Energi Juang News, Jakarta- Partai Kecoak di India kini bergerak hingga ke jalanan. Partai bergambar kecoak yang terbentuk dari respons satire atas komentar pejabat India yang menyindir para pemuda itu bahkan menggelar aksi untuk menuntut mundur salah satu menteri di India.
Pada Rabu (22/7/2026), Partai Kecoak diinisiasi oleh seorang pria bernama Abhijeet Dipke (30). Idenya pria lulusan jurusan hubungan masyarakat dari Universitas Boston di Amerika Serikat ini muncul sebagai respons atas ucapan Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant.
Pada Mei 2026 lalu, Surya Kant memang sempat mengatakan dalam sidang terbuka bahwa “parasit” tengah menyerang sistem. Dia kemudian menyamakan kaum muda dengan kecoak “yang tidak mendapatkan pekerjaan dan tidak memiliki tempat dalam profesi apa pun”.”Ada kaum muda seperti kecoak, yang tidak mendapatkan pekerjaan atau memiliki tempat dalam profesi apa pun. Beberapa dari mereka menjadi media, beberapa menjadi media sosial, aktivis RTI dan aktivis lainnya, dan mereka mulai menyerang semua orang,” katanya.
Sindiran itu lantas direspons Abhijeet Dipke dengan membentuk Partai Janta Kecoak (“janta” berarti rakyat dalam bahasa Hindi). Partai tersebut pun semakin besar setelah diikuti oleh banyak muda India di media sosial.
Tak berhenti sampai di situ, partai tersebut kini menggerakkan massa untuk berdemonstrasi menuntut salah satu menteri mundur. Gerakan tersebut dimulai pada 6 Juni 2026 atau bertepatan Abhijeet Dipke pulang ke India usai menyelesaikan studi di AS. Dia langsung menuju kawasan Jantar Mantar di New Delhi yang menjadi tempat CJP menggalang aksi unjuk rasa perdananya.
Dalam momen itu, mereka menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan Federal, Dharmendra Pradhan, atas dugaan kegagalan dalam mencegah kebocoran soal ujian dan penyimpangan lain dalam ujian-ujian penting yang diikuti oleh kaum muda. Meski demikian, ada pihak yang menyebut unjuk rasa di New Delhi sebagai ‘sedikit antiklimaks’ karena diikuti kurang dari 2.000 orang. Dalam demo itu, Dipke mendesak Pradhan untuk mengundurkan diri paling lambat pukul 17.00 pada hari itu.
“Namun, ini tidak berakhir di sini. Dharmendra Pradhan telah merugikan seluruh generasi. Jika ia tidak dicopot atau tidak mengundurkan diri dalam tujuh hari ke depan, kami terpaksa akan melanjutkan aksi protes kami di lapangan,” tulis Dipke pada laman X, 7 Juni.
Saurav Das, juru bicara CJP, mengatakan aksi unjuk rasa di New Delhi itu berhasil menarik perhatian. Dia mengatakan CJP yang bukan organisasi resmi dan baru sebulan dibentuk telah membuat massa bergerak.
“Ada banyak tantangan dalam menggerakkan orang di lapangan. Kami bukan organisasi terdaftar atau serikat pekerja. Untuk memiliki struktur semacam itu, akan membutuhkan waktu. Begitu kami memilikinya, menggerakkan orang juga akan lebih mudah,” ujarnya.
Redaksi Energi Juang News



