Rabu, Mei 27, 2026
spot_img
Beranda blog Halaman 747

Momentum Jelang Kemerdekaan RI (Bagian 1)

Gerak News- Pada 14 Agustus 1945 Jepang menyerah pada Sekutu, setelah Nagasaki dan Hiroshima dihancurkan. Para pemuda pejuang di Indonesia pun menyadari kondisi geopolitik ini. Pada 16 Agustus 1945, Sukarno-Hatta yang “diculik” Sukarni Cs ke Rengasdengklok, Karawang, baru tiba di Jakarta jelang tengah malam. Hal ini setelah golongan muda diyakinkan Achmad Subardjo bahwa Kemerdekaan akan dilangsungkan besok hari, 17 Agustus 1945. Sukarno-Hatta harus kembali ke Jakarta.

Tiba di Jakarta, Sukarno mengantar dulu Fatmawati dan Guntur ke kediaman di Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Saat itu, Jakarta dalam kondisi jam malam, tak boleh ada kegiatan kecuali ditangkap tentara Jepang.

Dalam situasi genting, tempat paling aman ya tempat orang Jepang sendiri. Lagi-lagi, Ahcmad Subardjo berperan. Ia bekerja sebagai Staff Laksamana Muda Tadashi Maeda, seorang perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang dan Kepala Penghubung Angkatan Laut dan Angkatan Darat Tentara Kekaisaran Jepang. Bagi pandangan picik saat itu, mungkin Achmad Subardjo dianggap agen atau antek Jepang—dia bekerja pada Perwira Jepang.

Tapi berkat jasa Achmad Subardjo, datanglah semua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) ke kediaman Laksamana Maeda. Sekali lagi, ini tempat paling aman.

Di kursi ruang tamu, Achmad Subarjo bersama Sukarno-Hatta, berbincang dengan Maeda: minta izin untuk menjadikan kediamannya sebagai tempat merumuskan naskah proklamasi. Rencana, Proklamasi sendiri akan dikumandangkan besok pagi di kediaman Sukarno. Maeda mempersilakan, dan dia pergi ke kamar pribadinya di lantai 2. Sementara di ruangan sebelah kanan rumah, hadir para anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang berdatangan.

Saat dinihari, Sukarno, Hatta dan Achmad Subardjo merumuskan naskah Proklamasi. Nyaris selama dua hari ini mereka tidak tidur. 26 pemuda lainnya menunggu di ruang depan, sebelah kiri pintu masuk rumah Laksamana Maeda.

Sementara itu, pembantu sekaligus Sekretaris Maeda, Satsuki Mishima, yang menjadi satu-satunya perempuan di rumah itu, ikut terlibat dalam kemerdekaan Indonesia. Ia orang Jepang juga. Ia memasak sarden, telur dan roti, untuk sahur para tokoh yang beragama Islam, yang merupakan para pendiri bangsa Indonesia.

Naskah proklamasi disusun di ruang makan kediaman Meida, di samping bagian dalam ruang tamu. Sukarno mengambil secarik kertas dan tinta, serta merumuskan dan menulis teks proklamasi kemerdekaan Indonesia. Hatta, merumuskan paragraf kedua. Sementara Achmad Soebardjo merumuskan paragraf pertama.

(Yayan Sopiani)

Gus Falah Tegaskan Pelarangan Jilbab Bagi Paskibraka Tak Terkait Megawati

Gus Falah Tegaskan Pelarangan Jilbab Bagi Paskibraka Tak Terkait Megawati

Energi Juang News, Jakarta- Anggota DPR-RI Fraksi PDI Perjuangan Nasyirul Falah Amru (Gus Falah) menegaskan kebijakan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi yang sempat membuat Paskibraka putri yang berhijab harus melepas jilbabnya, tidak ada kaitannya dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

Gus Falah Tegaskan Polemik Jilbab Paskibraka Tak Terkait Megawati

Sebagaimana diketahui, Megawati Soekarnoputri merupakan Ketua Dewan Pengarah BPIP.

Gus Falah menyatakan, sebagai Kepala BPIP, Yudian memiliki otoritas penuh dalam menerbitkan sebuah kebijakan. Termasuk ketika menerbitkan Surat Keputusan (SK) Kepala BPIP Nomor 35 Tahun 2024 tentang Standar Pakaian, Atribut, dan Sikap Tampang Pasukan Pengibar Bendera Pusaka, yang akhirnya membuat para paskibraka putri berhijab harus melepaskan jilbabnya.

Keluarnya SK yang akhirnya meletuskan polemik itu berbasiskan otoritas penuh pak Yudian sebagai Kepala BPIP, tak ada intervensi Ketua Dewan Pengarah disitu,” tegas Gus Falah, Jumat 16 Agustus 2024.

Baca juga : Gus Falah Dukung Indika Energy Bangun Smelter Bauksit

Gus Falah melanjutkan, Megawati sebagai Ketua Dewan Pengarah hanya memberikan arahan secara umum kepada pelaksana, termasuk Kepala BPIP terkait arah kebijakan pembinaan ideologi Pancasila.

Sedangkan soal detail kebijakan dari Kepala BPIP, Ketua Dewan Pengarah tak selalu mengetahuinya.

Rekam Jejak Megawati dan Sikap PDIP terhadap Jilbab

Gus Falah pun menegaskan, berbeda dengan di BPIP, Megawati memiliki otoritas penuh di PDI Perjuangan sebagai Ketua Umum.

Dan dari dulu hingga kini, tidak pernah ada pembatasan atau pelarangan jilbab di PDI Perjuangan.

“Bisa di cek, sangat banyak kader kami yang berhijab. Dan di setiap acara partai, para pengisi acara pun bisa mengenakan jilbab tanpa ada larangan dari ibu Ketua Umum,” tegas Gus Falah.

Bahkan, sambung Gus Falah, Baitul Muslimin Indonesia sebagai organisasi sayap keislaman PDI Perjuangan pernah menggelar ajang Hijab Hunt atau pencarian bakat model busana muslim pada 2018.

Jadi, Ibu Megawati tidak memiliki rekam jejak membatasi apalagi melarang pemakaian jilbab. Sehingga sangat tidak tepat bila keputusan Kepala BPIP itu dihubung-hubungkan dengan Ibu Megawati,” tegas Gus Falah.

Polemik tentang jilbab Paskibraka berbuntut pada munculnya ‘serangan’ terhadap Megawati Soekarnoputri, khususnya di media sosial.

Posisi Megawati sebagai Ketua Dewan Pengarah BPIP dikaitkan dengan keputusan Kepala BPIP yang sempat membuat para paskibraka berhijab harus melepas jilbabnya.

Redaksi Energi Juang News

Ansy Lema Nilai Penting Kehadiran Perempuan Dalam Kepemimpinan NTT

Gerak News, Jakarta- Bakal calon Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Yohanis Fransiskus Lema ( Ansy Lema) menilai penting kehadiran figur perempuan dalam kepemimpinan NTT.

“Sejumlah masalah mendasar yang terus berlangsung di NTT berkaitan erat dengan perempuan, seperti kemiskinan, kesehatan ibu dan anak, stunting, pendidikan, hingga pekerja migran. Belum lagi ada problem juga terkait kaum rentan dan marginal, khususnya kelompok perempuan miskin di pedesaan,” kata Ansy Lema di Jakarta, Kamis, 15 Agustus 2024.

Dikatakannya, upaya pengarusutamaan jender ( gender mainstreaming) penting untuk diinisiasi melalui kehadiran perempuan di level kepemimpinan. Apalagi sejumlah masalah utama, seperti kemiskinan, kesehatan, dan pendidikan berhubungan erat dengan eksistensi dan peran perempuan.

