Jumat, Juli 17, 2026
spot_img
BerandaDaerahDaerah Khusus JakartaJakarta Ambil Langkah drastis, Tiru Paris & Bangkok Lawan Polusi

Jakarta Ambil Langkah drastis, Tiru Paris & Bangkok Lawan Polusi

Energi Juang News, Jakarta– Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta berencana meniru strategi Paris dan Bangkok dalam mengatasi polusi udara. Salah satu langkah utamanya adalah memperbanyak stasiun pemantau kualitas udara (SPKU) di berbagai titik strategis.

“Jika melihat kota lain, Bangkok telah memiliki 1.000 SPKU, sementara Paris memiliki 400 unit. Saat ini, Jakarta telah meningkatkan jumlah SPKU menjadi 111, dari yang sebelumnya hanya 5 unit. Ke depannya, jumlah ini akan terus ditambah agar kami dapat melakukan intervensi lebih cepat dan akurat,” ujar Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (19/3/2025).

Asep menyebutkan keterbukaan data menjadi langkah penting dalam memperbaiki kualitas udara secara sistematis. Dia mengatakan penyampaian data polusi udara harus lebih terbuka agar intervensi bisa lebih efektif.

Asep juga menilai bahwa yang dibutuhkan bukan hanya intervensi sesaat, melainkan langkah-langkah berkelanjutan dan luar biasa dalam menangani pencemaran udara. DLH DKI Jakarta menargetkan penambahan 1.000 SPKU berbiaya rendah agar pemantauan lebih luas dan akurat.

Dengan upaya ini, dia yakin sumber pencemaran dapat terdeteksi lebih jelas, termasuk bagaimana polutan dari luar Jakarta masuk ke wilayah Ibukota.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Subbidang Informasi Pencemaran Udara BMKG, Taryono Hadi menyatakan fenomena El Nino tidak terjadi secara global tahun ini. Akibatnya, musim kemarau di Indonesia yang biasanya dimulai pada awal April diperkirakan akan mundur hingga akhir bulan.

Sementara itu, puncak musim kemarau yang seharusnya terjadi lebih awal kini diprediksi mencapai intensitas tertinggi pada September.

“Kami melihat adanya pergeseran pola musim kemarau tahun ini. Jika biasanya berlangsung lebih cepat, kini musim kemarau diperkirakan mulai lebih lambat dan puncaknya bergeser ke bulan September,” ujar Taryono.

Baca juga :  Transjakarta Buka Pendaftaran Kartu Layanan Gratis di HUT Jakarta ke-498

Taryono juga menyoroti curah hujan memiliki peran penting dalam mengurangi polusi udara. Pada bulan-bulan kering seperti Juni hingga Agustus, kualitas udara di Jakarta cenderung memburuk karena meningkatnya polutan di atmosfer.

“Saat curah hujan rendah, partikel polusi sulit terurai, sehingga konsentrasi polutan seperti PM 2,5 meningkat tajam,” jelasnya.

Redaksi Energi Juang News

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments