Energi Juang News, Sukoharjo– Kasus penularan HIV/AIDS melalui hubungan sesama jenis atau lelaki seks dengan lelaki (LSL) kembali menjadi sorotan Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo pada 2025. Dari total 65 temuan kasus HIV/AIDS sepanjang tahun ini, sebanyak 16 kasus tercatat berasal dari kelompok LSL dan menempatkan kelompok ini sebagai salah satu penyumbang terbesar tren penularan.
Koordinator Yayasan Sahabat Sehat Mitra Sebaya (Yasema), Garis Subandi, menyebut pola penularan HIV di Sukoharjo sepanjang 2025 mengkhawatirkan karena kuatnya dominasi kasus dari kelompok LSL. Ia menilai maraknya aktivitas di media sosial dan aplikasi kencan memudahkan pertemuan instan yang membuka peluang perilaku seks berisiko tanpa komitmen, terutama di kalangan usia produktif.
Pada akhir September 2025, publik sempat heboh dengan ditemukannya sebuah grup Facebook beranggotakan ribuan akun yang berisi konten mengarah pada perilaku sesama jenis dan dinilai berpotensi memicu kontak berisiko. Kasus ini ikut menyita perhatian warga Solo Raya, termasuk di Kabupaten Sukoharjo, karena dikhawatirkan mendorong munculnya temuan kasus baru di kemudian hari.
Garis menjelaskan kelompok LSL cenderung tertutup dan eksklusif sehingga berbeda dengan kelompok berisiko tinggi lain seperti pekerja seks, waria, atau pengguna jarum suntik yang relatif lebih mudah dijangkau program kesehatan. Kondisi ini menyulitkan perluasan jangkauan voluntary counselling test (VCT) maupun edukasi pencegahan secara langsung kepada komunitas.
Yasema bersama Dinas Kesehatan Sukoharjo pun memperkuat pendekatan komunitas dengan meningkatkan sosialisasi, membuka akses layanan VCT yang lebih ramah, serta mengajak tokoh lokal berperan dalam menekan stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS. Di sisi lain, pemerintah daerah terus mendorong strategi “Tri Zero” yang menargetkan nol kasus baru, nol kematian terkait AIDS, dan nol stigma untuk mengejar target penanggulangan HIV/AIDS pada 2030.
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo, Tri Tuti Rahayu, menjelaskan bahwa perkembangan teknologi dan aplikasi kencan menjadi salah satu faktor yang mempercepat interaksi tanpa batas. Menurutnya, kemudahan mencari pasangan melalui gawai membuat sebagian pengguna abai terhadap penggunaan pengaman dan konseling kesehatan sebelum berhubungan seks.
Tuti menyebut aplikasi kencan banyak digunakan kelompok usia muda hingga dewasa yang mencari hubungan kasual, termasuk di dalamnya kelompok berisiko seperti LSL dan pekerja seks komersial. Ia menegaskan bahwa tanpa edukasi yang tepat, pola ini berpotensi mempertahankan bahkan meningkatkan tren penularan HIV di Sukoharjo meski layanan kesehatan terus diperluas.
Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo mengimbau masyarakat yang merasa pernah melakukan perilaku berisiko untuk segera memanfaatkan layanan tes HIV secara sukarela demi deteksi dini dan pengobatan yang lebih efektif. Warga juga diminta lebih kritis menyikapi konten di media sosial dan tidak mudah tergiring ke dalam grup tertutup yang mendorong praktik seksual berisiko tinggi.
Melalui momentum peringatan Hari AIDS Sedunia 2025, pemerintah daerah mengajak seluruh pihak memperkuat kolaborasi dalam edukasi, pendampingan, dan penghapusan stigma agar pengidap HIV/AIDS berani memeriksakan diri dan mengakses terapi.
Redaksi Energi Juang News