“Perempuan/ibu berada di garda terdepan terkait tanggung jawab kesejahteraan keluarga. Mereka adalah mitra sejajar lelaki/suami yang peduli pada kesejahteraan keluarga. Itu berarti penanganan masalah kemiskinan, kesehatan, dan pendidikan membutuhkan partisipasi aktif kaum perempuan,” ujarnya. 

Ansy menjelaskan, kemiskinan NTT adalah wajah kemiskinan perempuan. Itu berarti masalah kesejahteraan, Kesehatan maupun pendidikan di NTT adalah potret termajinalnya peran perempuan NTT dalam pembangunan daerah.

Calon Gubernur yang diusung PDI Perjuangan ini menilai budaya patriarki yang mengatur sistem sosial-kemasyarakatan turut andil terhadap kondisi riil masyarakat NTT hingga kini.

Budaya patriarki tidak hanya berdampak dalam pengambilan keputusan di lingkup keluarga atau adat. Hal serupa berpengaruh juga ke pemerintahan, mulai dari level terbawah, yaitu desa/kelurahan. Gambaran itu terlihat dari Musyawarah Rencana Pembangunan Desa (Musrenbangdes)

“Mulai dari Musrenbangdes dominasi laki-laki sangat kuat. Akibatnya, aspirasi dan arah pembangunan mulai dari level terbawah sudah kental dengan kepentingan dan pola pikir maskulin. Padahal kita sangat membutuhkan partisipasi dan aspirasi perempuan untuk menyelesaikan masalah-masalah mendasar terkait perempuan di atas,” urai juru bicara Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.

Untuk itu, Ansy menilai penting diadakan Musyawarah Khusus (Muskhus) Perempuan di tingkat desa/kelurahan sebagai langkah nyata pengarusutamaan gender.

Ansy Lema menjelaskan, konsep pembangunan partisipatif yang dijalankan selama ini sudah berada pada alur yang benar. 

Pola People-Centered Development yang menempatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat sebagai pusat dari desain atau perencanaan, implementasi hingga evaluasi pembangunan sudah mulai diterapkan.

Namun, aspek partisipatif dimaksud masih perlu dilengkapi dengan keterwakilan perempuan, terutama dalam kultur patriarki di NTT.

Apalagi kaum perempuan di desa-desa masih tergolong kelompok marjinal, yakni kalompok yang tidak memiliki akses pada penentuan kebijakan.

“Karena itu kita perlu mempertegas konsep partisipatif dalam People-Centered Development melalui pendekatan yang terpusat pada kepentingan dan pemberdayaan perempuan yang disebut Woman-Centered Development,” jelas Ansy.

Gerakan tersebut sebenarnya sudah diinisiasi melalui wadah Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). 

Aksi afirmatif untuk mengaktifkan gerakan ini membutuhkan perhatian khusus di level kepemimpinan. Namun, upaya menggerakkan PKK dan pemberdayaan perempuan belum menjadi program arus utama selama dominasi kepemimpinan laki-laki masih berlangsung.

Berbagai pertimbangan inilah yang mendorong figur yang diusung PDI Perjuangan sebagai calon Gubernur NTT menilai penting kehadiran sosok perempuan dalam kepemimpinan Provinsi NTT.

Menurut Ansy, keberadaan perempuan dalam struktur kepemimpinan tertinggi akan mendukung arah pembangunan yang menyertakan aspirasi dan kepentingan kaum perempuan.

“Lebih dari itu, kehadiran perempuan akan membantu pemerintah untuk fokus pada problem yang berkaitan dengan perempuan, seperti kemiskinan, kesehatan, dan pendidikan,” pungkas Ansy.

Sebagai catatan, hingga saat ini Provinsi NTT belum pernah memiliki tokoh perempuan dalam struktur pemerintahan tertinggi, baik sebagai gubernur maupun wakil gubernur.

Menyongsong Pemilihan Gubernur (Pilgub) NTT 2024, sejumlah sosok perempuan dikaitkan dengan Ansy Lema sebagai calon wakil gubernur. 

