EnergiJuangNews,Jakarta- Dalam dunia seni, waktu adalah ujian paling jujur. Banyak karya bersinar terang lalu menghilang, sementara hanya sedikit yang mampu bertahan dan terus relevan lintas generasi. Bertahan puluhan tahun bukan sekadar soal popularitas, melainkan soal kemampuan beradaptasi, berdamai dengan perubahan, dan tetap setia pada identitas awal tanpa menjadi usang.
Perjalanan panjang itulah yang dijalani KLa Project. Terbentuk pada 1988, grup ini menjadi salah satu contoh langka band Indonesia yang mampu menua dengan anggun. Seperti anggur yang difermentasi perlahan, musik mereka tidak terburu-buru mengejar tren, tetapi matang melalui waktu dan pengalaman.
Formasi awal KLa Project terdiri dari Katon Bagaskara (vokal), Romulo Radjadin atau Lilo (gitar dan vokal), Adi Adrian (keyboard), dan Ari Burhani (drum). Nama KLa sendiri berasal dari inisial para personelnya—sebuah identitas yang sederhana, namun personal. Setahun setelah terbentuk, mereka merilis album perdana bertajuk KLa. Album ini langsung menancapkan fondasi kuat lewat lagu-lagu seperti “Rentang Asmara”, “Tentang Kita”, dan “Waktu Tersisa”.
Di awal 1990-an, ketika industri musik Indonesia tengah subur dengan band dan penyanyi pop, KLa Project tampil dengan karakter yang berbeda. Musik mereka terdengar puitis, atmosferik, dan cenderung kontemplatif. Album Kedua (1991) mempertegas identitas itu, terutama lewat lagu “Yogyakarta”, sebuah karya yang hingga kini masih menjadi penanda emosional bagi banyak pendengarnya.
Produktivitas mereka berlanjut dengan album Pasir Putih (1992), yang melahirkan hits seperti “Tak Bisa Ke Lain Hati” dan “Belahan Jiwa”. Namun, di balik kesuksesan tersebut, dinamika internal tak terhindarkan. Ari Burhani memilih mundur dari posisi drummer dan beralih peran sebagai manajer band. Keputusan ini menjadi ujian pertama bagi keberlangsungan KLa Project.
Dengan formasi tiga personel tersisa—Katon, Lilo, dan Adi—mereka justru semakin solid. Dua album berikutnya, Ungu dan Kelima, dirilis dan memperlihatkan eksplorasi musikal yang lebih matang. KLa Project juga merambah format akustik dan konseptual melalui album seperti KLakustik, Sintesa, dan Klasik. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak sekadar mengulang formula lama, tetapi berani mengolah ulang karyanya sendiri.
Perubahan besar kembali terjadi pada 2001 ketika Lilo memutuskan keluar. Katon dan Adi sempat melanjutkan perjalanan sebagai duo sebelum akhirnya mengajak personel baru pada 2003: Erwin Prasetya (eks Dewa 19), Yoel Vai, dan Hari Goro. Dengan formasi ini, mereka sempat menggunakan nama NuKLa dan merilis album New Chapter, dengan single andalan “Izinkan Ku Memuja”.
Periode NuKLa bisa dianalogikan seperti seseorang yang mencoba pakaian baru—tidak salah, tetapi belum tentu terasa pas. Setelah Erwin hengkang karena perbedaan visi, Katon dan Adi memutuskan kembali ke nama KLa Project. Pada 2009, lewat album KLa Returns, mereka kembali dengan formasi tiga personel awal: Katon, Lilo, dan Adi. Kepulangan ini terasa seperti lingkaran yang akhirnya tertutup dengan sempurna.
Meski masing-masing personel juga serius menjalani karier solo, KLa Project tetap dijaga sebagai rumah bersama. Album Exelentia (2010) dengan single “Hidup Adalah Pilihan” menjadi bukti bahwa mereka masih relevan dan reflektif. Lagu ini terdengar seperti dialog batin seseorang yang telah melewati banyak fase hidup—tenang, tetapi penuh makna.
Selama lebih dari tiga dekade, KLa Project telah merilis 9 album studio dan 6 album kompilasi, serta meraih 7 penghargaan BASF Award pada era 1990-an. Namun lebih dari angka dan piala, pencapaian terbesar mereka adalah keberhasilan membangun hubungan emosional dengan pendengarnya—yang mereka sebut sebagai KLanese.
Untuk merayakan 30 tahun perjalanan tersebut, KLa Project menggelar konser bertajuk Karunia Semesta pada 5 Desember di Jakarta Convention Centre (JCC), Plenary Hall. Konser ini bukan sekadar perayaan ulang tahun, melainkan ungkapan rasa syukur. Adi Adrian menyebut semesta sebagai faktor penting yang mengantarkan mereka bertahan hingga hari ini—sebuah pengakuan bahwa musik juga soal kerendahan hati.
Menariknya, meski telah lama berkarya, KLa Project masih terus menciptakan lagu baru. Tantangan zaman memang berubah; lagu-lagu baru mungkin tak seintens dulu diputar radio. Namun bagi KLa Project, berkarya adalah kebutuhan, bukan sekadar tuntutan pasar. Seperti menulis surat untuk diri sendiri, musik tetap dibuat meski tidak selalu dibacakan di ruang publik.
Dalam sejarah musik Indonesia, KLa Project adalah bukti bahwa konsistensi tidak harus keras dan berisik. Mereka memilih jalur sunyi namun dalam, membangun katalog lagu yang menemani pendengar dalam berbagai fase kehidupan. Dari cinta, kehilangan, hingga refleksi diri, musik mereka tumbuh bersama usia pendengarnya.
Tiga puluh tahun bukan waktu yang singkat. Namun bagi KLa Project, perjalanan ini tampaknya belum selesai. Selama masih ada nada yang ingin disampaikan dan kata yang ingin dirangkai, musik akan terus menemukan jalannya. Dan bagi para KLanese, setiap lagu baru selalu terasa seperti pulang—ke tempat yang familiar, hangat, dan jujur.
Redaksi Energi Juang News



