasional dan perizinan,” ujarnya.

Sementara itu, Tim Hukum Pemkot Banda Aceh Sulthan M. Yus mengatakan pemerintah telah mengambil sejumlah langkah, antara lain menerima pengaduan dan memberikan pendampingan kepada keluarga korban, termasuk dukungan psikososial.

Pemerintah juga berkoordinasi dengan kepolisian untuk mengawal proses hukum, serta akan memanggil pihak pengelola dan yayasan guna dimintai keterangan dan pertanggungjawaban.

“Penanganan dilakukan secara menyeluruh, termasuk kemungkinan adanya unsur kelalaian pihak lain di lokasi,” katanya.

Ia menambahkan, berdasarkan data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), daycare tersebut tidak memiliki izin operasional

Pemerintah Kota Banda Aceh juga melakukan asesmen terhadap seluruh penyelenggara daycare guna memastikan pemenuhan standar perlindungan anak.

Selain itu, dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap perizinan serta standar layanan seluruh fasilitas penitipan anak dan pendidikan usia dini di wilayah tersebut.

Pemerintah mengimbau orang tua dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan serta tidak menyebarluaskan konten yang dapat berdampak pada kondisi psikologis anak.

“Pemkot Banda Aceh berkomitmen memastikan kejadian serupa tidak terulang melalui penguatan pengawasan dan penegakan aturan,” ujar Sulthan.

Redaksi Energi Juang News

Pasca Kecelakaan Bekasi Timur, Kemenhub Sidak Pool Green SM

Jakarta, Energi Juang News- Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan melakukan inspeksi mendadak (sidak)  ke pool taksi Xanh SM (Green SM) di Bekasi, Jawa Barat, Selasa malam. Sidak itu dilakukan menyusul insiden kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Aan Suhanan mengatakan sidak dilakukan untuk memastikan penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Perusahaan Angkutan Umum (SMK PAU) berjalan sesuai ketentuan.

“Dalam penyelenggaraan angkutan umum, terdapat sejumlah elemen keselamatan yang harus dipenuhi sesuai SMK PAU. Sidak ini untuk memastikan seluruh aspek tersebut dijalankan, mulai dari pemeriksaan kendaraan sebelum operasi hingga kompetensi dan kesehatan pengemudi,” kata Aan dalam keterangan di Jakarta.

Ia menjelaskan sidak dilakukan di pool Green SM Bekasi karena lokasi tersebut merupakan basis operasional kendaraan yang diduga terlibat dalam insiden.
Pemeriksaan difokuskan pada kelengkapan administrasi, kelaikan kendaraan, kesiapan operasional armada, serta aspek keselamatan lainnya.

“Kami ingin memastikan sistem manajemen keselamatan di perusahaan angkutan umum telah dijalankan sesuai ketentuan. Dari hasil pemeriksaan awal, terdapat beberapa temuan yang akan kami dalami lebih lanjut,” ujarnya.

Aan menambahkan, pendalaman lanjutan akan dilakukan di pool pusat Green SM di Kemayoran, Jakarta, untuk memperoleh hasil evaluasi yang lebih komprehensif.

Selain itu, Ditjen Perhubungan Darat juga akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terkait dugaan keterlibatan kendaraan dalam kecelakaan KRL Cikarang dengan KA Argo Bromo Anggrek.

Sementara itu, Direktur Sarana dan Keselamatan Transportasi Jalan Ditjen Hubdat Kemenhub Yusuf Nugroho yang memimpin inspeksi mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengawasan terhadap pelaksanaan SMK PAU.

Pengawasan tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 85 Tahun 2018 tentang Sistem Manajemen Keselamatan Perusahaan Angkutan Umum.
“Dalam hal terjadi insiden, Ditjen Perhubungan Darat dapat melakukan audit dan inspeksi melalui pengamatan dan pemantauan,” kata Yusuf.

Ia menegaskan hasil audit dan inspeksi akan menjadi dasar pemberian rekomendasi, baik berupa perbaikan sistem keselamatan maupun sanksi administratif apabila ditemukan pelanggaran. Sanksi tersebut dapat berupa teguran tertulis, pembekuan izin, hingga pencabutan izin sesuai tingkat pelanggaran.

 

Redaksi Energi Juang News

Tragedi Bekasi Timur: Nyawa Dikalahkan oleh Logika Profit?

Kecelakaan maut yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL rute Jakarta–Cikarang di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4), yang merenggut 15 nyawa, bukan sekadar insiden teknis dalam sistem transportasi. Peristiwa ini adalah cermin buram dari tata kelola korporasi transportasi publik yang masih menempatkan efisiensi dan keuntungan di atas keselamatan manusia.

Dalam konteks ini, tragedi tersebut layak menjadi “tamparan keras” bagi dua entitas yang terkait—PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan Taksi Green SM—untuk melakukan refleksi mendasar dan reformasi menyeluruh.