Beberapa nama telah dimunculkan media, seperti mantan Ketua Sinode Gereja Masehi Injili Timor (GMIT) Pendeta Dr. Merry Kolimon, anggota DPR RI Anita Jacoba Gah, Ketua DPRD NTT Emilia Nomleni, anggota DPRD Provinsi NTT Reny Marlina Un hingga Politisi PSI Jane Natalia Suryanto.

Redaksi Gerak News

BPIP Perbolehkan Paskibraka Berjilbab, PBNU Apresiasi Jokowi

Gerak News, Jakarta- BPIP akhirnya memperbolehkan anggota Paskibraka wanita untuk mengenakan jilbab setelah mengikuti arahan Kepala Sekretariat Presiden (Kaseptres) Heru Budi Hartono selaku penanggung jawab pelaksanaan upacara HUT ke-79 RI. 

PBNU menyampaikan terima kasih atas atensi Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengenai polemik Paskibraka tersebut.

Kita berterima kasih kepada Bapak Presiden RI yang telah memberikan arahan bijaksana sehingga polemik jilbab bagi paskibraka dapat diselesaikan dengan baik, dan kita akan melihat penampilan mereka yang anggun dan elegan dengan menggunakan jilbab, ini sangat membanggakan kita,” kata Ketua PBNU Ahmad Fahrur Rozi atau Gus Fahrur, Kamis (15/8/2024).

Gus Fahrur juga mengapresiasi Ketua BPIP Yudian Wahyudi yang telah meminta maaf kepada masyarakat buntut polemik Paskibraka melepas jilbab. Gus Fahrur mengatakan jilbab merupakan bagian dari ajaran agama yang sesuai dengan Pancasila.

“Penggunaan jilbab dalam Paskibraka tidak mengurangi estetika dan keindahan barisan, justru akan semakin terlihat lebih rapi dan indah,” ujar Gus Fahrur.

Sebelumnya diberitakan, Kepala BPIP Yudian Wahyudi kini membolehkan anggota Paskibraka wanita untuk mengenakan jilbab. Yudian juga memohon maaf atas polemik yang terjadi.

“Paskibraka Putri yang mengenakan jilbab dapat bertugas tanpa melepaskan jilbabnya dalam pengibaran Sang Saka Merah Putih pada Peringatan HUT RI ke-79 di Ibukota Nusantara,” kata Yudian dalam keterangannya, Kamis (15/8).

Yudian mengatakan kebijakan ini diambil dengan mengikuti arahan Kasetpres, Heru Budi Hartono, selaku Penanggungjawab Pelaksanaan Upacara HUT RI ke-79. Yudian juga meminta maaf kepada masyarakat Indonesia atas kontroversi pelepasan jilbab bagi anggota Paskibraka wanita.

“BPIP menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya atas peran media dalam memberitakan kiprah Paskibraka selama ini,” katanya.

“BPIP juga menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Indonesia atas pemberitaan yang berkembang terkait dengan berita Pelepasan Jilbab bagi Paskibraka Putri Tingkat Pusat Tahun 2024 yang menghiasi pemberitaan,” tambahnya.

Redaksi Gerak News

Bamusi Desak Jokowi Jelaskan Perihal PP Tentang Kontrasepsi

Gerak News, Jakarta- Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia (PP Bamusi) organisasi sayap Islam dari PDI Perjuangan, meminta Presiden Joko Widodo atau Jokowi menjelaskan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024 Tentang Kontrasepsi Bagi Siswa dan Remaja, sebagai turunan dari Undang-Undang (UU) Nomor 17 tahun 2023 Tetang Kesehatan.

“Jangan kalau diminta menjelaskan malah bilang kaget atau ya saya ndak tahu. Padahal Presiden yang tanda tangan,” sentil Sekretaris Jenderal (Sekjen) PP Bamusi, Irvansyah Asmat, di Jakarta, Kamis (15/8/2024).

Terutama, sambung Irvan, terkait dengan Pasal 103 mengenai upaya kesehatan sistem reproduksi usia sekolah dan remaja, dimana pada ayat 4 butir e disebutkan mengenai penyediaan alat kontrasepsi.

“Para guru sendiri sudah menolak hal ini. Masak negara atau dalam hal ini sekolah membagi-bagikan alat kontrasepsi,” kata dia.

Alasan yang disampaikan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bahwa ini hanya untuk menjelaskan bagi remaja yang sudah menikah, menurut Irvan terlihat kamuflase setelah menuai kontroversi.

“Jokowi harus memahami bahwa negara Indonesia bukan hanya berdiri di atas penduduk yang beragama, melainkan saripati dari semua nilai-nilai agama,” tegas Irvan, yang juga Calon Wakil Bupati Kabupaten Tangerang.

Irvan pun menyebut bahwa PP yang diteken Jokowi hanya melihat dari sisi kesehatan, sementara melupakan aspek-aspek keagamaan, dan tentu saja menabrak amanat pendidikan nasional yang berasaskan budi pekerti luhur dan menjunjung tinggi norma agama.

Dari sisi keagamaan Islam, lanjut Irvan, ada kaidah atau konsep “dar’ul mafasid muqaddam ala jalbi al-mashalih,” bahwa menjauhi atau menghindari dampak negatif yang merusak, harus diprioritaskan daripada hal-hal yang dianggap mendatangkan kemudaratan atau kerusakan.

“Dan memberi peluang kepada potensi yang mebawa kepada kerusakan hukumnya haram berdasar prinsip ‘Syad al-Darai’. Sayangnya, PP Nomor 2i Tahun 2024 itu bukan mengajarkan resiko perilaku seks bebas, tapi malah seperti memfasilitasi,” ujarnya.

Karena itu, ia mempertanyakan nalar keagamaan dan Ke-Indonesiaan pemerintahan Presiden Jokowi dan Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin tersebut.

“Jangan sampai penjagaan mental dan karakter anak-anak selama bertahun-tahun oleh guru dan orang tua malah dirusak oleh oleh PP Jokowi,” demikian Irvan. 

Redaksi Gerak News

Paramitha Bertekad Tambah Jumlah Truk Sampah Di Brebes

Gerak News, Brebes- Calon Bupati Brebes, Paramitha Widya Kusuma bertekad menambah jumlah truk sampah dan kotak-kotak pembuangan sampah di Brebes, bila kelak diberi amanat oleh warga untuk memimpin Brebes.

Hal itu dinyatakan Paramitha ketika bersama jajaran pengurus dari DPC sampai Ranting PDI Perjuangan Kabupaten Brebes melaksanakan kegiatan bersih-bersih di beberapa titik, baru-baru ini.

“Brebes wilayahnya paling luas di Jawa Tengah, tetapi mobil sampahnya cuma 20,” ungkap Paramitha.

Kabupaten Tegal saja yang wilayahnya jauh lebih kecil punya setidaknya 25 truk sampah,” sambung kader PDI Perjuangan itu.

Jadi, lanjut Paramitha, tidak heran kalau banyak tumpukan sampah liar di Brebes.

Hal itu disebabkan masyarakat juga bingung untuk membawa sampah tersebut.

Paramitha menyatakan, kebersihan bersangkutan dengan banyak hal.

“Pertama, kebersihan berkontribusi pada kesehatan. Kedua, kebersihan bisa mencerminkan nilai-nilai budaya. Ketiga, kebersihan bisa mencerminkan keimanan,” ungkapnya.

Redaksi Gerak News

SETARA Institute Tolak Pelarangan Jilbab Bagi Paskibraka

Gerak News, Jakarta- SETARA Institute mengkritik Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang berdalih keseragaman terkait tidak ada anggota Paskibraka putri yang menggunakan jilbab. SETARA menilai BPIP harusnya menjadi teladan terhadap penghormatan keberagaman.

