Energi Juang News,Cilacap- Di sebuah kota kecil yang tenang, hiduplah Peni, siswi SMAdi Cilacap Jawa Tengah yang dikenal rajin dan dan berparas manis bagai gula gula. Hidupnya berjalan biasa saja sekolah, teman, dan mimpi sederhana hingga suatu hari semuanya berubah ketika ketemu Penyok di pasar malam jadi seperti sinetron komedi yang salah jam tayang.
Perkenalan yang berlanjut obrolan panjang dan menjurus rayuan gobal Penyok, membuat Peni klepek klepek. Peni akhirnya menjalin cinta dengan Penyok, pemuda setengah tampan setengah bikin mikir. Wajahnya pas-pasan, tapi percaya dirinya kebablasan. Penyok yang seorang pekerja di percetakan buku, majalah, koran, semua pernah lewat tangannya. Hubungan mereka berjalan setahun, penuh obralan janji diskon dan bonus berlimpah layaknya tukang obat di pasar malam, dan itu ditanggapi Peni dengan salah kaprah.
Peni yang sudah tergoda rayuan, mengiyakan apapun yang dilakukan Penyok diluar maupun didalam area privasi Peni. Itu dilakukan saat ada kesempatan, dimana Penyok ahli ‘nyetak’ kesempatan. Masalah muncul ketika Peni mendadak bodinya berubah, perut Peni yang membesar hasil Penyok yang rajin ‘Nyetak’ ke tubuh Peni. Dan Penyok yang mempunyai ‘cetakan’ yang selalu diasah sekaliber VR46. Kombinasi Penyok yang rajin minum ‘obat kuat penambah semangat’ dan Peni yang mengira pelajaran biologi itu cuma buat ulangan, akhirnya jadi paket komplit. Kabar itu sampai ke telinga Pak Jono, ayah Peni, dan suasana rumah langsung naik level panas.
Dengan suara menggelegar, Pak Jono bertanya,
“Siapa yang buntingin kamu?”
“Penyok pak, pacar saya, Pak. Yang kerja di percetakan,” jawab Peni lirih.
“Telepon dia sekarang. Bapak mau bicara,” perintah Pak Jono tanpa diskusi.
Tak lama, Penyok datang. Duduk kaku, keringat dingin menetes.
“Siapa namamu dan apa pekerjaanmu?” tanya Pak Jono.
“Nama saya Penyok, Pak. Kerja di percetakan,” jawab Penyok, yakin tapi salah fokus nahan gemetar.
Pak Jono langsung menodongkan pertanyaan utama,
“Kamu tahu anak saya hamil. Saya minta pertanggungjawaban!”
Penyok mengangguk cepat, lalu menghela napas panjang, seolah hendak presentasi proposal.
“Begini, Pak… Bapak kan tahu saya kerja di percetakan,” katanya serius. “Setiap ada yang saya cetak, itu bukan tanggung jawab saya. Kan sudah jelas tertulis di mana-mana: ISI DI LUAR TANGGUNG JAWAB PERCETAKAN.”
Jawaban Penyok membuat Pak Jono melotot. Ibu Peni menutup mulut. Peni menunduk, antara malu dan bingung. Logika Penyok meluncur mulus… ke arah yang sepenuhnya salah.
Pak Jono hanya bisa menggeram, seperti printer kehabisan tinta di tengah deadline. “Sialan kamu Penyok!!” mamnya pelan, ia berdiri dan bogem mentah bertubi tubi mendarat di muka Penyok. Kondisi wajah Penyok babak belur, ia berlari keluar rumah dan dikerubuti warga yang mendengar keributan itu.
Sontak …bukan nolongin warga malah ambi bagian jatak memberi bogem mentak ke sekujur tubuh Penyok. Datanglah Ketua RW setempat dan menenangkan warga.
Sejak hari itu, Penyok belajar satu hal penting: “hasil cetak” Penyok harus ditanggung dan dijawab, kalau enggak bisa dilempar ke catatan kaki, atau kaki Penyok yang cacat.
Redaksi Energi Juang News



