Minggu, April 26, 2026
spot_img
BerandaEkonomi & BisnisHarga Emas Pekan Depan Berpotensi Rp 2,9 Juta

Harga Emas Pekan Depan Berpotensi Rp 2,9 Juta

Energi Juang News, Jakarta- Pergerakan harga logam mulia masih menunjukkan tren fluktuatif dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini dipicu berbagai sentimen global yang belum stabil, mulai dari geopolitik hingga kebijakan moneter negara besar.

Sejumlah analis menilai harga emas berpeluang kembali bergerak naik dalam waktu dekat, meski tetap dibayangi tekanan eksternal yang kuat.

Proyeksi Harga dan Level Pergerakan

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan harga emas pada pekan depan berada di kisaran Rp 2,8 juta hingga Rp 2,9 juta per gram.

Ia menjelaskan, pergerakan harga masih sangat bergantung pada faktor global. Di antaranya kondisi geopolitik, dinamika politik Amerika Serikat, kebijakan bank sentral, serta keseimbangan suplai dan permintaan.

Menurutnya, jika harga mengalami penurunan dari posisi penutupan akhir pekan lalu, levelnya bisa berada di sekitar US$ 4.651 per troy ounce atau setara Rp 2,8 juta per gram. Bahkan, harga dapat turun lebih jauh ke US$ 4.520 per troy ounce atau sekitar Rp 2,79 juta per gram.

Sebagai perbandingan, harga emas pada penutupan perdagangan Jumat lalu tercatat di level US$ 4.708,69 per troy ounce atau sekitar Rp 2.825.000 per gram.

Di sisi lain, potensi kenaikan juga terbuka. Harga bisa menyentuh US$ 4.779 per troy ounce atau sekitar Rp 2.865.000 per gram. Jika menembus level tersebut, emas berpeluang mendekati US$ 4.880 per troy ounce atau sekitar Rp 2,98 juta per gram.

Geopolitik dan Harga Minyak Jadi Pemicu

Ibrahim menyoroti negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran sebagai faktor penting. Upaya gencatan senjata yang difasilitasi Pakistan masih menyisakan ketidakpastian.

Iran disebut masih meragukan komitmen tersebut karena adanya ancaman serangan. Situasi ini diperparah dengan belum sepenuhnya dibukanya jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Baca juga :  Saham GOTO Anjlok, Isu Akuisisi Grab Jadi Sorotan

Penutupan jalur tersebut berdampak pada kenaikan harga minyak mentah dunia. Lonjakan harga energi kemudian mendorong inflasi global, yang pada akhirnya turut mengangkat harga emas.

“Penutupan Selat Hormuz membuat harga minyak terus naik dan berdampak pada inflasi,” ujar Ibrahim.

Kebijakan The Fed dan Permintaan Global

Dari sisi moneter, arah kebijakan Federal Reserve ikut memengaruhi pergerakan harga emas. Pergantian kepemimpinan bank sentral itu juga menjadi sorotan pasar.

Kevin Warsh dijadwalkan menggantikan Jerome Powell pada Mei mendatang. Transisi ini memicu spekulasi terhadap kebijakan suku bunga dan nilai tukar dolar AS.

Selain itu, permintaan emas dari negara-negara anggota BRICS juga meningkat. Negara seperti Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan disebut активно menambah cadangan emas mereka.

Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi ketidakpastian global yang berkepanjangan. Ketika harga turun, bank sentral negara-negara tersebut justru memanfaatkan momentum untuk meningkatkan cadangan.

Sementara itu, harga emas PT Aneka Tambang Tbk sepanjang April 2026 tercatat berfluktuasi. Berdasarkan situs resmi Logam Mulia, harga bergerak di kisaran Rp 2.805.000 hingga Rp 2.807.000 per gram, dengan level tertinggi mencapai Rp 2.922.000 per gram pada 2 April.

Redaksi Energi Juang News

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments