Minggu, April 19, 2026
spot_img
BerandaEkonomi & BisnisUsai Crossing, Harga Saham BUMI Merosot

Usai Crossing, Harga Saham BUMI Merosot

Energi Juang News, Jakarta- Harga saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) tercatat terkoreksi lebih dari 15 % dalam sepekan terakhir.

Penurunan terjadi usai transaksi crossing BUMI di pasar negosiasi, yang tak diketahui alasannya oleh khalayak.

Jika dianalisa lebih dalam, terdapat hal positif dibalik transaksi tersebut, meskipun membuat efek penurunan saham BUMI sementara waktu.

Diketahui, transaksi crossing berskala besar BUMI terjadi di pasar negosiasi pada 19 Januari 2026. Transaksi tersebut mencapai nilai sekitar Rp6,9 triliun yang berasal dari 182 juta lot saham pada harga Rp380 per saham. Pihak penjual dan pembeli sama-sama tercatat menggunakan broker Ina Sekuritas (kode: RB), yang dikenal sebagai broker yang menangani saham-saham Grup Salim. Dengan demikian transaksi tersebut dinilai lebih merupakan perpindahan kepemilikan internal.

Ina Sekuritas sendiri tercatat sebagai anggota bursa yang dikendalikan Grup Salim melalui PT Gema Insani Karya dengan kepemilikan sekitar 78,12 %. Pihak yang diketahui sebagai penjual dalam transaksi tersebut ialah Treasure Global Investments Limited (TGIL). Pasca-transaksi, kepemilikan TGIL terhadap BUMI turun signifikan dari 8,08 % menjadi 3,18 % hak suara.

Dinamika Crossing Saham BUMI dan Peran Treasure Global Investments Limited (TGIL)

Treasure Global Investments Limited (TGIL) merupakan entitas investasi berbasis di Hong Kong yang dikendalikan oleh sejumlah pihak dengan koneksi bisnis kuat di Indonesia. Struktur kepemilikannya terdiri atas:

Rinciannya dapat dijabarkan lebih lanjut sebagai berikut:

o Anthoni Salim: 42,5 %

o Grup Bakrie: 42,5 %

o Agoes Projosasmito: 15 %

o Seluruhnya dimiliki Agoes Projosasmito

TGIL menjadi salah satu investor utama dalam aksi penambahan modal tanpa HMETD (private placement) BUMI pada 2022, bersama Mach Energy (Hong Kong) Ltd. Aksi tersebut menghimpun dana sekitar US$1,6 miliar dan meningkatkan jumlah saham beredar menjadi 343,8 miliar saham. Saat ini Mach Energy (Hong Kong) Ltd masih menggenggam sekitar 45,78 % saham BUMI.

Baca juga :  Shopee Tegaskan Relokasi Tim Bukan PHK, Ini Penjelasannya

Strategi Free Float, Peluang Masuk MSCI, dan Transformasi Bisnis BUMI

Salah satu faktor yang dinilai mendorong terjadinya perpindahan kepemilikan internal saham BUMI adalah upaya perseroan agar dapat masuk ke dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI), tidak hanya untuk periode Februari 2026 tetapi juga periode Mei 2026.

MSCI diketahui tengah mengkaji perubahan metodologi penilaian free float yang akan berlaku pada peninjauan indeks Mei 2026. Aturan baru tersebut menetapkan bahwa kepemilikan oleh badan usaha (PT) tidak secara otomatis dikategorikan sebagai free float. Sebaliknya, kepemilikan perseorangan dinilai lebih memenuhi syarat free float.

Perpindahan saham BUMI dari TGIL ke akun perseorangan atau non-PT dinilai sebagai langkah untuk memperbesar free float BUMI sesuai persyaratan MSCI. Momentum Mei 2026 dianggap penting karena berdampak pada potensi aliran dana (inflow) lebih besar dibandingkan periode peninjauan Februari 2026.

Sejumlah pihak memperkirakan rebalancing indeks MSCI tersebut dapat memicu kenaikan harga saham BUMI. Sementara beberapa analis dan pengamat pasar memberikan target harga agresif hingga Rp1.000, proyeksi konservatif memperkirakan kisaran Rp600-Rp800 pada 2026.

Baca juga : Pagi Ini, Saham SUPA Anjlok Lagi

BUMI juga tengah mengupayakan diversifikasi bisnis dengan target kontribusi EBITDA non-batubara mencapai sekitar 50 % pada 2030. Tren kontribusi pendapatan non-batubara menunjukkan peningkatan:

Kendati masih jauh dari target, proyeksi pertumbuhan tersebut dinilai membuka ruang ekspansi melalui akuisisi sektor non-batubara. Untuk mendukung strategi tersebut, BUMI menerbitkan Program Obligasi Berkelanjutan I dengan plafon hingga Rp5 triliun.

Dengan demikian, BUMI masih memiliki ruang pendanaan sekitar Rp3,15 triliun untuk keperluan akuisisi dan ekspansi non-batubara sepanjang periode mendatang.

Berbagai dinamika kepemilikan, strategi free float, serta diversifikasi usaha menunjukkan bahwa BUMI tengah memasuki fase transformasi struktural. Tekanan harga jangka pendek diyakini tidak berdiri sendiri, melainkan terkait strategi korporasi yang lebih luas dalam konteks indeks global dan ekspansi bisnis.

Baca juga :  Hari Ini, Harga Emas Antam Tak Naik Maupun Turun

Redaksi Energi Juang News

Hizkia Darmayana
Hizkia Darmayanahttps://energijuangnews.com/
Hidup Hanya Sekali, Maka Buatlah Berarti. Pimpinan Redaksi dari EnergiJuangNews.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments