Energi Juang News, Jakarta- Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa masuknya singkong impor ke Indonesia dalam volume besar disebabkan oleh tingginya permintaan industri lokal yang belum mampu dipenuhi oleh produksi dalam negeri.
“Kebutuhan industri kita akan singkong sangat tinggi, terutama untuk pakan ternak, tepung, dan bioetanol. Sayangnya, produktivitas petani kita masih terbatas,” jelas Amran dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (4/6).
Amran menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam menghadapi situasi ini. “Kami sudah menggalakkan program peremajaan kebun singkong, pelatihan petani, dan penyediaan bibit unggul.
Namun, butuh waktu untuk meningkatkan produksi secara signifikan,” ujarnya. Ia juga menyoroti tantangan iklim dan serangan hama yang kerap menekan hasil panen lokal.
Menurut data Kementan, impor singkong pada 2024 telah mencapai 500 ribu ton, terutama berasal dari Thailand dan Vietnam. “Ini bukan berarti kita tidak bisa swasembada, tapi industri membutuhkan pasokan yang stabil dan besar. Kalau dalam negeri belum bisa penuhi, ya terpaksa impor dulu,” papar Amran.
Di sisi lain, Ketua Asosiasi Petani Singkong Indonesia (APSI) Ahmad Yani mengkritik kebijakan impor yang dinilai mengancam harga jual petani.
“Harga singkong lokal anjlok karena pasar dibanjiri impor. Pemerintah harus tegas batasi volume impor dan beri insentif lebih besar ke petani,” tegas Yani.
Mentan merespons kritik tersebut dengan menyatakan bahwa pihaknya sedang menyusun regulasi khusus untuk menyeimbangkan kepentingan industri dan petani.
“Kami akan evaluasi kuota impor sekaligus mempercepat program peningkatan produksi. Targetnya, dalam 2-3 tahun ke depan, ketergantungan impor bisa dikurangi,” tandas Amran.
Sementara itu, pengusaha industri pakan ternak, Budi Santoso, mengaku bahwa singkong impor lebih efisien secara biaya. “Kualitasnya konsisten, harganya kompetitif, dan pasokan lancar. Kalau dalam negeri bisa penuhi syarat itu, kami pasti prioritaskan produk lokal,” ungkap Budi.
Amran menekankan bahwa solusi jangka panjang terletak pada modernisasi pertanian singkong. “Kami dorong mekanisasi, pemupukan berimbang, dan pengembangan varietas tahan hama. Ini semua butuh dukungan semua pihak, termasuk swasta dan akademisi,” pungkasnya.
Dengan langkah-langkah tersebut, Kementan optimistis Indonesia bisa mengurangi impor singkong secara bertahap sambil menjaga stabilitas harga dan kesejahteraan petani.
Redaksi Energi Juang News



