Energi Juang News, Jakarta– Langit Malta mendadak riuh pada Jumat pagi ketika pesawat militer Israel melintasi wilayah udara negara tersebut. Kejadian ini terjadi hanya beberapa jam sebelum kapal bantuan kemanusiaan untuk Gaza diserang oleh drone di perairan internasional dekat Malta.
Menurut laporan dari Freedom Flotilla Coalition, kapal yang membawa bantuan kemanusiaan tersebut menjadi sasaran serangan drone pada pukul 00.23 waktu Malta.
“Bagian depan kapal menjadi target sebanyak dua kali, yang menyebabkan kebakaran di lambung kapal,” ujar koalisi tersebut.
Kapal tersebut, yang membawa 12 awak dan 4 penumpang sipil, mengalami kerusakan parah akibat serangan tersebut. Meskipun tidak ada korban jiwa, kebakaran yang terjadi menyebabkan kerusakan signifikan pada kapal.
Kami merasa seperti saat ini kami aman, tetapi kami tidak tahu apa yang akan dilakukan Israel,” kata Mecid Bagcivan, seorang aktivis dari Turki yang berada di kapal tersebut.
Pemerintah Malta mengirimkan kapal tunda dengan peralatan pemadam kebakaran untuk memberikan bantuan kepada kapal tersebut setelah menerima sinyal darurat SOS. Selain itu, sebuah kapal patroli Angkatan Bersenjata Malta juga dikirim ke lokasi kejadian.
“Pada sekitar pukul 02.13 waktu setempat, dipastikan bahwa semua orang di atas kapal dalam keadaan selamat, namun semuanya menolak untuk meninggalkan kapal,” ujar pernyataan pemerintah Malta.
Serangan ini menambah ketegangan di wilayah tersebut, terutama mengingat situasi kemanusiaan yang semakin memburuk di Gaza. Israel telah memblokade Gaza sejak Maret, memotong semua impor termasuk makanan dan obat-obatan, yang menyebabkan krisis kemanusiaan terburuk dalam konflik dengan Hamas.
Organisasi-organisasi kemanusiaan, termasuk Palang Merah Internasional, memperingatkan bahwa program-program bantuan mereka di Gaza berada di ambang kehancuran tanpa pengiriman bantuan segera. “Bantuan harus diizinkan masuk ke Gaza. Sandera harus dibebaskan. Warga sipil harus dilindungi,” kata komite tersebut.
Serangan terhadap kapal bantuan ini mengingatkan pada insiden serupa pada tahun 2010, ketika pasukan Israel menyerbu kapal Mavi Marmara yang membawa bantuan ke Gaza, menewaskan sembilan orang di dalamnya.
Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi mengenai pihak yang bertanggung jawab atas serangan drone tersebut. Namun, Freedom Flotilla Coalition menuduh Israel sebagai pelaku serangan, meskipun tidak memberikan bukti konkret.
Situasi ini menyoroti perlunya perhatian internasional terhadap krisis kemanusiaan di Gaza dan pentingnya memastikan keselamatan kapal-kapal bantuan yang berusaha mengirimkan bantuan ke wilayah tersebut.
Redaksi Energi Juang News