“SETARA Institute menolak kebijakan yang menyeragamkan pelepasan jilbab bagi Paskibraka dan Paskibra di berbagai daerah dalam rangka upacara peringatan proklamasi kemerdekaan atau upacara-upacara lainnya,” kata Direktur Eksekutif SETARA Institute, Halili Hasan, dalam keterangannya, Kamis (15/8/2024).

Halili menyebut Indonesia negara yang memiliki banyak keragaman. Menurutnya, BPIP harus menjadi teladan terhadap penghormatan terhadap keberagaman budaya dan agama di Indonesia.

SETARA Institute memandang bahwa BPIP seharusnya menjadi teladan bagi penghargaan dan penghormatan atas keberagaman keyakinan di tengah-tengah masyarakat dan bangsa Indonesia dengan mengakomodasi keyakinan anggota Paskibraka, termasuk yang berkenaan dengan penggunaan jilbab bagi anggota Paskibraka putri. Sebagai lembaga yang berwenang melakukan pembinaan ideologi negara, BPIP tidak boleh mencontohkan politik penyeragaman,” tutur dia.

SETARA meminta agar BPIP mengakomodasi Paskibraka putri yang hendak mengenakan jilbab pada saat upacara peringatan HUT ke-79 RI di IKN Nusantara nanti.

“Mereka harus mengakomodasi hak dasar dan aspirasi anggota Paskibraka putri untuk menggunakan jilbab yang sama sekali tidak menghambat tugas mereka sebagai pengibar bendera dalam Upacara Bendera 17 Agustus mendatang. Apalagi kalau kita cek regulasi sebelumnya, Paskibraka saat masih berada di bawah kewenangan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), anggota Paskibraka putri diperbolehkan berjilbab,” tutur dia.

Halili menyebut pihaknya juga menolak segala bentuk politik penyeragaman. Termasuk, kata dia, pemaksaan penggunaan jilbab di lembaga pendidikan.

“Pada saat yang sama, SETARA Institute juga menolak segala bentuk politik penyeragaman, termasuk pemaksaan penggunaan jilbab dalam berbagai konteks seperti di lembaga-lembaga pendidikan, khususnya sekolah-sekolah negeri, sebab hal itu merupakan bentuk politik penyeragaman yang bertentangan dengan kebinekaan Indonesia,” kata dia.

Redaksi Gerak News

Guru Besar IPB Ingatkan Pemerintahan Bisa Jatuh Kalau Tak Serius Urus Pangan

Gerak News, Jakarta – Guru Besar Universitas Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dwi Andreas Santosa mengingatkan suatu pemerintahan bisa jatuh apabila tidak baik dalam mengelola pangan.

Hal ini disampaikan Dwi dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk ‘Kedaulatan Pangan di Indonesia (Beras, Kedelai dan Jagung)’ di Kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta, Kamis (15/8/2024). FGD ini merupakan dalam rangka Rapat Koordinasi Bidang Nasional (Rakorbidnas) Pangan dan Pertanian PDIP.

Dwi mengamini pendapat proklamator kemerdekaan Republik Indonesia, Soekarno alias Bung Karno yang menyebut pangan adalah persoalan hidup matinya negeri.

“Ini yang disampaikan beliau dan ini sangat betul. Ketika kita melupakan pangan, selesailah sudah,” kata Dwi dalam pernyataannya.

Dia mencontohkan ketika tahun 2011 terjadi krisis pangan dunia. Saat itu, negara-negara terutama Afrika Utara dan Timur Tengah sangat tergantung pada impor, yakni Gandum.

“Dan saat itu terjadi kenaikan harga gandum hampir dua kali, di tahun 2011, runtuhlah semua negara-negara tersebut,” ujar Dwi.

Menurut Dwi, akibat kejadian tersebut sebanyak 2 juta orang akhirnya mengungsi, terbesar secara sejarah perang dunia kedua.

Selain itu, kata dia, bencana pangan terjadi di Negara Afrika Bagian Utara, yakni Sudan pada tahun 2018.

Dwi menyebut bahwa ketika itu harga gandum naik relatif tinggi, pemerintah Sudan menaikkan harga roti 3 kali lipat. Hasil akhirnya, pemerintahan jatuh pada April 2019.

Lalu, dia juga mengungkit kasus Presiden Sri Lanka melarikan diri pada tahun 2022 akibat protes dari warga negara dipicu penurunan produksi pangan.

“Lalu apa yang terjadi? Kita menyaksikan di berita-berita. Rakyat masuk ke istana dan berenang di kolam renang istana. Dan Presiden Sri Lanka melarikan diri. Itu juga persoalan pangan,” jelas Dwi.

Sementara di Indonesia, Dwi menjelaskan, juga sudah pernah mengalami ketika Pemerintahan Soeharto. Menurutnya, dari data internasional pada tahun 1998, Presiden Soeharto mengimpor beras sebanyak 6,4 juta ton. Pemerintahan Soeharto akhirnya tetap jatuh, meksipun mendapatkan dukungan kuat dari parlemen.

“Bisa dibayangkan pemerintah yang begitu kuat, menguasai parlemen, 74 persen, jatuh hanya dalam tempo satu tahun. Sekali lagi, karena apa? Karena pangan. Kalau kita tidak hati-hati terkait soal pangan ini, jangan-jangan pemerintah kita nanti ke depan jatuh lagi,” tegas Dwi.

(Yayan Sopiani)

Cak Imin Waspadai Upaya Membuat Muktamar PKB Tandingan

Gerak News, Jakarta- Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) mewaspadai upaya para pihak yang ingin membuat Muktamar PKB tandingan.

Hal tersebut disampaikan Cak Imin saat ditanya terkait Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf menemui Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan Jakarta membahas konflik PKB-PBNU.

Cak Imin menegaskan muktamar PKB yang akan datang hanya akan digelar di Bali pada 24-25 Agustus mendatang.

Ia meminta pihak kepolisian tak mentolerir dan langsung membubarkan jika ada forum yang mengklaim menjadi muktamar PKB tandingan.

“Kalau ada orang yang atas namakan Muktamar PKB, liar. Saya minta Kapolri tegas untuk membubarkan demi berlangsungnya UU Parpol,” kata Cak Imin di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Kamis (15/8).

Cak Imin menegaskan forum muktamar PKB tandingan adalah suatu hal yang melanggar hukum. Ia merujuk pada Undang-undang Parpol yang melindungi kedaulatan partai politik.

“Kalau ada yang atas namakan PKB, jangan salahkan kalau kami bubarkan,” ujarnya.

Sebelumnya, Yahya mengakui pertemuan dengan Jokowi itu turut membahas konflik PKB-PBNU. Namun, kata dia, pembahasan itu karena Jokowi bertanya di sela-sela pembahasan tentang kerjasama PBNU dengan Pemerintah.

“Ya tadi disinggung sedikit beliau bertanya lah ya, ini ada apa, dan kami jelaskan. Kami jelaskan semuanya dan beliau bisa memahami, menerima dengan baik,” kata Yahya saat ditemui di Istana Kepresidenan.

Yahya menghadap Jokowi didampingi Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar dan Wakil Rais Aam PBNU Anwar Iskandar.

Kedatangan tiga kiai NU itu ke istana di tengah-tengah konflik PKB dengan PBNU. Dua pihak itu adu mulut dan saling melaporkan di ranah hukum.

Di sisi lain PKB akan menggelar Muktamar pada 24-25 Agustus di Bali. Salah satu agenda Muktamar adalah memilih ketua umum periode selanjutnya.

Redaksi Gerak News

Guru Besar IPB: Program Makan Siang Gratis Akan Lonjakkan Impor Beras

Gerak News, Jakarta- Program makan siang gratis yang dijanjikan Presiden terpilih Prabowo Subianto diprediksi akan melonjakkan impor pangan. Sementara saat ini ada kecenderungan produktivitas pertanian padi di Indonesia menurun.

