Kamis, Juli 23, 2026
spot_img
BerandaInternasionalPemerintah Amerika Serikat Umumkan Kesepakatan Nuklir dengan Arab Saudi

Pemerintah Amerika Serikat Umumkan Kesepakatan Nuklir dengan Arab Saudi

Energi Juang News, Jakarta- Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengumumkan kesepakatan dengan Arab Saudi. Kesepakatan itu adalah untuk membangun program nuklir sipil di negara Wahabi tersebut.

Washington menegaskan bahwa perjanjian itu mencakup jaminan ketat terhadap jaminan nonproliferasi nuklir. Dilansir AFP, kesepakatan tersebut diumumkan pada Rabu (22/7/2026) waktu setempat.

Langkah ini diambil di tengah ketegangan antara Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump dengan Iran yang dipicu oleh kekhawatiran atas program nuklir Teheran-isu utama yang hingga kini membuat pembahasan damai menemui jalan buntu. Departemen Energi AS menyatakan terdapat dua perjanjian yang ditandatangani, yaitu kerja sama “penggunaan nuklir secara damai” dan “pengamanan bilateral”. Perjanjian tersebut ditandatangani langsung oleh Menteri Energi AS Chris Wright dan Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman.

Meskipun isi naskah perjanjian tidak langsung dipublikasikan secara penuh, Departemen Energi AS menegaskan pentingnya kemitraan tersebut.

“Bersama-sama, kedua perjanjian ini meletakkan landasan hukum bagi kemitraan bernilai miliaran dolar selama puluhan tahun yang memajukan beberapa tujuan ekonomi dan strategis prioritas, termasuk nonproliferasi nuklir,” demikian pernyataan Departemen Energi AS.

Laporan Wall Street Journal menyebutkan bahwa kesepakatan tersebut berpotensi membuka jalan bagi perusahaan-perusahaan AS untuk membangun fasilitas pengayaan uranium di Arab Saudi. Namun, pernyataan resmi Departemen Energi tidak menyebutkan ketentuan tersebut dan enggan memberikan komentar saat dikonfirmasi AFP. Kesepakatan ini selanjutnya akan diajukan ke Kongres AS untuk ditinjau. Kendati demikian, badan legislatif yang dikuasai Partai Republik tersebut diproyeksikan kecil kemungkinan untuk memblokir penerapannya.

Sebelumnya, para anggota parlemen AS dari kedua partai beserta pejabat Israel sempat menyuarakan penolakan terhadap proyek ini. Mereka mengkhawatirkan Arab Saudi kelak dapat mengalihkannya untuk mengembangkan senjata nuklir. Arab Saudi, sebagaimana Iran, telah lama menegaskan haknya untuk mengembangkan program nuklir sipil. Tahun lalu, Riyadh bahkan menandatangani pakta pertahanan bersama dengan Pakistan yang merupakan negara pemilik senjata nuklir.

Baca juga :  Aksi Massa Gen Z Landa Maroko, Menuju Revolusi?

Dalam beberapa tahun terakhir, Washington berupaya mengintegrasikan perjanjian nuklir ini ke dalam strategi geopolitik yang lebih luas, yaitu mendorong normalisasi hubungan diplomatik antara Arab Saudi dan Israel, seiring dengan penandatanganan pakta pertahanan AS-Saudi. Sebelumnya, Amerika Serikat telah menandatangani perjanjian nuklir dengan negara tetangga Arab Saudi, yaitu Uni Emirat Arab (UEA) pada tahun 2009, meski UEA disepakati tidak melakukan pengayaan uranium secara mandiri.Pada Mei lalu, sebuah drone sempat menghantam generator di dekat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Barakah milik UEA-satu-satunya fasilitas nuklir di dunia Arab-yang memicu kebakaran. Para pembuat kebijakan telah lama khawatir jika Iran berhasil memproduksi senjata nuklir, langkah tersebut akan memicu perlombaan senjata nuklir di seluruh kawasan Teluk.

Namun, Menteri Energi AS Chris Wright menepis kekhawatiran mengenai proliferasi tersebut. Ia menegaskan bahwa kesepakatan ini sepenuhnya demi kepentingan ekonomi dan strategis Washington. “Yakinlah, perjanjian ini menjunjung tinggi standar tertinggi keselamatan nuklir dan nonproliferasi, sekaligus mengandalkan teknologi serta ilmuwan nuklir terbaik dunia yang dirancang langsung di Amerika Serikat,” ujar Wright.

Kesepakatan AS-Saudi ini ditandatangani berdasarkan Bagian 123 (Section 123) Undang-Undang Energi Atom AS. Amerika Serikat sendiri memiliki perjanjian kerja sama nuklir serupa dengan lebih dari 50 negara, meski dengan cakupan yang bervariasi. Para pengamat dan ahli menilai kesepakatan ini sebenarnya telah dipersiapkan sejak lama. Namun, sejumlah pihak tetap menyoroti potensi risiko pengayaan uranium di tanah Arab Saudi. “Akan menjadi sebuah kesalahan jika mengizinkan Arab Saudi memiliki kemampuan pengayaan uranium,” ungkap Matthew Kroenig dari Atlantic Council dalam analisisnya sebelum kesepakatan diumumkan secara resmi. “Washington sudah tepat memperkuat hubungannya dengan Riyadh, tetapi tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan standar nonproliferasi senjata nuklir yang efektif,” lanjutnya.

Baca juga :  India Kecam Ayatollah Ali Khamenei, Mengapa?

Redaksi Energi Juang News

Hizkia Darmayana
Hizkia Darmayanahttps://energijuangnews.com/
Hidup Hanya Sekali, Maka Buatlah Berarti. Pimpinan Redaksi dari EnergiJuangNews.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments