Energi Juang News, Jakarta— Keputusan mengejutkan datang dari Markas Besar TNI. Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto membatalkan mutasi Letjen Kunto Arief Wibowo, putra dari mantan Wakil Presiden RI ke-6, Jenderal (Purn) Try Sutrisno.
Sebelumnya, Letjen Kunto dijadwalkan untuk menempati posisi sebagai Staf Khusus Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD). Namun, dalam Surat Keputusan (SK) terbaru, ia kembali ditugaskan sebagai Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) I.
Kapuspen TNI, Brigjen Kristomei Sianturi, menjelaskan bahwa perubahan ini merupakan bagian dari dinamika internal TNI.
“Mutasi dan rotasi dalam tubuh TNI adalah hal yang rutin dan didasarkan pada kebutuhan organisasi serta hasil sidang Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti),” ujar Kristomei. Ia menegaskan bahwa keputusan ini tidak terkait dengan isu-isu eksternal yang berkembang.
Namun, keputusan ini menuai berbagai spekulasi. Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, menyatakan, “Mutasi yang dialami putra Try Sutrisno, Letjen Kunto, politis.” Ia menambahkan bahwa keputusan tersebut terkesan emosional dan tidak profesional.
“Padahal respons Prabowo sendiri tidak reaktif menganggap desakan itu sebagai aspirasi yang layak didengar. Artinya keputusan mutasi ini emosional dan tidak mendasar secara profesional,” tegasnya.
Dedi juga menyoroti pentingnya menjaga profesionalisme dalam tubuh TNI. “Sehingga Panglima TNI layak dikritik agar posisinya tetap terjaga secara proporsional dan tidak terpengaruh nuansa politis,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa penyegaran di kalangan elite militer perlu dilakukan oleh Presiden Prabowo. “Jangan sampai alat kekuasaan ikut berpolitik baik memengaruhi maupun dipengaruhi,” tambahnya.
Sebagai informasi, mutasi Letjen Kunto sebelumnya didasarkan pada SK Panglima TNI Nomor Kep/554/IV/2025. Namun, dengan adanya perubahan ini, Letjen Kunto kembali memimpin Pangkogabwilhan I, sebuah posisi strategis dalam struktur TNI.
Keputusan ini menunjukkan dinamika yang kompleks dalam tubuh TNI, di mana pertimbangan profesional dan politik seringkali saling berinteraksi.
Masyarakat berharap agar TNI tetap menjaga netralitas dan profesionalismenya dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan.
Redaksi Energi Juang News