Dalam perspektif teori ekonomi politik, khususnya pendekatan kapitalisme modern, korporasi cenderung beroperasi berdasarkan prinsip maksimalisasi keuntungan (profit maximization). Pemikiran klasik Milton Friedman menegaskan bahwa tanggung jawab utama perusahaan adalah meningkatkan keuntungan bagi pemegang saham.

Namun, pendekatan ini telah lama dikritik karena mengabaikan dimensi etika dan keselamatan publik. Dalam sektor transportasi massal, logika tersebut menjadi sangat problematis, karena setiap kelalaian berpotensi berujung pada hilangnya nyawa manusia.

Di sisi lain, konsep stakeholder theory yang diperkenalkan oleh R. Edward Freeman menawarkan pendekatan yang lebih manusiawi. Teori ini menekankan bahwa perusahaan memiliki tanggung jawab tidak hanya kepada pemegang saham, tetapi juga kepada seluruh pemangku kepentingan, termasuk pengguna jasa. Dalam konteks ini, keselamatan penumpang seharusnya menjadi prioritas absolut, bukan variabel yang dinegosiasikan demi efisiensi operasional.

Kecelakaan di Bekasi Timur mengindikasikan adanya kegagalan sistemik, baik dalam manajemen operasional, kelayakan pelayanan di masing-masing moda transportasi, maupun pengawasan keselamatan. Jika benar terdapat kelalaian dalam sistem persinyalan, kondisi taksi, jadwal perjalanan, atau komunikasi antar petugas, maka hal ini menunjukkan bahwa aspek keselamatan belum menjadi “budaya organisasi” yang mengakar.

Sosiolog Ulrich Beck dalam teorinya tentang risk society menjelaskan bahwa masyarakat modern justru semakin rentan terhadap risiko yang dihasilkan oleh sistem teknologi dan industri itu sendiri. Transportasi massal, yang seharusnya menjadi simbol kemajuan, justru bisa menjadi sumber bencana ketika dikelola dengan logika efisiensi semata tanpa mitigasi risiko yang memadai.

Lebih jauh, tragedi ini juga menyingkap persoalan klasik dalam tata kelola BUMN dan korporasi jasa publik di Indonesia: lemahnya akuntabilitas. Dalam banyak kasus, evaluasi pasca-kecelakaan sering kali berhenti pada level teknis, tanpa menyentuh akar struktural seperti budaya keselamatan, tekanan target kinerja, hingga minimnya investasi pada sistem keamanan.

PT KAI sebagai operator utama perkeretaapian nasional tidak bisa berlindung di balik narasi “insiden tak terduga”. Sebaliknya, perusahaan harus secara terbuka mengaudit sistem keselamatannya, memperkuat standar operasional, dan memastikan bahwa setiap lini organisasi memahami bahwa keselamatan adalah prioritas utama.

Hal yang sama berlaku bagi operator transportasi Taksi Green SM, yang merupakan bagian dari ekosistem mobilitas publik dan memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan pengguna.
Reformasi yang dibutuhkan bukan sekadar tambal sulam prosedur, melainkan transformasi paradigma. Keselamatan harus diposisikan sebagai investasi jangka panjang, bukan biaya yang bisa ditekan.

Dalam literatur manajemen risiko, dikenal konsep high reliability organization (HRO), yaitu organisasi yang beroperasi dalam lingkungan berisiko tinggi namun mampu meminimalkan kecelakaan melalui disiplin, redundansi sistem, dan budaya kewaspadaan tinggi. Model ini seharusnya menjadi acuan bagi sektor transportasi publik di Indonesia.

Pada akhirnya, tragedi Bekasi Timur adalah pengingat bahwa di balik angka statistik penumpang dan laporan kinerja perusahaan, terdapat nyawa manusia yang tidak tergantikan. Tidak ada justifikasi apa pun yang bisa membenarkan kelalaian dalam keselamatan.

Jika peristiwa ini tidak dijadikan titik balik untuk perubahan serius, maka kita hanya menunggu waktu hingga tragedi serupa terulang. Dan ketika itu terjadi, yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi korporasi, tetapi juga kepercayaan publik terhadap sistem transportasi nasional.

Sudah saatnya korporasi berhenti melihat keselamatan sebagai beban, dan mulai memahaminya sebagai tanggung jawab moral yang tidak bisa ditawar. Karena dalam transportasi publik, keuntungan bisa dicari kembali—tetapi nyawa manusia tidak.

 

Oleh Hizkia Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)

 

Redaksi Energi Juang News

Desak Made Pimpin Babak Kualifikasi Asian Beach Games Sanya

Jakarta, Energi Juang News-  Atlet panjat tebing Indonesia Desak Made Rita Kusuma Dewi memimpin hasil babak kualifikasi nomor speed putri Asian Beach Games Sanya 2026. Hal itu terjadi setelah Desak menjadi yang tercepat pada kategori individu di Sanya, China, Selasa.

