Oleh Hizkia Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)
Bencana banjir dan longsor di Sumatera yang menelan korban ratusan jiwa, membuat pernyataan lama Presiden Prabowo Subianto soal kelapa sawit dan pohon mencuat lagi ke permukaan.
Ya, pada Desember 2024 lalu, Presiden Prabowo Subianto mengeluarkan pernyataan soal kebun kelapa sawit dan pohon. Kala itu, Presiden Prabowo menyebut Indonesia perlu memperluas lahan perkebunan kelapa sawit tanpa perlu khawatir dengan deforestasi.
Dia menyatakan, bahwa “kelapa sawit juga pohon”.
Mungkin Presiden perlu banyak membaca data soal sawit.
Pada 2024, berdasarkan analisis Auriga Nusantara, luas deforestasi atau proses penggundulan atau penghancuran hutan secara permanen di areal perkebunan sawit tercatat sebesar sekitar 37.483 hektare.
Angka itu brmakna sekitar 14 persen dari keseluruhan luas deforestasi Indonesia terjadi di perkebunan sawit.
Maka tak heran ketika Greenpeace Indonesia menyatakan aktivitas ekonomi ekstraktif seperti perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri (HTI) menjadi penyebab utama turunnya kemampuan ekosistem menahan laju air hujan. Sehingga, bencana di Sumatera yang membunuh ratusan jiwa pun terjadi.
Greenpeace mencatat di Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara terdapat sekitar 94 ribu hektare lahan yang mayoritas digunakan oleh industri ekstraktif kelapa sawit. Hasilnya, bencana mendera daerah itu.
Jadi, pernyataan Presiden yang meremehkan deforestasi oleh sawit itu tak selaras dengan kenyataan. Apalagi, bila pernyataan itu didasari oleh keinginan mengambil keuntungan dari sawit.
Sebab Center of Economic and Law Studies (Celios) mencatat, bencana ekologis di Sumatera periode November 2025 mengakibatkan kerugian ekonomi sekitar 68,67 triliun rupiah. Dan yang harus diingat, bencana ini diakibatkan salah satunya oleh perkebunan sawit
Jadi, bagaimana pak Presiden?
Redaksi Energi Juang News



