Energi Juang News, Jakarta— Ketika Donald Trump kembali menduduki Gedung Putih, reaksi sebagian warga Amerika Serikat mulai terasa nyata dalam gelombang niat untuk hengkang dari tanah kelahiran mereka.
Fenomena “kabur aja dulu” bukan lagi sekadar wacana; meningkatnya aplikasi visa dan paspor ke sejumlah negara Eropa menunjukkan bahwa rasa cemas terhadap masa depan politik Amerika semakin membesar.
Mengutip laporan Reuters, data dari delapan perusahaan relokasi internasional serta catatan resmi imigrasi negara-negara Eropa seperti Irlandia, Prancis, dan Inggris, menunjukkan lonjakan minat warga Amerika untuk pindah.
Permohonan paspor Irlandia dari warga AS melonjak hingga rata-rata 4.300 per bulan hanya dalam dua bulan pertama 2025—naik sekitar 60% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Di Prancis, permintaan visa jangka panjang dari warga Amerika mencapai 2.383 dalam kuartal pertama 2025, jauh meningkat dari 1.980 tahun sebelumnya. Inggris pun mencatat rekor aplikasi paspor tertinggi dalam dua dekade terakhir di kuartal akhir 2024.
Motivasi di balik gelombang minat pindah ini beragam, namun benang merahnya tetap sama: kekhawatiran akan kebijakan Trump dan arah politik yang dianggap makin membelah masyarakat.
Sejumlah perusahaan relokasi menyebut bahwa lonjakan permintaan sejak terpilihnya kembali Trump lebih tinggi dibandingkan dengan saat Joe Biden memenangkan pemilu pada 2020. Mereka yang proaktif mencari kehidupan baru di luar negeri mayoritas menyuarakan keprihatinan terhadap isu kebebasan sipil, hak-hak minoritas, serta kekerasan senjata yang tak kunjung terselesaikan di Amerika.
Thea Duncan, pendiri firma relokasi “Doing Italy” yang berbasis di Milan, mengaku menerima pertanyaan hampir setiap hari dari warga AS biasa. Mereka bukan pesohor atau figur politik, melainkan warga biasa yang merasa tak lagi aman atau nyaman.
Di Inggris, firma “Immigration Advice Service” mencatat kenaikan lebih dari 25% dalam permintaan konsultasi dari warga Amerika. Banyak di antaranya adalah pasangan sesama jenis yang khawatir akan pembatasan hak-hak mereka di bawah gelombang konservatisme yang kembali menguat.
Fenomena ini juga menyentuh kalangan selebritas. Nama-nama seperti Ellen DeGeneres dan Rosie O’Donnell mencuri perhatian media karena memutuskan meninggalkan AS usai Trump kembali menjabat. Wendy Newman, fotografer 57 tahun, telah pindah ke London sejak 2022 karena situasi politik yang memanas di AS.
Ia menyebut Inggris lebih menjamin hak-haknya sebagai perempuan dan sebagai ibu yang ingin melindungi masa depan putrinya. “Terlalu banyak risiko jika dia tetap tinggal di sana,” ujarnya.
Kekhawatiran yang sama juga dirasakan oleh warga kulit hitam. Blaxit, organisasi yang memfasilitasi migrasi warga kulit hitam Amerika ke luar negeri, mencatat lonjakan trafik lebih dari 50% ke situs mereka pasca pemilu.
Pendiri Blaxit, Chrishan Wright, menyebut keanggotaan komunitas berbayar mereka meningkat 20%. Wright, yang kini menetap di Portugal, yakin langkahnya tepat setelah melihat arah politik AS di bawah Trump.
Fenomena ini bukan semata pelarian. Ia adalah bentuk perlawanan diam terhadap iklim politik yang membuat banyak orang merasa tidak lagi memiliki tempat di negeri sendiri. Sebuah ekspresi keresahan sosial yang terus meluas dan mungkin menjadi cerminan krisis identitas yang lebih dalam di jantung demokrasi Amerika.
Redaksi Energi Juang News



