Berita Energi Juang, Jakarta- Di balik ketenangan pedesaan Jawa, tersimpan kisah mencekam yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Kisah menyeramkan itu termanifestasi dalam nama Lelepah, yang hingga kini menjadi momok menakutkan bagi warga sekitar. Lelepah, adalah makhluk menyeramkan yang dipercaya sebagai pemakan daging mentah, khususnya daging manusia.
Cerita bermula dari seorang pria yang tersesat di sebuah kampung tua saat malam hari. Dalam kabut dan mencekam yang pekat, ia melihat sosok mengerikan: makhluk tinggi kurus dengan lidah menjulur panjang, rambut kusut menjuntai, dan mata cekung yang seolah-olah menatap ke dalam jiwa. Tak lama setelahnya, warga menemukan pria itu meninggal dalam kondisi yang tidak wajar—tanpa luka, tapi wajahnya penuh ketakutan. Warga pun percaya, ia adalah korban dari Lelepah .
Lelepah digambarkan sebagai makhluk kurus tinggi, berpenampilan mengerikan, dan memiliki selera terhadap daging mentah, baik itu ikan maupun manusia. Masyarakat menyebutnya dengan istilah, “Lelepah pakanane iwak mentah,” yang berarti Lelepah doyan daging mentah.
Konon, aroma daging mentah bisa memancing kedatangannya. Karena itu, masyarakat dilarang keras menyimpan atau mengonsumsi daging mentah sembarangan, terutama di malam hari. Bahkan dapur rumah dipercaya menjadi tempat favorit Lelepah untuk mengintai mangsa.
Dalam tradisi Jawa, ketika ada perayaan besar atau hajatan, keluarga yang punya gawe akan menyiapkan sesaji klacen . Salah satu isi penting dari sesaji itu adalah irisan daging mentah. Konon, bila daging itu hilang dari nampan sesaji, itu pertanda bahwa Lelepah telah mengambilnya—dan rumah tersebut akan aman dari gangguan makhluk ini. Namun, jika daging masih utuh hingga pagi, banyak yang percaya bahwa Lelepah masih mengintai dan bisa saja datang malam berikutnya.
Meski dianggap legenda, kisah Lelepah masih menyisakan ketakutan nyata. Cerita-cerita tentang suara aneh di dapur, aroma amis yang muncul tiba-tiba, hingga mimpi buruk berulang menjadi bukti bahwa sosok ini masih menjadi bagian dari kehidupan spiritual masyarakat desa. Tak hanya sebagai cerita, tetapi juga sebagai bentuk peringatan agar manusia tetap menjaga keharmonisan dengan dunia.
Redaksi Energi Juang News



