Energi Juang News, Jakarta- Fenomena jambret yang menyasar ibu rumah tangga (IRT) memiliki keterkaitan erat dengan himpitan ekonomi yang sangat high risk, low return ( resiko nyawa, dapetnya receh).
Pelaku kejahatan jalanan ini bisa dilakukan oleh siapa saja. Tetapi kebanyakan, dilakukan oleh masyarakat di tingkat ekonomi bawah
Namun, namanya juga penjahat amatir yang modal nekat karena sudah lama nganggur dan perut lapar, taruhan nyawa digebuki warga pun dijalani..
Seperti dialami seorang ibu rumah tangga yang menjadi korban penjambretan hingga terjatuh dari sepeda motor dikawasan Tambun,Bekasi ini.
Korban harus kehilangan uang tunai serta telepon genggam, dan bonusnya korban terluka karena terjungkal setelah mencoba mempertahankan tas miliknya. Kejadian terekam kamera CCTV dan viral di media sosial.
Setelah Polisi melakukan pendalaman ,tak butuh waktu lama Penjambret berhasil diamankan.
Dari hasil intrograsi sementara diakui duo jambret ini telah melakukan beberapa kali perbuatannya dan diakui juga sering keluar masuk berita online.
Namun tak semua perempuan diam saja bisa jadi korban penjambretan. Di Tasikmalaya, Jabar, ada seorang mahasiswi bernama Citra yang mengejar jambret hingga menabrakkan motornya. Si pelaku pun babak belur dihajar massa yang sudah tersulut emosi.
Aksi jambret ini bisa dilakukan oleh siapa pun, tergantung niatnya dan situasi yang mendukung.
Namun dari beberapa kasus yang diungkap kebanyakan dilakukan oleh pengangguran atau tidak memiliki pekerjaan, alasannya butuh uang karena tidak ada kerjaan.
Tinggal bagaimana kita menghilangkan profesi jambret agar tak terjadi lagi, dimana saat ini lapangan kerja makin sempit dan kebutuhan yang menjepit.
Mau lamar kerja modal SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian), tapi isi SKCK-nya malah pengalaman kerja sebagai jambret.”
Redaksi Energi Juang News




