Minggu, September 6, 2026
spot_img
BerandaSainsDibalik Gemuruh Anak Krakatau: Letusan Dahsyat 1883

Dibalik Gemuruh Anak Krakatau: Letusan Dahsyat 1883

Energi Juang News, Jakarta- Aktivitas Gunung Anak Krakatau terus meningkat. Kini Gunung itu terus mengalami erupsi dan berstatus Level III atau Siaga.

Erupsi menerus Anak Krakatau berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB hingga laporan dibuat pada Minggu (6/9/2026) pukul 00.31 WIB.

Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau makin meluas dan membuat AirNav Indonesia mengambil tindakan demi keselamatan penerbangan. Otoritas navigasi udara tersebut resmi memperbarui NOTAM terkait penutupan sementara ruang udara di tiga bandara sekaligus akibat masifnya sebaran abu vulkanik. Tiga bandara yang ditutup adalah Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Radin Inten II Lampung, dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta (WIII).

Gunung Anak Krakatau memang merupakan salah satu gunung api aktif yang berada di Selat Sunda, Lampung. Merujuk pada Badan Geologi Kementerian ESDM, gunung api tipe A ini tergolong muda karena tumbuh di dalam kaldera yang terbentuk setelah erupsi besar kompleks vulkanik Krakatau pada 1883.

Ya, pada Agustus 1883, Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus dahsyat. Letusan dahsyat Krakatau pada 26-27 Agustus 1883 menjadi salah satu erupsi paling mengerikan dalam sejarah nusantara, bahkan dunia.

Rangkaian ledakan dimulai sekitar pukul 13.00 pada 26 Agustus, sebelum mencapai puncaknya pada sekitar pukul 10.00 keesokan harinya. Ledakan tersebut melontarkan abu hingga sekitar 80 kilometer ke udara dan suaranya terdengar hingga Australia, ribuan kilometer dari Krakatau.

Dahsyatnya erupsi bahkan berdampak hingga skala global. Abu vulkanik membuat sebagian wilayah dunia mengalami kegelapan selama sekitar dua setengah hari, sementara suhu rata-rata global turun sekitar 1,2°C. Dampak atmosferiknya bahkan membuat pola cuaca tetap tidak normal selama beberapa tahun.

Letusan dahsyat Gunung Krakatau pada Agustus 1883 juga memicu tsunami besar yang menewaskan sekitar 36.000 orang. Air tsunami diperkirakan mencapai ketinggian pohon kelapa atau sekitar 30 meter.

Baca juga :  Pink Moon Muncul Malam Ini, Waktu Terbaik Melihat

Erupsi 1883 juga mengubah lanskap Selat Sunda. Dari kawasan kaldera Krakatau kemudian muncul Gunung Anak Krakatau, yang terus tumbuh melalui aktivitas vulkanik.

Aktivitas erupsi Anak Krakatau mulai tercatat pada 1927 atau hampir seabad lalu, ketika tubuh gunung masih berada di bawah laut. Dua tahun kemudian, pada 1929, tubuh gunung mulai muncul ke permukaan dan terus tumbuh melalui aktivitas vulkanik.

Sejak kemunculannya, Anak Krakatau memang berada dalam fase konstruksi atau membangun tubuh gunung. Pada September 2018, ketinggian tertingginya tercatat sekitar 338 meter di atas permukaan laut. Karakter erupsinya umumnya berupa letusan magmatik eksplosif lemah atau Strombolian, serta erupsi efusif berupa aliran lava.

Aktivitas kembali tercatat pada 20 Juni 2016, kemudian disusul letusan Strombolian pada 19 Februari 2017. Setahun berselang, Anak Krakatau memasuki periode erupsi panjang mulai 29 Juni 2018 yang berlangsung hingga akhir tahun.

Rangkaian aktivitas tersebut menunjukkan Anak Krakatau masih terus berkembang dan membangun tubuhnya. Karena aktivitas vulkaniknya dapat kembali meningkat setelah periode tenang, pemantauan terhadap kegempaan, deformasi, emisi gas, serta aktivitas permukaan menjadi penting untuk mengantisipasi potensi erupsi.

Sehingga, dengan sejarah aktivitas yang panjang sejak muncul ke permukaan pada 1929, Anak Krakatau hingga kini tetap menjadi salah satu gunung api aktif yang perlu diwaspadai di kawasan Selat Sunda.

Redaksi Energi Juang News

HD
HDhttps://energijuangnews.com/
Hidup Hanya Sekali, Maka Buatlah Berarti. Pimpinan Redaksi dari EnergiJuangNews.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments