Selasa, Maret 3, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaGamelan dari Dasar Air Terjun Sri Gethuk

Gamelan dari Dasar Air Terjun Sri Gethuk

Energi Juang News, Yogyakarta- Kabut tipis menggantung di antara tebing karst saat sore merayap turun perlahan. Suara air jatuh terdengar seperti napas panjang alam yang tak pernah lelah. Jalur tangga yang menurun terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah setiap langkah menghapus suara dunia luar.

Seorang pemandu lokal bernama Bima memimpin rombongan kecil wisatawan yang ingin menikmati suasana sore. Ia berjalan paling depan, membawa lampu senter kecil meski cahaya matahari belum sepenuhnya hilang.

“Kalau kabut turun cepat, kita pulang sebelum gelap,” katanya santai.

Seorang pengunjung bertanya, “Memangnya berbahaya?”
Bima tersenyum tipis.
“Tidak berbahaya… kalau tidak sendirian.”

Rombongan akhirnya tiba di tepi Air Terjun Sri Gethuk yang menjulang anggun di antara tebing batu kapur Gunungkidul. Tiga aliran air jatuh berderai ke permukaan Sungai Oya yang berwarna kehijauan.

Keindahan itu terasa damai, namun suasana heningnya menekan.

Seorang wanita muda bernama Laras berdiri agak jauh dari rombongan. Ia menatap aliran air dengan ekspresi terpukau.

Tiba-tiba ia mengernyit.

“Kalian dengar?” tanyanya pelan.

“Dengar apa?” sahut temannya.

Laras menutup mata, mencoba memastikan.
“Ada suara musik…”

Rombongan terdiam. Di tengah gemuruh air, samar terdengar dentingan halus seperti alat musik yang dipukul perlahan.

Bima langsung menoleh tajam ke arah dasar air terjun.

“Sudah sore,” katanya cepat. “Kita naik sekarang.”

Namun suara itu semakin jelas. Bunyi gamelan lembut, berirama pelan dan tidak beraturan. Seperti dimainkan oleh tangan yang tidak terlihat.

Seorang pengunjung berbisik, “Tidak ada orang di bawah sana…”

Bima mematikan senter dan berbicara lirih, “Jangan sebut apa-apa. Jangan menunjuk.”

Saat rombongan mulai menaiki tangga, suara musik itu tiba-tiba berhenti. Hening kembali menyelimuti lembah.

Di atas tebing, seorang warga tua duduk di warung kecil. Ia memperhatikan wajah para wisatawan yang tampak pucat.

“Kalian dengar juga?” tanyanya datar.

Laras mengangguk pelan.
“Itu suara apa, Pak?”

Warga tua itu menghela napas.
“Penunggu tempat itu suka musik.”

Bima menunduk hormat sebelum berkata, “Masih sering terdengar, Pak?”

“Kalau kabut turun dan orang ramai mulai pergi… biasanya iya.”

Seorang pemuda bertanya dengan rasa penasaran, “Penunggu itu siapa?”

Warga tua itu menatap air terjun yang kini tertutup kabut.
“Yang menjaga keseimbangan di sana.”

Malam itu, Laras tidak bisa melupakan suara gamelan tersebut. Ia menginap di rumah warga untuk merasakan suasana desa lebih lama.

Sekitar pukul enam sore keesokan harinya, hujan turun sebentar lalu berhenti. Kabut kembali turun lebih tebal dari hari sebelumnya.

Dari kejauhan, suara musik terdengar lagi.

Tidak keras. Tidak dekat. Namun jelas.

Laras keluar rumah mengikuti suara itu menuju jalur tangga.

Di tengah jalan, ia bertemu seorang ibu yang membawa bunga.

“Mau ke bawah?” tanya ibu itu.

Laras mengangguk.

Ibu tersebut berkata pelan, “Kalau turun, lempar bunga ke air. Jangan bicara keras.”

“Kenapa?”

Ibu itu menatapnya lama.
“Supaya tidak diperhatikan.”

Saat mereka tiba di tepi air, kabut begitu tebal hingga tebing seolah menghilang. Suara gamelan terdengar lebih dalam, seperti datang dari bawah air.

Laras merinding.

Ia melempar bunga ke kolam, mengikuti gerakan ibu tadi.

Tiba-tiba suara gamelan berhenti.
Lalu terdengar satu nada panjang seperti tiupan alat musik.

Laras berbisik, “Siapa yang memainkan?”

Ibu itu menjawab tanpa menoleh,
“Yang tidak ingin dilihat.”

Beberapa detik kemudian, permukaan air beriak tanpa sebab. Tidak ada angin. Tidak ada batu jatuh.

Hanya riak kecil yang bergerak menuju tepi.

Laras mundur satu langkah.

“Sudah cukup,” kata ibu itu. “Kita pulang.”

Malamnya, warga berkumpul di rumah kepala dusun. Mereka membicarakan kejadian itu dengan tenang, seperti membahas sesuatu yang sudah biasa.

Seorang pria tua berkata, “Suara itu muncul kalau tempatnya terganggu.”

“Diganggu siapa?” tanya Laras.

“Orang yang datang tanpa hormat.”

Seorang pemuda menambahkan, “Dulu ada yang menantang suara itu… besoknya sakit keras.”

Bima yang ikut duduk di ruangan itu berkata pelan,
“Tidak semua suara ingin didengar manusia.”

Laras bertanya lagi, “Apakah benar ada penjaga di sana?”

Kepala dusun menatapnya dalam-dalam.
“Nama itu tidak sering disebut.”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan,
“Tapi orang tua kami mengenalnya sebagai Jin Anggo Menduro.”

Suasana ruangan menjadi sangat hening.

Keesokan pagi, Laras memutuskan meninggalkan desa. Namun sebelum pergi, ia berdiri sejenak menatap aliran air terjun dari kejauhan.

Tidak ada kabut. Tidak ada suara musik.

Hanya air yang jatuh tenang.

Namun ketika ia berbalik untuk pergi, suara dentingan gamelan terdengar sekali lagi—sangat pelan, seperti ucapan perpisahan.

Seorang warga yang berdiri di dekatnya berbisik,
“Kalau sudah pernah mendengar, biasanya akan diingat.”

Laras menoleh.
“Diingat oleh siapa?”

Warga itu tersenyum tipis.
“Tempat itu.”

Hingga kini, masyarakat setempat masih menjaga tradisi melempar bunga sebagai penghormatan. Mereka percaya keindahan alam dan dunia gaib di sana tidak bisa dipisahkan.

Dan setiap kali kabut turun menyelimuti tebing karst, suara gamelan kadang muncul… mengalun dari kedalaman air yang tak pernah benar-benar sunyi.

Bukan untuk menakuti.

Tetapi untuk mengingatkan bahwa ada wilayah yang tetap menjadi milik yang tak terlihat.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments