Gerak News, Jakarta-Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bidang pemberdayaan perekonomian Eman Suryaman mengingatkan umat muslim Indonesia agar menjalankan gerakan boikot yang tepat sasaran.
Ia mengimbau agar jangan sampai gerakan boikot justru menyasar perusahaan publik lokal, yang mayoritas sahamnya dimiliki individu atau perusahaan Indonesia.
“Di media sosial belakangan ini, sejumlah pihak aktif mengkampanyekan boikot produk keluaran perusahaan go public hanya lantaran sebagian kecil sahamnya dimiliki oleh investor asing tertentu. Yang seperti ini tidak tepat,” kata Eman dalam keterangan tertulis, Selasa (3/12/2024).
Hal ini disampaikannya dalam sebuah diskusi publik bertema “Bulan Palestina & Sosialisasi Fatwa MUI” di Cirebon, Jawa Barat pada Sabtu (30/11).
Eman mengungkapkan masyarakat perlu memprioritaskan produk keluaran perusahaan publik yang dimiliki oleh warga Indonesia dibandingkan produk-produk asing yang pro Israel. Dengan begitu, ekonomi nasional bisa terus berkembang dan tak ada uang yang lari keluar.
“Ijtima Ulama MUI terkait prioritas penggunaan produk dalam negeri juga sudah jelas mengatur kriteria perusahaan nasional yang produknya perlu diprioritaskan, yakni perusahaan yang menggunakan bahan baku dalam negeri, saham perusahaan tidak dimiliki asing secara mayoritas dan menggunakan tenaga kerja nasional di level manajerial puncak,” lanjut Eman.
Lebih lanjut, Eman menjelaskan perusahaan publik mempunyai banyak manfaat, baik bagi perekonomian nasional maupun masyarakat secara umum. Perusahaan yang go public memiliki akses lebih besar ke modal dari investor.
Ia menambahkan, dana tersebut dapat digunakan untuk ekspansi, menciptakan lapangan kerja baru, dan meningkatkan produksi, yang pada akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Pada kesempatan tersebut, Eman juga mengajak umat muslim agar tetap kompak dalam memboikot produk perusahaan multinasional asing yang pro Israel. Pasalnya, hal ini menjadi bentuk dukungan atas Palestina dan sekaligus protes atas kebijakan luar negeri negara-negara Barat yang mendukung Israel.
“Boikot produk pro Israel yang marak di berbagai negara dalam setahun lebih terakhir, termasuk Indonesia, perlu diteruskan agar memberi efek jera pada Israel dan negara-negara pendukungnya,” jelasnya.
Redaksi Gerak News