Desak Made mencatatkan waktu terbaik 6,27 detik untuk berada di peringkat pertama daftar hasil kualifikasi nomor speed putri, dikutip dari laman resmi Asian Beach Games 2026.

Catatan waktu tersebut mengungguli atlet China Zhou Yafei dengan 6,34 detik, dan atlet Korea Selatan Jeong Jimin dengan 6,40 detik, yang masing-masing menempati peringkat kedua dan ketiga.

Atlet panjat tebing Indonesia lainnya Kadek Adi Asih mencatatkan 6,60 detik untuk menempati peringkat keempat dalam hasil kualifikasi nomor speed putri.

Peringkat 10 besar didominasi oleh atlet panjat tebing tuan rumah dan Korea Selatan, dengan atlet Indonesia Amanda Narda Mutia berada di posisi kesembilan mencatatkan waktu terbaik 6,95 detik.
Atlet Jepang Ren Koyamatsu menutup daftar 10 besar dengan catatan waktu terbaik 6,99 detik.

Sementara itu, atlet Indonesia lainnya Puja Lestari berada pada posisi ke-14 hasil kualifikasi nomor speed putri panjat tebing dengan catatan waktu 7,62 detik.

Di sektor putra, semua atau empat wakil Indonesia berhasil lolos dari babak kualifikasi. Raharjati Nursama dan Aditya Tri Syahria mencatatkan waktu terbaik 4,83 detik dan 4,85 detik untuk menempati peringkat keempat dan kelima.

Sementara, Antasyafi Robby Al Hilmi dan Ramaski Aswin Kristanto berada di urutan keempat dan ke-14 dalam hasil kualifikasi dengan catatan waktu terbaik 4,94 detik dan 5,18 detik.

Adapun kualifikasi panjat tebing speed putra Asian Games Beach Sanya 2026 dipimpin oleh atlet China Zhou Yicheng dengan catatan waktu 4,58 detik.

Final nomor speed putra dan putri panjat tebing akan berlangsung hari ini, Selasa, mulai pukul 19.00 WIB.

 

Redaksi Energi Juang News

Pemerintah Bebaskan Bea Masuk Impor LPG

Jakarta, Energi Juang News- Pemerintah membebaskan bea masuk impor produk liquefied petroleum gas (LPG) dari 5 persen menjadi 0 persen. Hal itu diterapkan sebagai langkah mendukung industri petrokimia.

Kebijakan itu terutama ditujukan untuk membantu industri petrokimia yang tengah mengalami kesulitan memperoleh bahan baku nafta akibat krisis di Selat Hormuz.

“Insentif untuk LPG, yakni intervensi kebijakan berupa penurunan bea masuk utamanya untuk industri petrokimia yang dengan adanya konflik di Selat Hormuz mengalami kesulitan memperoleh nafta,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.

Sebagaimana diketahui, industri petrokimia memegang peranan penting di tengah kelangkaan bahan baku plastik saat ini.

Industri ini menghasilkan berbagai bahan kimia industri dengan mengolah bahan dari kilang seperti nafta atau gas alam menjadi produk turunan, salah satunya bahan baku plastik.

Sebagaimana arahan Presiden, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mencari sumber alternatif nafta. Maka dari itu, sebagai langkah jangka pendek, pemerintah menurunkan bea masuk impor LPG agar kilang bisa beralih menggunakan LPG sebagai bahan baku alternatif.

Kebijakan tersebut akan berlaku selama enam bulan, dan tinggal menunggu penerbitan Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) serta Peraturan Menteri Keuangan (PMK).

Menurut Menko, langkah serupa juga telah diambil oleh sejumlah negara, seperti India guna menjaga stabilitas biaya produksi plastik kemasan sehingga tidak mendorong kenaikan harga makanan dan minuman.

 

Redaksi Energi Juang News

Kisah Sunyi di Balik Bayang-Bayang Eyang Joyodigo

makam gantung
makam gantung

Energi Juang News,Blitar-Langit sore di perbukitan Blitar tampak meredup lebih cepat dari biasanya. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan daun kering yang bergesekan. Jalan setapak menuju sebuah lokasi yang jarang disebut secara terang-terangan itu mulai terasa ganjil. Warga sekitar menyebutnya dengan nada setengah berbisik—sebuah tempat yang menyimpan cerita lama, antara sejarah dan sesuatu yang sulit dijelaskan.

“Mas, kalau mau ke sana, jangan lupa permisi dulu,” kata seorang bapak tua di warung pinggir jalan.

“Permisi ke siapa, Pak?” tanya Raka, seorang pemuda yang datang dengan rasa penasaran.

Bapak itu tersenyum tipis. “Ya… sama yang punya tempat.Perjalanan Raka membawanya ke sebuah area yang dikenal masyarakat sebagai makam gantung. Di sanalah, konon, bersemayam sosok yang disebut-sebut sebagai Eyang Joyodigo—tokoh dari masa lampau yang hidup jauh sebelum penjajahan Belanda dan dipercaya pernah melawan kekuasaan kolonial.

Namun, bukan hanya sejarah yang membuat tempat itu dikenal.

Ketika Raka tiba, ia disambut oleh seorang kuncen yang telah menjaga area tersebut selama puluhan tahun. Wajahnya tenang, tapi matanya menyimpan banyak cerita.

“Sampeyan datang sendiri?” tanya sang kuncen.

“Iya, Pak. Saya dengar tempat ini… berbeda.”

Kuncen itu mengangguk pelan. “Berbeda itu relatif. Yang jelas, tidak semua orang cocok datang ke sini.”

Menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, proses pemakaman Eyang Joyodigo tidak berlangsung seperti biasa. Ketika beliau wafat, keluarga mengalami kebingungan karena ilmu yang diyakini dimilikinya semasa hidup.

Untuk menyempurnakan pemakaman, jasadnya tidak langsung dikubur di tanah. Tubuhnya disangga sekitar setengah meter dari permukaan sebelum akhirnya ditutup. Dari situlah istilah “makam gantung” muncul.

“Dulu katanya, kalau langsung ditanam, bisa ada hal yang tidak diinginkan,” jelas kuncen.

“Hal seperti apa, Pak?” Raka mendesak.

Kuncen hanya tersenyum samar. “Yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.”

Malam mulai turun saat Raka memutuskan untuk tetap tinggal lebih lama. Suasana berubah drastis. Udara terasa lebih dingin, dan suara jangkrik terdengar seperti bergaung dari kejauhan.

Tiba-tiba, terdengar suara gemerisik dari semak-semak.

Raka menoleh cepat. “Pak… itu suara apa?”

Kuncen menatap ke arah yang sama, lalu berkata pelan, “Biasanya… bukan angin.”

Tak lama, sesuatu bergerak perlahan. Seekor ular besar muncul dari balik kegelapan. Warnanya tidak biasa—gelap dengan semburat yang berkilau di bawah cahaya bulan.

Raka mundur selangkah. “Itu… ular biasa?”

“Kalau di sini, tidak ada yang benar-benar ‘biasa’,” jawab kuncen.

Cerita tentang penampakan memang bukan hal baru di tempat itu. Beberapa pengunjung mengaku pernah melihat sosok yang diyakini sebagai Eyang Joyodigo. Namun, menurut kuncen, tidak semua orang bisa melihatnya.

“Hanya yang ‘dipanggil’ saja,” katanya.

“Dipanggil?” Raka mengulang dengan suara pelan.

“Iya. Kadang orang datang tanpa niat apa-apa, tapi pulang membawa cerita.”

Seorang warga lain, Bu Sarmi, pernah mengalami kejadian yang hingga kini membuatnya enggan kembali ke area tersebut.

“Motor saya tiba-tiba mati, Mas. Padahal sebelumnya nggak ada masalah,” ceritanya.

“Terus, Bu?”

“Ya saya panik. Terus ada yang bilang, coba salam dulu. Saya coba… ‘permisi, saya cuma lewat’… eh, motornya nyala lagi.”

Raka mengernyit. “Kebetulan?”

Bu Sarmi menggeleng. “Kalau cuma sekali mungkin. Tapi katanya banyak yang ngalamin.”

Kuncen sendiri mengaku sering mengalami kejadian yang sulit dilupakan.

“Kadang malam-malam ada suara langkah, padahal nggak ada siapa-siapa,” ujarnya.

“Takut nggak, Pak?”

“Awalnya iya. Lama-lama… terbiasa. Tapi tetap harus hormat.”

Ia menambahkan bahwa waktu-waktu tertentu terasa lebih “menyeramkan” dibanding biasanya. Terutama saat malam Jumat atau menjelang tengah malam.

“Suasananya beda. Seperti ada dua ekor macan besar yang mengawasi.”

Meski begitu, kuncen menegaskan bahwa tidak semua cerita harus dipercaya mentah-mentah. Banyak kisah berkembang menjadi mitos yang dibumbui dari mulut ke mulut.

“Yang penting itu, kita tahu ini bagian dari sejarah dan kepercayaan,” katanya.

Raka mengangguk, mencoba mencerna semua yang ia dengar dan alami.

Saat ia bersiap pulang, Raka menoleh sekali lagi ke arah makam. Di bawah cahaya bulan, tempat itu tampak sunyi, tapi bukan sunyi yang kosong. Ada rasa seperti… dijaga.

Redaksi Energi Juang News