Energi Juang News,Aceh- Malam di Kampung Seri Purnama selalu terasa lebih sunyi dari desa lain. Terletak di pinggiran hutan kecil yang membentang hingga ke perbatasan lama, kampung ini menyimpan banyak cerita yang jarang diungkapkan kepada orang luar. Warga setempat percaya bahwa tidak semua tamu yang datang di malam hari adalah manusia.
Sudah menjadi kebiasaan di sana, setiap pintu rumah akan dikunci rapat menjelang larut malam. Bahkan lampu sengaja diredupkan. Bukan tanpa alasan, karena beberapa tahun terakhir, warga sering mendengar suara ketukan misterius di pintu mereka.
“Jangan pernah buka pintu kalau ada yang mengetuk lewat tengah malam,” pesan Mak Timah kepada anak gadisnya, Sari.
“Kenapa, Mak? Kalau itu tetangga?” tanya Sari polos.
Mak Timah menatap serius. “Kalau dia manusia, dia akan memanggil nama. Kalau tidak… berarti itu bukan orang.”
Suatu malam, angin bertiup pelan membawa udara dingin yang menusuk. Sari yang sedang sendirian di rumah mulai merasa gelisah. Ibunya belum pulang dari rumah saudara.
Tiba-tiba…
Tok… tok… tok…
Suara ketukan terdengar jelas dari pintu depan.
Sari membeku.
“Siapa?” suaranya lirih.
Tak ada jawaban.
Beberapa detik kemudian, ketukan itu terdengar lagi. Kali ini lebih pelan… tapi ritmenya teratur.
Tok… tok… tok…
Sari memberanikan diri mendekat ke pintu. Jantungnya berdetak cepat.
“Siapa di luar?” tanyanya lagi.
Dari balik pintu, terdengar suara perempuan yang sangat pelan dan serak.
“Kum… kum…”
Sari langsung mundur. Tubuhnya gemetar.
“Kum… kum…”
Suara itu kembali terdengar, lebih jelas, seperti seseorang yang berusaha mengucapkan salam… tapi gagal.
Ia teringat pesan ibunya.
Dengan napas tertahan, Sari berlari ke kamar dan mengunci diri.
Keesokan paginya, Sari menceritakan kejadian itu kepada warga.
“Itu dia… Kum Kum,” kata Pak Idris dengan wajah pucat.
“Benar kau dengar begitu?” tanya seorang pemuda.
Sari mengangguk cepat. “Suaranya seperti orang sakit… tapi menyeramkan.”
Mak Timah langsung memeluk anaknya. “Syukurlah kau tak buka pintu.”
Pak Idris lalu mulai bercerita.
“Dulu… Kum Kum itu manusia. Perempuan cantik yang takut kehilangan kecantikannya. Dia datang ke bomoh untuk minta ilmu hitam.”
Seorang warga lain menyela, “Saya pernah dengar cerita itu…”
Pak Idris melanjutkan, “Dia diberi syarat. Tidak boleh melihat wajahnya di cermin selama 30 hari. Tapi dia melanggar.”
“Apa yang terjadi?” tanya Sari pelan.
“Wajahnya hancur. Kulitnya melepuh. Sejak itu… dia mencari darah gadis muda untuk mengembalikan kecantikannya.”
Suasana mendadak hening.
Beberapa hari setelah kejadian itu, teror semakin sering terjadi.
Rumah demi rumah mulai mendengar ketukan yang sama.
Tok… tok… tok…
“Kum… kum…”
Suara itu selalu datang di waktu yang sama—tepat tengah malam.
Suatu malam, seorang gadis bernama Lina tidak mengindahkan peringatan.
“Ah, mungkin cuma orang iseng,” katanya.
Ketika pintu diketuk, ia langsung membukanya.
Warga yang tinggal di sebelah rumahnya mendengar suara jeritan.
“Tolooong!!”
Namun saat mereka datang, pintu sudah terbuka lebar… dan Lina menghilang.
Yang tersisa hanya bau anyir dan bekas seperti cairan gelap di lantai.
Kampung Seri Purnama berubah menjadi desa yang dipenuhi ketakutan.
Warga mulai berjaga setiap malam.
“Kita tak bisa biarkan ini terus terjadi,” kata Pak Idris dalam pertemuan warga.
Seorang lelaki tua, Tok Bomoh Karim, akhirnya dipanggil.
Ia duduk di tengah rumah, memejamkan mata, lalu berkata pelan:
“Dia masih di sini… belum puas.”
“Bagaimana cara menghentikannya?” tanya Mak Timah dengan suara gemetar.
Tok Bomoh menarik napas panjang. “Jangan buka pintu. Jangan jawab panggilannya. Dia hanya bisa masuk jika diizinkan.”
“Kalau sudah masuk?” tanya seorang pemuda.
Tok Bomoh menatap tajam. “Tak banyak yang bisa diselamatkan.”
Malam berikutnya, warga mengikuti semua petunjuk.
Lampu dimatikan. Pintu dikunci rapat. Tidak ada yang berani keluar.
Namun suara itu tetap datang.
Tok… tok… tok…
“Kum… kum…”
Kali ini terdengar lebih dekat… lebih jelas… bahkan seperti berpindah dari satu rumah ke rumah lain.
Sari yang berada di dalam kamar memeluk lututnya.
“Pergi… pergi…” bisiknya.
Tiba-tiba, suara ketukan itu berhenti tepat di depan rumahnya.
Sunyi.
Lalu…
Kreek…
Seperti ada sesuatu yang mencoba membuka pintu.
Sari menahan napas.
“Kum… kum…”
Suara itu kini terdengar tepat di balik daun pintu.
Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda.
Suara napas berat… dan seperti ada sesuatu yang menyeret di lantai.
Pagi harinya, warga menemukan bekas goresan panjang di pintu rumah Sari.
Seolah ada kuku tajam yang mencoba masuk.
Tok Bomoh melihat bekas itu dan berkata pelan, “Dia hampir berhasil.”
Sejak saat itu, tidak ada lagi warga yang berani meremehkan misteri hantu kum kum. Cerita ini bukan lagi sekadar legenda, tetapi kenyataan yang hidup di tengah mereka.
Beberapa keluarga bahkan memilih pindah dari kampung tersebut.
Namun sebagian tetap bertahan, dengan satu aturan yang tak pernah dilanggar:
Jangan pernah membuka pintu saat malam… terutama jika yang terdengar hanyalah satu kata—
“Kum… kum…”
Kisah ini menjadi pengingat bahwa dalam budaya Melayu, cerita mistis bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga peringatan. Di balik rasa takut yang ditimbulkan, tersimpan pesan tentang batas, kehati-hatian, dan konsekuensi dari rasa penasaran yang tak terkendali.
Dan hingga kini, di beberapa tempat yang masih sunyi dan gelap, konon suara itu masih terdengar…mengetuk perlahan…menunggu…dan mencari mangsa berikutnya.
Redaksi Energi Juang News