Artinya, ada selisih yang kemungkinan besar ditutupi dengan impor yang makin meningkat. Guru Besar IPB Prof.Dwi Andreas Santosa meminta agar Pemerintah berpikir soal hal ini, mempersiapkan mitigasi dampaknya dengan serius.

Guru Besar IPB Prof.Dwi Andreas Santosa menyampaikannya dalam Focus Group Discussion (FGD), yang dilaksanakan rangka Rapat Koordinasi Bidang Nasional (Rakorbidnas) Pangan dan Pertanian PDI Perjuangan (PDIP). Acara dilakukan di Kantor DPP PDIP, di Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta, Kamis (15/8/2024). Seminar itu bertema “Kedaulatan Pangan di Indonesia (Beras, Kedelai dan Jagung)”.

“Rencana makan siang gratis akan melonjakkan impor pangan. Kita harus hati-hati akan hal ini. Apalagi produktivitas padi kita cenderung menurun,” kata Prof.Andreas.

Pada bagian lain, Prof.Andreas menyoroti ketergantungan pada impor pangan dan perubahan iklim yang mempengaruhi produksi pangan. Baginya, apa yang disampaikan para Founding Father soal pentingnya sektor pertanian dan pangan, harus dihidupkan lagi.

“Ketika Presiden Bung Karno meresmikan Kampus Fakultas Pertanian UI 1952, beliau menyatakan dalam naskahnya, pangan adalah soal hidup atau mati. Ini sangat betul. Ketika kita melupakan pangan, selesai sudah,” katanya.

Dia menilai saat ini, sangat bisa mendebat jika Pemerintah Indonesia mengklaim bisa mengalahkan produktivitas pangan negara tetangga. Dan orang bisa mendebat jika Indonesia menyebut diri sebagai lumbung pangan dunia.

Sebab faktanya, dia mengatakan, saat ini hanya dalam 10 tahun dari 2013 sampai 2023, nilai impor Indonesia di sektor pangan melonjak hampir dua kali lipat.

“Terlepas setuju atau tidak, progam makan siang gratis ini akan dilakukan. Tapi harus disiapkan bagaimana mitigasi risiko program ini sehingga sehingga tidak menjadi bencana,” lanjut Prof.Andreas.

Dia mengingatkan sekiranya susu menjadi salah satu item program makan siang gratis, maka akan dipastikan hal ini meningkatkan impor susu. Karena kondisi di Tanah Air tidak cukup sapi perah dan pemeliharaan sapi perahnya.

“Sehingga impor susupun bisa melonjak lima kali lipat,” lanjutnya.

Dengan begitu, ia menilai Pemerintahan Prabowo-Gibran harus mengemas sebuah program diversifikasi pangan. Kalau tidak, bisa-bisa impor beras misalnya akan melonjak tinggi.

Andreas menjadi pembicara di seminar itu dengan Ketua DPP PDIP Bidang Pangan dan Pertanian Mindo Sianipar menjadi moderator. Narasumber lainnya adalah Dr. Peter Tangka, Moh Agus Zamroni, Prof Hendrawan Supratikno dan Antonius Supit.

Sementara itu, Mindo Sianipar mengatakan PDIP selalu berkomitmen agar Indonesia berdaulat di bidang pangan dan memperkuat produktivitas padi. Diapun mengamini Prof.Andreas yang mengatakan pentingnya diversifikasi pangan.

Ibu Megawati, Ketua Umum PDIP selalu menggalakkan 10 makanan pendamping beras bagi kepala daerah yang diusung PDIP,” sebut Mindo.

Oleh karena itu, Mindo mengatakan PDIP akan mendukung upaya kedaulatan pangan dengan melaksanakan training center untuk pertanian terpadu.

(Yayan Sopiani)